Tidak asing kita mendengar orang yang lebih memilih menyendiri ketimbang berada dalam keramaian, atau boleh jadi kita sendiri yang demikian, merasa lelah menjalankan keramaian hidup dengan segala hirup-pikuknya. Pada kondisi ini, hanya ada dua pilihan: tetap melangkah sembari menanggung pahitnya hidup dan mengabaikan penilaian orang lain, atau justru pergi dan memilih mengasingkan diri.
Mengasingkan diri dari manusia dikenal dalam islam dengan sebutan ‘uzlah, di mana para ulama mengartikannya sebagai sikap menjauhkan ketergantungan diri dari manusia karena untuk memokuskan pada dirinya sendiri. Tidak memilih menjadi masyhur di hadapan khalayak umum, karena baginya mencari ridha manusia tak akan pernah usai.
Mengasingkan diri dengan demikian menjadi semacam perenungan untuk merawat diri di tengah tekanan zaman yang melelahkan. Namun perlu dicatat, tujuan yang tidak patut adalah dengan mengasingkan diri, seseorang merasa lebih baik dari pada yang lainnya. Sebab semua bertolak pada satu hal, yakni hati.
Generasi saat ini tumbuh dalam dunia yang penuh tuntutan, disadari ataupun tidak. Standar suskes tampak setiap hari melalui layar gadget. Pencapaian orang lain tampil tiada henti. Perbandingan sosial sulit sekali dihindari.
Pada situasi seperti ini, ‘uzlah dapat dimaknai sebagai ikhtiar menata ulang arah hati di tengah derasnya arus ekspektasi berlebihan orang lain. Bukan bentuk lari dari kenyataan. Atau ungkapan lainnya seperti ruang jeda dari tekanan sosial yang terus membisikkan standar-standar keberhasilan. Pada akhirnya, kesunyian yang dipilih secara sadar itu membantu seseorang kembali membuka mata bahwa mengejar pengakuan manusia adalah jalan tak bertepi.
Sejalan dengan itu, sejarah telah mencatat sebuah kisah tentang sosok yang semasa hidupnya jauh dari keinginan untuk menjadi masyhur (khumul), namun setelah kematiannya, ia menjadi figur yang menjadi panutan banyak orang. Ada juga sosok yang khumul semenjak hidup hingga kematiannya.
Dicontohkan seperti Uwais al-Qarni, selama masa hidupnya, tidak ada hal lain yang dilakukan kecuali ibadah, disamping juga mengurus ibunya yang telah tua renta. Begitu pun saat ia wafat. Karena lupa diberi patok oleh muridnya, kuburnya hilang, tak ada siapa pun yang mengetahui dimana ia dikebumikan.
Jika sejarah itu ditarik pada upaya berbenah diri melalui kesunyian, terlihat bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari apa yang tersorot. Sebab, hal itu juga bisa dilakukan dari ketulusan yang tidak tampak dalam arti tidak ada satu pun yang mengetahui. Apa yang tidak diketahui oleh mata manusia, boleh jadi bernilai tinggi di hadapan Tuhan.
Benarlah memang mengasingkan diri pada satu kondisi menjadi upaya yang baik, di mana seseorang fokus membenahi kualitas diri. Tapi pada saat yang sama, bagi seseorang yang berkewajiban menyebarkan ilmu, ada amanah lain yang yang harus ditunaikan: berkhidmah kepada masyarakat.
