Dalam tradisi pesantren, belajar bukanlah aktivitas yang selesai ketika kitab khatam atau ketika seorang santri pulang dari pondok. Belajar adalah jalan panjang—bahkan seumur hidup—yang menuntut ketekunan, kerendahan hati, dan kesinambungan adab. Karena itu, dawuh KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, tentang keinginannya agar diakui sebagai santri Syaikhona Kholil Bangkalan, menyimpan makna yang jauh melampaui konteks historisnya. Ia adalah potret etos keilmuan pesantren yang menolak merasa “selesai”.
Abdul Karim dikenal sebagai ulama besar dengan pengaruh luas. Lirboyo tumbuh menjadi salah satu pusat keilmuan Islam terbesar di Nusantara. Namun, di balik kebesaran itu, terselip sebuah doa yang sangat membumi: agar ia tidak wafat sebelum mampu berpuasa bertahun-tahun seperti Mbah Khalil, dan agar ia diakui sebagai santri Syaikhona Kholil Bangkalan. Doa ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan dalam tradisi pesantren bukanlah prestasi lahiriah, melainkan kedalaman laku batin dan keterhubungan ruhani dengan guru.
Santri sebagai Identitas Ruhani
Dalam pandangan pesantren, santri bukan sekadar status administratif—bukan pula sekadar orang yang pernah duduk di hadapan guru. Santri adalah identitas ruhani yang ditandai oleh kesinambungan adab, keteladanan akhlak, dan kesetiaan pada manhaj keilmuan guru. Karena itu, keinginan KH. Abdul Karim untuk diakui sebagai santri menunjukkan kesadaran bahwa pengakuan sejati tidak datang dari manusia semata, melainkan dari kelayakan diri di hadapan Allah dan para guru.
Tradisi ini selaras dengan ungkapan para ulama klasik yang menekankan adab sebagai fondasi ilmu. Imam Malik pernah menasihati muridnya, Imam Syafi‘i, untuk lebih dahulu mempelajari adab sebelum ilmu. Bahkan dalam khazanah tasawuf dan pendidikan Islam, ditegaskan bahwa ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa penghormatan kepada guru. Dikatakan:
لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ
“Seseorang tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan mengambil manfaat darinya kecuali dengan memuliakan ilmu dan para pemiliknya.”
Maka, menjadi santri sejati bukan persoalan pernah belajar atau tidak, tetapi sejauh mana seseorang menjaga adab dan kesinambungan ruhani dengan gurunya.
Belajar yang Tidak Pernah Usai
Keinginan KH. Abdul Karim untuk terus belajar—bahkan setelah menjadi pendiri pesantren besar—menegaskan satu prinsip penting: dalam tradisi keilmuan Islam, tidak ada titik final dalam belajar. Ulama besar justru semakin merasa kecil di hadapan ilmu dan gurunya. Inilah makna sejati dari tawaduk ilmiah.
Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menegaskan bahwa kesombongan adalah salah satu penghalang terbesar keberkahan ilmu. Ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati justru menjauhkan seseorang dari hakikat kebenaran. Dalam konteks ini, doa KH. Abdul Karim adalah kritik halus terhadap kecenderungan merasa cukup—merasa telah sampai—yang sering menjangkiti penuntut ilmu di berbagai level.
Belajar, dalam perspektif pesantren, bukan hanya soal akumulasi pengetahuan, tetapi juga latihan menundukkan ego. Puasa panjang yang dicontohkan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan adalah simbol riyāḍah—penggemblengan diri—agar ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi meresap ke dalam laku hidup.
Sanad Ilmu dan Sanad Adab
Keinginan untuk diakui sebagai santri juga berkaitan erat dengan konsep sanad. Dalam tradisi Islam, sanad tidak hanya bermakna transmisi keilmuan, tetapi juga transmisi adab dan spiritualitas. Seorang murid boleh jadi memahami teks yang sama, tetapi tanpa sanad adab, ilmunya kering dan mudah disalahgunakan.
Pesantren menjaga kesadaran ini dengan sangat ketat. Karena itu, para kiai besar sering kali enggan menonjolkan diri sebagai “murid utama” atau “penerus sah”, melainkan justru terus menempatkan diri sebagai santri. Sikap ini bukan retorika, tetapi cermin kesadaran bahwa keberkahan ilmu lahir dari keterhubungan yang tulus dengan guru.
Dalam konteks inilah dawuh KH. Abdul Karim harus dibaca: sebagai penegasan bahwa sanad keilmuan tidak cukup diwarisi, tetapi harus terus dirawat melalui adab, riyāḍah, dan kerendahan hati.
Relevansi bagi Santri Hari Ini
Di tengah zaman yang serba cepat dan cenderung mengukur keberhasilan dari pengakuan publik, dawuh ini menjadi pengingat penting bagi santri dan penuntut ilmu masa kini. Gelar, popularitas, dan posisi sosial tidak serta-merta menjadikan seseorang matang secara keilmuan maupun spiritual. Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tuntutan untuk menjaga adab dan kerendahan hati.
Keinginan KH. Abdul Karim untuk terus belajar dan tetap menjadi santri adalah teladan bahwa ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk semakin menunduk di hadapan kebenaran. Belajar yang tak pernah usai adalah belajar yang melahirkan kesadaran akan keterbatasan diri.
Dawuh KH. Abdul Karim tentang keinginannya diakui sebagai santri Syaikhona Kholil Bangkalan adalah refleksi mendalam tentang makna belajar dalam tradisi pesantren. Ia mengajarkan bahwa menjadi santri adalah proses seumur hidup, bahwa ilmu sejati melahirkan tawaduk, dan bahwa pengakuan tertinggi bukan datang dari manusia, melainkan dari kelayakan diri di hadapan Allah dan para guru.
Dalam dunia yang gemar merasa selesai, pesantren justru mengajarkan untuk terus merasa belum pantas. Dan barangkali, di situlah letak keberkahan ilmu yang sesungguhnya.













Discussion about this post