Sungkemkiai.com
kirim tulisan
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkemkiai.com
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

Muqsid Mahfudz Oleh Muqsid Mahfudz
26 Agustus 2025
A A
Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

Ilustrasi - Waria (Sumber: Pixabay)

Barangkali polemik LGBTQ+ hingga kini masih terus bergulir di antara legalisasi dan penolakannya sebagai nature. Diskusinya cukup alot, baik dalam Islam, atau bahkan dalam Sains itu sendiri.

Temuan di Amerika Serikat contohnya, Sara Reardon (2019) mengatakan jika dari satu setengah juta orang yang pernah diteliti, bukti genetika berpengaruh pada orientasi seksual justru hanya dalam skala kecil. Sehingga memang tidak bisa dipukul rata. Sebagian barangkali genetik, sementara sisanya bisa saja terpengaruh (ikut-ikutan).

Bukan problematik rasanya, jika tidak ada yang mencoba mencari jalan moderat. Suaibatul Aslamiah (2020) misalnya. Selain membedakan unsur alamiah dan kesengajaan, ia mencoba melihat Waria sebagai manusia yang sejatinya juga memiliki hak untuk tidak dicela, sebab posisi mereka di sisi Tuhan tidak ditentukan oleh manusia.

Aslamiah berangkat dari sebuah kisah yang disarikan dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali dan Risalah al-Qusyairiyah karya Imam al-Qusyairi, tentang seorang mukhannits (laki-laki berperilaku seperti perempuan) yang  mendapat pengampunan Allah lantaran semasa hidup ia telah bersabar atas hinaan orang terhadapnya. Namun jika ditelusuri, al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga malah banyak memberi kritik pada Waria.

Kritik al-Ghazali pada Waria

Dalam pembahasan tentang kesombongan dan Ujub, al-Ghazali mengatakan jika  setiap kenikmatan yang dirasakan manusia, cenderung akan diyakini sebagai sebuah kesempurnaan. Dan itu akan memicu seseorang untuk menjadi individu yang sombong dan Overproud.

Beliau memberi contoh sebagaimana seorang mukhannits yang merasa bahwa kemampuannya dalam meniru perilaku wanita, akan diyakini sebagai kesempurnaan. Bahkan malah berbangga diri, meski pada dasarnya itu tidak benar. 

Begitu juga dengan pemabuk dan seorang Cassanova, yang kadang mereka merasa bangga atas pengalamannya melakukan keburukan. Bahkan tanpa merasa, bahwa apa yang telah mereka lakukan, menyimpang dari Agama (1982:353).

Di tempat lain, al-Ghazali juga mengatakan, jika kondisi yang tidak kalah buruk dari bangganya penjudi, pembunuh dan semacamnya, adalah  seorang mukhannits yang benar-benar menyerupai wanita, baik itu dalam berdandan dan bergumul dengan para wanita. Yang kemudian dibangga-banggakan bersama sesamanya.

Kebanggaan dan melekatnya perilaku buruk dari seseorang, menurut al-Ghazali dikuatkan dari kebiasaan yang terus menerus dilakukan dalam kurun waktu yang lama. Hingga kemudian, alam bawah sadar mereka mulai menikmatinya, kemudian meyakini anggapannya, hingga semakin jauh dari Tuhannya (1982:59).  

Tidak hanya itu, saat menjelaskan tentang kejahatan lisan, al-Ghazali bahkan menggolongkan mukhannits sebagai individu yang boleh dighibah. Jika, perilaku mereka dilakukan secara terang-terangan (1982:153). Maksudnya, terbuka, sengaja, dan tanpa rasa malu atau rasa bersalah.

Memahami Waria yang Dirahmati Allah

Merujuk pada penjelasan Murtadha al-Zabidi dalam al-Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, dijelaskan jika cerita Waria yang dirahmati menunjukkan jika Allah memiliki kebijaksanaan penuh untuk memberi pahala yang besar, meski yang dikerjakan manusia hanya amal yang remeh atau sedikit.

Kisah tersebut sebenarnya juga berkaitan dengan kisah setelahnya, tentang do’a seorang Ulama (Ma’ruf al-Karkhi) untuk para pemabuk. Yang kebetulan, Ihya’ Ulumuddin dan Risalah Qusyairiyah  sama-sama menukil itu dari Ibrahim al-Athrus. 

Diceritakan bahwa Ma’ruf al-Karkhi justru berdoa agar para pemabuk yang dijumpai, diberikan kebahagiaan di Akhirat sebagaimana mereka berbahagia di dunia. Saat ditanya mengapa ia berdoa demikian, Ma’ruf al-Karkhi menjawab, bahwa jika mereka bahagia di Akhirat, maka itu artinya mereka telah bertaubat.  

Do’a unik itu menurut al-Zabidi merupakan implementasi atas kuatnya harapan pada kuasa Allah (Raja’), serta bentuk kehati-hatian (Khauf) pada hal yang berbau Dosa. Sekaligus sebagai upaya terbaik, untuk mengubah keburukan yang keberadaannya sudah tidak lagi bisa diubah melalui pengaruh atau aturan (2016:375).