Dalam muqaddimah kitab Hujjah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, KH. Ali Ma’shum mengutip sebuah dalil tentang kewajiban bagi para ulama untuk menampakkan ilmunya di setiap zaman, termasuk di dalamnya adalah menghasilkan berbagai karya ilmiah untuk membantah, meluruskan, dan menjernihkan berbagai fitnah, Beliau menukil sabda Nabi yang berbunyi:
إِذَا ظَهَرَتِ الْفِتَنُ أَوِ الْبِدَعُ وَسُبَّ أَصْحَابِي فَلْيُظْهِرِ الْعَالِمُ عِلْمَهُ، فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، وَلا يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُ صَرْفًا وَلا عَدْلا
“Apabila fitnah-fitnah telah tampak, atau bid‘ah-bid‘ah bermunculan, dan para sahabatku dicela, maka hendaklah seorang alim menampakkan ilmunya. Barang siapa tidak melakukan demikian, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Dan Allah tidak akan menerima darinya amalan wajib maupun amalan sunnah (tebusan apa pun dan pengganti apa pun).”
Lagi-lagi pada intinya semua kembali pada pilihan yang penulis nyatakan di awal: tetap melanjutkan hidup sembari menanggung pahitnya kehidupan, atau justru pergi dan memilih mengasingkan diri. Maka di persimpangan ini, apakah kita akan tetap berdiri dan memperbaiki diri, atau memilih pergi dan menjauh dari kenyataan?
Abi An’im berkisah tentang Lukman al-Hakim, salah seorang tokoh masyhur yang hidup di zaman Nabi Daud a.s., suatu ketika pernah bersama putranya berpergian dengan menunggang seekor keledai. Pada saat itu, Lukman berada di atas keledai sementara putranya berjalan kaki sambil memegang tali kendali.
Sesaat selama perjalanan, masyarakat terheran-heran, saling gerutu, mengkritik dan memberi persepsi miring atas apa yang dilihatnya. Lukman yang mengetahui apa yang diasumsikan lalu mempersilahkan kepada putranya naik ke atas keledai.
Berselang sebentar, bertemulah kembali beliau bersama putranya dengan kafilah lain dan saat mereka saling berpapasan, Lukman juga melihat raut wajah semrawut dari mereka, seolah mengisyaratkan komentar berupa pertanyaan: Anak siapa dia? Teganya membiarkan orang tuanya berjalan kaki sedangkan ia menunggang kendaraan?
Sama seperti sebelumnya, selepas dari itu, naiklah Lukman bersama putranya menunggangi keledai dan melanjutkan kembali perjalanan.
Namun, alih-alih menghindari cibiran, nyatanya kritik masih tetap didapati Lukman, di mana ketika beliau berdua sedang menaiki keledainya, seorang menegur dan mencemooh bahwa keledai yang ditungganginya amatlah kecil, tidak layak untuk dinaiki oleh dua orang.
Lukman yang hanya diam, tidak menanggapi, pada akhirnya turun mengajak putranya untuk bersama-sama berjalan kaki, seraya mereka sama-sama memegang tali ikat si keledai. Bilamana setelah itu akan ada orang kembali mencibirnya, tekadnya telah bulat, tidak akan terpengaruh, mendengarkan, dan lebih memilih menghiraukannya.
Mencermati kisah yang disampaikan KH. An’im Falahuddin Mahrus di atas bahwa seluruh dari kita tidak akan pernah terlepas dari kritik orang lain, yang boleh jadi kritik itu membangun atau justru malah menjatuhkan.
Berpegang teguh pada keputusan yang telah dipertimbangkan matang, selama tetap berada dalam koridor agama, jauh lebih bijak daripada sibuk mengejar keinginan manusia yang tak pernah mengenal batas. Inilah yang sekaligus menjadi penjelas atas maqalah yang dicatat dalam buku harian KH. Mahrus Aly, yang sebagaimana disampaikan oleh Abi An’im, merupakan prinsip hidup beliau, saat mengutip pesan berbunyi:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَاشْتِغَالُ الْمَرْءِ بِإِصْلَاحِ نَفْسِهِ أَوْلَىٰ
“Keridaan manusia adalah tujuan yang tak akan pernah dapat diraih secara tuntas, sehingga menyibukkan diri dengan memperbaiki diri sendiri itu lebih utama.”













Discussion about this post