“Tak satupun yang berubah di hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan 30 tahun dalam menulis fiksi. Selama 10 tahun pertama, saya kuatir tentang uang dan tak seorangpun bertanya berapa banyak uang yang saya saya hasilkan. Dekade kedua saya menghabiskan uang dan tak seorangpun bertanya tentang itu.”
Kegelisahan di atas merupakan kata yang keluar dari mulut novelis terbesar Turki, Orhan Pamuk. Setidak-tidaknya pengarang novel Kar (2002) ini ingin menyadarkan banyak orang betapa menjadi penulis tidaklah mudah. Butuh waktu 30 tahun lamanya untuk mencatatkan namanya di deretan penulis terkemuka dalam sastra pasca-modernis. Butuh kisaran 20 tahun tertatih-tatih memperjuangkan hobinya.
Kok, saya langsung ingat ke KH. M. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Lirboyo. Dalam beberapa tempat dan kesempatan, ketika menjelaskan keberhasilan seorang tokoh, beliau menyarankan santri-santrinya untuk tidak melihat hasil yang mentereng dan gemilang saja, melainkan perlu juga menengok perjuangan dan proses perih yang menghantarkan seseorang kepada suatu tempat mulia.
Dalam konteks kehidupan Orhan Pamuk, berarti yang perlu dilihat —menurut Mbah Yai Anwar— adalah berapa lama dan betapa kuat penulis asal Turki itu menikmati hobinya. Biasanya ketika menceritakan kisah orang saleh dan hebat-hebat, Mbah Yai Anwar memungkasi dengan maqalah Arab:
أنظر في البداية ولا تنظر في النهاية
Lihatlah proses perjuangannya jangan (hanya) lihat endingnya saja.
Hamzah Sahal, selaku Direktur NU Online dan Founder Alif.id pernah mengisahkan bahwa dirinya sudah 20 tahun bergelut di bidang tulis menulis. Alih-alih melihat hasil yang ia dapat, saya malah bergumam dalam hati “Kok kuat lama-lama, ya?”. Ia pernah membuka lembaran kisahnya—tentang masa ketika tulisannya ditolak oleh sebuah platform. Luka batin itu tak segera sembuh; namun, dari sakit hati yang ia pendam, tumbuh tekad yang tak terbendung. Maka, lahirlah sebuah ruang yang ia bangun sendiri, tempat artikel dan esai berlabuh bernama Alif.id.
Memang selalu ada pelarangan dan penolakan bagi upaya peneguhan kreatifitas, larangan untuk menjadi apa saja. Hanya orang yang pernah terluka oleh kejamnya cinta, yang sanggup melahirkan sajak-sajak cinta abadi seperti Gibran.
Jika boleh jujur, saya sebenarnya lebih suka mendengar cerita orang lain perihal bapak yang dahulu adalah orang susah, ketimbang mendengar cerita ketika posisinya sudah mapan alias berhasil memondokkan anaknya belasan tahun lamanya. Dengan cerita perih yang menyayat hati -misal bapak pernah memiliki hutang di mana-mana sebab berkeinginan melanjutkan rihlah merantau di daerah orang- menjadikan diri ini setidaknya tidak leha-leha dan berayun kaki di atas penderitaan orang tua. Dengan cerita-cerita seperti ini saya bisa mengambil wisdom (untaian hikmah) bahwa perjuangan orang tua dalam proses mendidik dan menyekolahkan anak patut untuk diapresiasi.
Satu bait Arab yang sering dipotong dan diambil sarinya berkali-kali perihal keteguhan dan konsistensi adalah:
اَلْإِسْـتِقَـامَةِ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ # ثُبُــوْتُ الْكـَـرَامَةِ بـِدَوَامِ الْإِسْـتِقـَـامَةِ
Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga istiqamah (pepatah arab)
Mengingat Orhan Pamuk, KH. M. Anwar Manshur, Hamzah Sahal dan bapak sendiri yang berhasil di bidang dan posisinya masing-masing, kok saya berkesimpulan muaranya adalah istiqamah. Dengan tetap menghargai hasilnya, kita tetap harus mendulang hikmah dari perjalanan dan pengorbanannya.
Coba kita resapi sejenak Hadits Rasulullah saw:
مَنْ أَخْلَصَ لِلهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا تَفَجَّرَتْ يَنَابِيْعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
Barang siapa yang melakukan ‘ibadah dengan ikhlas selama 40 hari, maka muncul hikmah dari dalam hati melalui lisannya.
(HR. Abu Dawud)
Ini apabila istiqomah selama 40 hari, lalu bagaimana jika kita istiqomah menjalankan suatu pekerjaan sampai bertahun-tahun? pasti hikmah itu akan deras mengalir dari diri seorang penulis, pedagang dan pengajar. Jika tidak, maka bertanyalah kepada diri sendiri sudahkah kita istiqomah dalam profesi kita?
“Sebagai pengarang, saya meyakini menulis adalah perbuatan baik. Sebagaimana perbuatan baik lainnya, ia akan menghadapi godaan yang mencoba menggagalkannya setiap ia ingin ditunaikan. Oleh karena itu, saya akhirnya juga menyakini bahwa menulis itu berat. Sebab tak ada perbuatan baik yang mudah dilakukan. Sebesar keinginan saya untuk menulis dan menjadi penulis, sebesar itu pula upaya saya mencari alasan untuk tak melakukannya.”. Ini merupakan ucapan Mahfud Ikhwan -penulis buku Bek yang mengidolakan Orhan Pamuk-. Yang pada kesimpulannya adalah menulis merupakan hal yang tidak mudah namun harus dilawan dengan konsistensi penuh.
Meminjam semangat dari lirik lagu kebangsaan “17 Agustus” — “Sekali merdeka, tetap merdeka” — yang mengandung makna bahwa kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan pengorbanan harus terus dijaga dan dipertahankan dalam kondisi apa pun, saya pun harus mengatakan: sekali menulis, tetap menulis.













Discussion about this post