Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

M. Arfan Ahwadzy by M. Arfan Ahwadzy
24 Februari 2026
A A
Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

Istilah thariqah dalam ilmu tasawuf barangkali sudah akrab di telinga masyarakat pesantren. Lazimnya, thariqah dimaknai sebagai jalan spiritual mendekatkan diri kepada Allah Swt., yang dilakukan melalui ibadah-ibadah tertentu. Contohnya zikir, riyadhah, dan amalan-amalan khusus dari seorang guru mursyid kepada muridnya. 

Dalam pengertian yang familiar, thariqah hampir selalu diekspresikan dengan ritual zikir dan olah batin. Namun sebetulnya, pemaknaan thariqah nyatanya tidak identik dengan ritual zikir saja. Pada salah satu kesempatan, penulis mencatat penjelasan KH. An’im Falahuddin Mahrus, yang oleh santri Lirboyo akrab disapa Abi An’im, ketika beliau menerangkan perjalanan spiritual Mbah Dim, yakni KH. Dimyati Rois. Kisah itu disampaikan tatkala beliau mengampu mata pelajaran tasawuf dengan kitab Mau‘izah al-Mu’minin di Ma’had Aly Lirboyo semester V–VI.

Tutur Abi An’im, Mbah Dim merupakan figur karismatik yang diangkat derajatnya hingga mencapai tingkatan ma‘rifah bukan semata karena banyaknya beribadah. Secara lahiriah, beliau menjalankan ibadah sebagaimana orang-orang pada umumnya. Tidak berlebihan juga tidak menampakkan keistimewaan yang mencolok. Tapi di balik itu, terdapat wazifah yang senantiasa istiqamah beliau lakukan, ibadah itu adalah ta’lim wa ta’allum.

Di titik usainya penuturan beliau, pemahaman penulis seolah diguncang. Seperti aneh, bahwa ada sebuah thariqah yang tidak dilakukan dengan banyaknya wirid juga tidak dengan menyepi bertahun-tahun. Dan ternyata thariqah semacam itu ada, yang dalam narasi Abi An’im, thariqah ta’lim wa ta’allum tidak bisa dinilai hanya sebatas kegiatan biasa. Guru menjelaskan dan murid mendengarkan. 

Di lingkungan Lirboyo sendiri, Ta’lim wa Ta’allum memang telah menjadi prinsip hidup yang diwariskan para masyayikh. Bahkan, KH. Mahrus Aly pernah ditanya mengenai thariqah yang beliau jalankan. Dengan jawaban yang sederhana, beliau jawab: Ta’lim wa Ta’allum. Sebuah jawaban yang bila direnungkan, dapat memberi kesimpulan bahwa ta’lim wa ta’allum memiliki arti yang dalam tentang upaya menuju Allah.

Boleh jadi, sebagian pembaca merasakan keraguan, sebagaimana yang juga sempat terlintas dalam benak penulis. Apakah mungkin aktivitas belajar dan mengajar diposisikan sebagai thariqah dalam pengertian sufistik? Namun kegamangan itu perlahan hilang manakala Abi An’im menjelaskan pesan dari guru beliau, Mbah Dim, bahwa Ta’lim wa Ta’allum merupakan salah satu perantara yang sah untuk menuju jalan ma‘rifah billah.

Agama mengenal konsep ma‘rifah billah sebagai puncak pengenalan seorang hamba kepada Tuhannya. Upaya menuju ma‘rifah tidak selalu harus ditempuh dengan zikir berjam-jam atau ritual-ritual yang berat. Cukup dengan ilmu, ketika dipelajari dengan tata krama juga diamalkan dengan ikhlas, dapat menjadi jalan menuju ma’rifah.

Setelah ditelusuri, landasan dawuh tersebut bersandar pada apa yang tertuang dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Abu Hamid al-Ghazali, yang menyatakan:

أَفْضَلُ مَا أُطِيعُ اللَّهَ بِهِ الْعِلْمُ

“Sebaik-baik sarana untuk menaati Allah adalah ilmu.”

Abi An’im melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa pada hakikatnya ilmu adalah nur (cahaya) yang tersembunyi. Ilmu tidak tampak secara kasatmata dan tidak pula dapat diukur oleh indikator lahiriah dalam arti tersimpan hanya di dalam hati (qalb). Sebagai statusnya nur, ketika semakin banyak ilmu seseorang, maka sebanyak itu pula cahaya terang-menderang menyinari sanubarinya.

Karena sifatnya yang tersembunyi, nur al-‘ilm (cahaya ilmu) berbeda dengan nur dari amaliah lahiriah tertentu, seperti dawamul wudhu. Jika seseorang dianugerahi keistiqamahan menjaga wudu, akan terpancar keteduhan wajah yang bisa dirasakan oleh mata yang memandang. 

Adapun cahaya ilmu tidak selalu demikian. Cahaya ilmu ga mesti identik dengan wujud ketampanan atau keelokan wajah seolah dihiasi kosmetik. Perubahan cara pandang, berpikir, dan bersikap, di posisi-posisi itu cahaya ilmu memberi pengaruh.

Karena itu, derajat keilmuan seseorang tidak mudah ditebak oleh pandangan umum. Hanya kalangan tertentu (al-khawash) yang dianugerahi kepekaan untuk mengetahui cahaya tersebut. Sebagaimana batu akik yang keindahannya tak dikenali sembarang orang, demikian pula cahaya ilmu: la ya‘rifuha illa al-khawash.

Dan cahaya itulah yang Allah Swt. anugerahkan kepada KH. Dimyati Rois, al-‘alim al-‘allamah az-zahid waliyyun min auliyaillah. Sebuah teladan yang dari beliau dipahami bahwa Ta’lim wa Ta’allum, bila dijalani dengan istiqamah dan keikhlasan menjadi thariqah yang menghantarkan seorang menuju puncak pengenalan kepada tuhan.

M. Arfan Ahwadzy

M. Arfan Ahwadzy

Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo, Kediri. Pegiat bidang kajian fikih-usul fikih, kajian siyasah, dan studi keislaman.

ARTIKEL TERKAIT

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital
Kolom

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

16 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis
Kolom

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid
Kolom

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi
Kolom

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali
Kolom

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama
Kolom

Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama

4 Januari 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

24 Februari 2026
As-Siroj Al-Munir, Karya Ulama Alexandria yang Serasi Dengan Suasana Keislaman di Madura

As-Siroj Al-Munir, Karya Ulama Alexandria yang Serasi Dengan Suasana Keislaman di Madura

24 Februari 2026
Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

16 Februari 2026
KH Abdul Karim

Belajar yang Tak Pernah Usai: KH Abdul Karim dan Keinginan Diakui sebagai Santri Syaikhona Kholil Bangkalan

15 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.