Al-Zabidi juga menambahkan keterangan dari Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki, bahwa  pelaku maksiat pada hakikatnya masih berada dalam perlindungan Allah. Barang siapa menjaga perlindungan itu (tidak ikut serta membuka aib mereka), niscaya aibnya juga akan tetap terjaga. Namun jika tidak, maka akan sebaliknya.

Dijelaskan pula, bahwa seimbangnya Khauf dan Raja’ merupakan karakteristik dan akhlak dari seorang mukmin.  Artinya, dengan berprasangka baik pada Allah, niscaya kita akan mampu terus berbuat baik. 

Meski demikian, Al-Zabidi juga mengatakan jika hal itu tidak bisa dicapai kecuali oleh orang yang memiliki jiwa mulia, berilmu dan rendah hati (2016: 376). Memang kelihatannya sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin bukan?

Simpulan

Dari sini bisa diketahui, jika al-Ghazali justru lebih banyak mengkritisi fenomena Waria, bahkan ada yang lebih tegas dalam Ihya’ Ulumuddin.

Namun disebabkan dua kisah yang dibahas berada dalam bab Raja’, maka dalam sudut pandang itu juga bisa disimpulkan, bahwa tidak mendiskriminasi kalangan LGBTQ+ bukan merupakan pilihan yang salah seutuhnya. 

Maksudnya, alami atau tidak alaminya LGBTQ+, jika sudah tidak memungkinkan untuk mengubah mereka, kita bisa memasrahkan  itu pada Allah. Yakni dengan cara berdoa, agar mereka tidak terjerumus lebih jauh. 

Ini bukan berarti melegalkan perilaku mereka, apalagi dalam konteks unsur kesengajaan. Melainkan, sikap ini bisa menjadi jalan lebih damai, tanpa harus terjerumus pada dugaan-dugaan yang nantinya juga bisa keliru. 

Mengingat juga belum bisa dipastikan, bahwa semua individu dalam komunitas bersimbol pelangi itu, dilandasi unsur kesengajaan atau tidak. Termasuk belum bisa dipastikan, jika mereka melakukan kegiatan seksual atau tidak.

Rujukan

  1. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, V.3 (Beirut:Dar al-Ma’rifat:1982), 59, 153, &353.
  2. Murtadha al-Zabidi dalam al-Ithaf al-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulumuddin, V.11 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2016), 374-376.
  3. Sara Reardon, “Massive Study Finds No Single Genetic Cause of Same-Sex Sexual Behavior”, scientificamerican.com, 29 Agustus 2019.
  4. Suaibatul Aslamiah, “Apakah Karena Dia Waria, Lantas Boleh Dicela?”, islami.co, 18 Mei 2020.
Muqsid Mahfudz

Muqsid Mahfudz

Lahir di Pamekasan, Madura. Pernah kuliah di STAI Al Anwar Sarang Rembang.

POSTINGAN TERKAIT

Santri membentangkan bendera Merah Putih
Kolom

Hari Kemerdekaan ke-80: Momentum Santri Menyuarakan Amanah Rakyat

17 Agustus 2025
Jernih Menilai Polemik Tambang PBNU
Kolom

Jernih Menilai Polemik Tambang PBNU

18 Juli 2025
Ayat-Ayat Ekologi dalam Tafsir Hidayatul Qur’an
Kolom

Ayat-Ayat Ekologi dalam Tafsir Hidayatul Qur’an

27 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Discussion about this post

TERBARU

Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

26 Agustus 2025
Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

24 Agustus 2025
Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17

Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17

18 Agustus 2025
Santri membentangkan bendera Merah Putih

Hari Kemerdekaan ke-80: Momentum Santri Menyuarakan Amanah Rakyat

17 Agustus 2025
KH. Ahmad Mudjab Mahal

Menilik Dua Tafsir Khas Indonesia Karya KH. Ahmad Mudjab Mahalli Yogyakarta

16 Agustus 2025

PILIHAN EDITOR

Mengurai Teori Otoritas Religius

Mengurai Teori Otoritas Religius

Oleh Fathur Roziqin
23 Juni 2024

Seragam Drumband: Identitas, Estetika, dan Fungsi dalam Dunia Pertunjukan Musik Baris-Berbaris

Seragam Drumband: Identitas, Estetika, dan Fungsi dalam Dunia Pertunjukan Musik Baris-Berbaris

Oleh Admin
19 Agustus 2025

Mission: Impossible – Final Reckoning, Aksi Tanpa Henti yang Wajib Ditonton Semua Kalangan

Mission: Impossible – Final Reckoning, Aksi Tanpa Henti yang Wajib Ditonton Semua Kalangan

Oleh Admin
27 Mei 2025

7 Hikmah di Balik Perayaan Idul Adha

7 Hikmah di Balik Perayaan Idul Adha

Oleh Redaksi
10 Juli 2023

Tafsir Surah Al-Fatihah dalam Al-Ibriz dan Al-Iklil

Tafsir Surah Al-Fatihah dalam Al-Ibriz dan Al-Iklil

Oleh Akmal Khafifudin
5 Agustus 2025

  • Tentang
  • Kontak
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Pedoman Media Siber

© 2025 sungkemkiai.com - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah

© 2025 sungkemkiai.com - All Rights Reserved.