Setiap kali bencana melanda, kita sibuk mencari kambing hitam; cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, ketidaksiapan pemerintah, dan seterusnya. Namun jarang sekali kita bertanya apakah semua ini sekadar fenomena alam, atau sebenarnya ada pesan yang terus kita abaikan?
Al-Qur’an tidak meminta kita menebak-nebak. Dia sudah menyampaikan prinsip dasarnya: kerusakan di darat dan laut bukan muncul begitu saja. Ada kontribusi manusia di dalamnya—dari perilaku, keputusan, hingga kelalaian kolektif. Karena itu, setiap bencana sejatinya bukan pesan kosong.
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ) سورة الروم
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Al-Rum [30]: 41)
Ayat diatas menggiring kita untuk sedikit berpikir; bahwasanya manusia – kita sendiri – adalah pemeran utama dalam kerusakan dan musibah yang terjadi di muka bumi ini. Allah Ta’ala memperlihatkan akibatnya sebagai bentuk konsekuensi dari tindakan manusia sendiri. Hal itu sengaja dibiarkan terasa bukan karena tidak ada tujuan – melainkan supaya manusia itu kembali sadar dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
Baik. Untuk menghilangkan anggapan yang salah dan sok tau, coba kita lihat bagaimana pandangan mufassir kontemporer; KH. M. Afifudin Dimyathi (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang) dalam karyanya Hidayatul Qur’an Fi Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an terhadap Q.S. Al-Rum [30]: 41, sebagai berikut;
(قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
وَالْمَعْنَى: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْقَحْطِ وَكَثْرَةِ الْأَمْرَاضِ وَالْأَوْبِئَةِ بِسَبَبِ اقْتِرَافِ النَّاسِ السَّيِّئَاتِ وَالْمَعَاصِي، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ﴾ [الشورى: ٣٠] : لِيُذِيقَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى جَزَاءَ بَعْضِ أَعْمَالِهِمُ السَّيِّئَةِ ابْتِلَاءً مِنْهُ وَاخْتِبَارًا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ عَنْ مَعَاصِيهِمْ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾ [الأعراف: ١٦٨].
Artinya: “Makna (Q.S. Al-Rum [30]: 41) : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, seperti kekeringan, banyaknya penyakit, dan beragam wabah, akibat perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia. Sebagaimana firman Allah: “Dan musibah apa pun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh apa yang dilakukan tangan kalian sendiri.” (Q.S. Asy-Syūrā [42]: 30). Tujuannya agar Allah membuat mereka merasakan balasan sebagian dari perbuatan buruk mereka sebagai ujian dan cobaan, supaya mereka kembali dari maksiat-maksiat mereka. Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami menguji mereka dengan nikmat dan kesempitan agar mereka kembali.” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 168).”
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa kitab ini menggunakan pola tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an – tafsir ayat dengan ayat – dan gaya tafsir ijmali. Sesuai dengan polanya, perlu beberapa ayat lain dalam membantu penafsiran Q.S. Al-Rum [30]: 41. Contohnya Q.S. Asy-Syūrā [42]: 30 datang untuk memperkuat penafsiran. Begitu juga Q.S. Al-A‘rāf [7]: 168 yang turut hadir dalam memperindah pola penafsiran.
Dengan memahami kerangka penafsiran yang saling menguatkan antar ayat tersebut, potret kerusakan yang dikisahkan ayat ini bukan sekedar catatan sejarah, tapi benar-benar gambaran hidup atas apa yang kita saksikan hari ini. Ketika banjir bandang dianggap terjadi karena hutan gundul, ketika polusi meningkat karena industri tidak terkendali, ketika sumber daya alam habis bukan karena kebutuhan, tetapi karena kerakusan—bahkan jika anggapan ini salah, manusia (pada umumnya) tetap menjadi aktor utama dalam peristiwa tersebut; entah dari perilaku, kebijakan, atau bahkan kejahatan lainnya—semua ini bukan sekadar fenomena alam, tapi inilah pola yang telah disebutkan Q.S. Al-Rum [30]: 41.
Renungan akan menjadi lebih terasa ketika dikorelasikan dengan Q.S. Asy-Syūrā [42]: 30, bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah cermin yang memaksa kita melihat apa yang selama ini kita tolerir: kelalaian, keserakahan, dan keputusan tanpa pertanggungjawaban. Alasannya jelas; karena manusialah penguasa di muka bumi ini.
Ketika mencapai puncak renungan pada Q.S. Al-A‘rāf [7]: 168, harusnya kita sadar bahwa ini semua ditetapkan atas dasar kebijaksanaan Allah Ta’ala dalam menjatuhkan konsekuensi kepada hamba-Nya, dan itu hanya sebagian balasan – belum semuanya. Tujuannya supaya manusia lebih jera, hati-hati dan bijak dalam berperilaku di atas bumi. Perilaku baik akan dipuji, dan yang buruk akan berakhir di jeruji. Ini semua bukan semata-mata menjadi pilihan, tetapi bagaimana mengubah cara kita memperlakukan bumi, keputusan yang kita buat, dan batas yang kita jaga.
Hikmahnya, kita harus menyadari diri kita terlebih dahulu saat melihat berbagai fenomena yang terjadi. Sibuk menilai orang lain justru akan membuat kita lalai dalam bermuhasabah. Wallahu A’lam.













Discussion about this post