Hari raya nyaris menjadi kesempatan untuk saling bertatap muka antar sesama umat islam. Tepat di bulan Syawal, hampir setiap muslim bersilaturahim bersama keluarga masing-masing, yang nyatanya tanpa terasa, silaturahim acapkali berubah menjadi tempat menyampaikan kesan-kesan yang tak selalu nyaman didengar. Di antaranya yang membuat geram adalah membanding-bandingkan standar sukses seseorang.
Hal seperti ini kerap kita dengar, termasuk dari kisah yang disampaikan seorang teman santri kepada saya. Upaya membanding-bandingkan standar sukses mulanya diungkapkan melalui pertanyaan-pertanyaan ringan. Contoh, pertanyaan tentang tempat dan posisi kerja, gaji, atau status hidup yang mana itu muncul hampir di setiap pertemuan.
Sekilas memang terdengar biasa, tetapi tak jarang hal tersebut berujung pada penilaian kesuksesan. Siapa yang lebih berhasil, siapa yang tertinggal.
Di sinilah masalahnya muncul, yakni saat pertanyaan-pertanyaan tersebut bergeser menjadi sudut pandang yang mengindikasikan terasa seperti penilaian. Ketika ada yang sudah mendapat pekerjaan dianggap telah mapan sementara yang belum dianggap gagal. Ketika setiap yang menikah seakan lebih unggul. Ketika setiap yang mendapat posisi strategis di mata publik adalah yang dielu-elukan.
Perlu diketahui, sungguh sebetulnya realitas hidup manusia jauh lebih kompleks. Setiap orang hidup dalam kondisi yang berbeda. Latar belakang keluarga, akses pendidikan, dan peluang tidak pernah sama antara satu dengan yang lain.
Terkhusus pada faktor latar belakang keluarga, keluarga konglomerat cenderung menganggap anaknya sukses ketika bisnisnya untung besar. Keluarga religius sering memandang anaknya sukses dari keberhasilan menghafal dan memahami ilmu-ilmu agama. Keluarga selebritas melihat kesuksesan bilamana anaknya dari pencapaian di layar, seperti jadi bintang film memukau. Sementara keluarga akademisi kerap menilai sukses dari capaian pendidikan, misalnya memperoleh beasiswa di kampus luar negeri.
Maka dari itu, membandingkan capaian hidup sudah semestinya tak perlu diungkapkan. Lihat saja dalam khazanah islam, penilaian seseorang tidak diposisikan hanya pada satu sisi saja, lalu menafikan sisi lainnya. Hadis Nabi Saw. misalnya, yang menyampaikan secara substansi bahwa orang yang berhasil bukan yang tidak pernah gagal, tapi dia yang mau berbenah diri saat jatuh. Mengejawantahkan secara luas sabda Beliau yang berbunyi: “Kullu banī adama khaṭṭā’un wa khayru al-khaṭṭā’īn at-tawwābūn.”
Dalam perspektif Sayyidina Ali, sukses itu di saat seseorang memiliki ilmu, bukan harta. Nalarnya ialah didasarkan bahwa kekayaan sebanyak apapun akan lenyap, berbeda dengan ilmu yang setiap disampaikan akan terus bertambah dan bertambah.
Demikian ini tanpa turut menafikan pandangan lain dari az-Zarnuji yang tetap mengakui aspek material dalam arti kekayaan, bila berada di tangan orang yang tepat. Hal itu karena Kekayaannya dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan bersama. Secara eksplisit, beliau mengatakan:
فَنِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta itu adalah yang berada di tangan orang baik.”
Masyayikh Lirboyo, KH Mahrus Aly pun berpesan agar unggul dalam bersosial, seperti disampaikan salah satu Mudir Ma’had Aly Lirboyo, Agus H. M. Dahlan Ridwan saat pembekalan khidmah Mahasantri Semester V (08/01/2026) dawuh KH. Mahrus berbunyi “Kun ‘inda an-nāsi rajulan mina an-nās” (Jadilah orang terhormat yang sesuai dengan adat masyarakatnya), ungkapan yang searah dengan Gus Mus bahwa baik secara ritual saja tidak cukup, juga perlu baik secara sosial. Gagasan beliau terangkum tegas dalam judul bukunya: “Saleh Ritual, Saleh Sosial.”
