Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Jeritan Alam dan Dosa Keserakahan Manusia: Telaah Pemikiran Sayyed Hosesein Nasr

Adzin Aris Aniq Adani by Adzin Aris Aniq Adani
14 Desember 2025
A A
Jeritan Alam dan Dosa Keserakahan Manusia: Telaah Pemikiran Sayyed Hosesein Nasr

Ilustrasi banjir di Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh. (Sumber: acehtimes)

Saat kita melihat gelombang air yang dipenuhi batang-batang pohon membanjiri Aceh, seakan-akan air itu hendak memberitahukan kepada kita, “Jangan salahkan kami bila rumah kalian, masa depan kalian, bahkan nyawa orang-orang yang paling kalian sayangi harus tandas; tapi salahkan mereka yang telah menebang pohon-pohon ini.”

Alam bukan benda mati. Ia hidup. Bahkan menghidupi kita, manusia. Tampaknya kita tidak ragu dengan hal ini. Air, udara, tanah, dan elemen-elemen lain adalah sumber kehidupan bagi kita manusia, yang lahir dari rahim alam; bukan dari tangan kotor kita.

Di masa kecil kita, orang-orang tua kita telah banyak mewariskan kearifan mahal tentang betapa agungnya alam. Dahulu, mereka sering “mendoktrin” kita bahwa hutan, gunung, dan laut adalah tempat sakral. Dengan sangat naif, sewaktu kecil, kita mengamini doktrin ini dan benar-benar melihat tempat-tempat itu sebagai rumah bukan hanya flora dan fauna, tapi juga makhluk-makhluk tak kasatmata.

Namun hari ini, kesakralan itu hilang. Hutan, gunung, dan laut menjadi pasar bebas bagi mereka yang tidak cukup puas hanya dengan makan tiga kali sehari. Dengan kata lain, alam dilihat sebagai sumber pemuas keserakahan yang tidak berujung.

Keserakahan: Sumber Utama Krisis

Dalam psikologi Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk yang cukup unik. Karena mereka bukan hanya diberi akal pikiran, tapi juga nafsu dan syahwat. Posisi akal menjadi krusial karena manusia dituntut untuk memprioritaskan apa yang dikatakan akalnya, ketimbang menuruti apa yang diperintahkan nafsu dan syahwatnya.

Keserakahan biasa dipahami sebagai sebuah dorongan yang muncul dari nafsu dan syahwat. Keserakahan bisa dipahami sebagai ketidakpuasan atas apa yang sebenarnya sudah cukup bagi manusia.

Dalam konteks krisis lingkungan, proyek-proyek eksploitatif terhadap alam adalah wujud keserakahan manusia. Keserakahan ini termanifestasi dalam proyek-proyek yang diinisiasi oleh para kapitalis yang menggandeng otoritas pemerintahan agar mendapat legalitas. Seperti penggundulan hutan dan pengeboran perut bumi.

Mereka yang tunduk pada nafsu keserakahan akan menutup mata dari ratusan nyawa yang mati karena ulah proyek mereka. Bagi mereka, ratusan nyawa itu hanya angka, tak lebih. Yang membuat mereka pusing bukan nyawa-nyawa itu; tapi bagaimana megaproyeknya tetap eksis demi memenuhi penyakit hati yang hanya bisa disembuhkan dengan terus-menerus menuruti apa yang diperintahkan nafsu.

Revolusi Industri, Teknologi, dan Krisis Lingkungan

Dalam Man and Nature (ABC International, 1997), Sayyed Hossein Nasr menjelaskan bahwa krisis lingkungan kontemporer yang telah menimbulkan banyak masalah kehidupan, tidak bisa kita pisahkan dari peristiwa Revolusi Industri pada abad ke-17 dan perkembangan teknologi sebagai perpanjangan dari revolusi itu.

Menurut Nasr, krisis lingkungan yang dialami manusia di abad ke-21 ini sebenarnya merupakan rentetan episode yang berawal dari Revolusi Industri pada abad ke-17 di Eropa—tepatnya di Inggris dan beberapa daerah di Jerman dan New England. Namun, karena industrialisasi pada saat itu hanya terjadi di beberapa wilayah dan dalam skala kecil, dampaknya terhadap lingkungan tidak begitu dirasakan.

Barulah ketika industrialisasi terjadi di berbagai negara pada dekade-dekade selanjutnya, wajah dunia mulai berubah. Udara tak sesegar sebelumnya, air sungai tak sejernih biasanya, dan hutan tak sehijau seperti ketika kita melihatnya di usia pra-baligh.

Nasr melihat perbedaan signifikan cara manusia memperlakukan alam pada masa sebelum dan sesudah Revolusi Industri. Ia menuturkan, “di dalam masyarakat tradisional, alam dipandang sebagai ‘ibu’, tetapi Barat Modern mengubahnya menjadi ‘pelacur’.”

Refleksi dan Harapan di Tengah Puing

Pernyataan tajam Nasr menyimpulkan inti dari permasalahan kita: Hilangnya rasa sakral dan beralihnya paradigma dari alam sebagai Ibu (Istri) menjadi sekadar sumber daya yang dieksploitasi (Pelacur). 

Bencana alam seperti air bah yang menerjang Aceh adalah surat peringatan paling brutal yang dikirimkan alam. Ini bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi; ini adalah krisis moral, krisis spiritual, dan krisis kemanusiaan yang berakar pada penyakit hati yang kita sebut dengan istilah “keserakahan.” 

Dengan demikian, kita harus bertanya: Apakah keuntungan materi sesaat sebanding dengan lenyapnya masa depan generasi mendatang dan nyawa orang-orang yang kita cintai?

Adzin Aris Aniq Adani

Adzin Aris Aniq Adani

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Raden Mas Said, Surakarta

ARTIKEL TERKAIT

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis
Kolom

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid
Kolom

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi
Kolom

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali
Kolom

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama
Kolom

Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama

4 Januari 2026
NU, Tambang Batu Bara dan Energi dari Neraka
Kolom

NU, Tambang Batu Bara dan Energi dari Neraka

24 Desember 2025

Discussion about this post

BACA JUGA

KH Abdul Karim

Belajar yang Tak Pernah Usai: KH Abdul Karim dan Keinginan Diakui sebagai Santri Syaikhona Kholil Bangkalan

15 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
Rajab dan Seni Merawat Makna

Rajab dan Seni Merawat Makna

15 Januari 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.