Jika uraian-uraian di atas ditarik pada standarisasi sukses, maka kiranya kita perlu untuk mempertanyakan kembali makna sukses yang dikehendaki, apakah bersumber dari nilai yang diyakini dirinya, dari latar belakang keluarganya, hanya mengikuti arus penilaian sosial, atau mengiblat pada makna sukses yang dikehendaki perspektif syariat.
Bagi sebagian masyarakat kita, penilaian sukses adalah pada aspek material. Anak muda dinilai sukses bilamana telah mendapatkan penghasilan sendiri. Dalam posisi tertentu, cara pandang ini tidak salah. Islam pun mengajarkan kemandirian ekonomi kepada umatnya. Bahkan, dalam banyak ayat, jihad dengan harta disebutkan terlebih dahulu sebelum jihad dengan fisik. Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah Swt. dengan harta benda dan diri mereka, itu lebih tinggi derajatnya disisi Allah, dan itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”(QS. At-Taubah :20).
Imam al-Alusi (w. 1270 H.) memberikan alasan mengapa jihad dengan harta disebutkan lebih dahulu dari pada jihad dengan fisik. Beliau menerangkan saat menafsiri surat at-Taubah ayat ke -20 di atas dalam karyanya Rūh al-Mā’anī:
وَلَعَلَّ تَقْدِيمَ الْأَمْوَالِ عَلَى الْأَنْفُسِ لِمَا أَنَّ الْمُجَاهَدَةَ بِالْأَمْوَالِ أَكْثَرُ وُقُوْعًا وَأَتَمُّ دَفْعًا لِلْحَاجَةِ حَيْثُ لَا يُتَصَوَّرُ الْمُجَاهَدَةُ بِالنَّفْسِ بِلاَ مُجَاهَدَةٍ بِالْمَالِ
“Barangkali mendahulukan penyebutan jihad harta sebelum jihad fisik, karena jihad dengan harta sering terjadi (tidak hanya dalam momen perang), dan lebih sempurna untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekira tidak akan bisa terlaksana jihad dengan fisik tanpa jihad dengan harta (memiliki bekal peperangan).”
Kekeliruan tampak jelas ketika penilaian hanya bertumpu pada satu aspek dan mengabaikan aspek lain. Betapa sempitnya mengartikan sukses hanya sebatas pada kekayaan. Padahal, seperti disebutkan diawal, realitas hidup manusia jauh lebih kompleks, di mana setiap orang hidup dalam latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga sebenarnya untuk apa kita menstandarisasi kesuksesan dengan sesederhana pada satu hal saja?
Maka dari itu, lebih tepat dikatakan bahwa kita adalah orang sukses (atau paling tidak sedang berproses menuju sukses) dalam versi terbaik masing-masing. Relativitas makna sukses inilah yang penulis adopsi dari teori Psikolog Amerika Serikat, Howard Gardner diistilahkan dengan teori “Multiple Intelligences.”
Dalam pandangan Gardner, teori “Multiple Intelligences” menunjukkan bahwa setiap orang memiliki sembilan kecerdasan: linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik-tubuh, musik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial.
Dalam praktiknya, bentuk kecerdasan ini tampak beragam dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya mereka yang unggul merangkai kata seperti penulis atau penyair (linguistik). Adalagi kemampuan berpikir kritis dalam berhitung layaknya matematikawan atau programmer (logis-matematis). Ada yang ahli memperhatikan ruang dan bentuk seperti desainer (spasial), hingga mereka yang mengekspresikan diri melalui tubuh seperti atlet atau penari (kinestetik-tubuh).
Sebagian orang sukses ihwal irama sebagai musisi (musik), sementara yang lain menonjol dalam kemampuannya membangun relasi sosial antar sesama (interpersonal). Ada pula yang kuat dalam refleksi diri, memahami diri sendiri (intrapersonal), serta mereka yang akrab dengan alam sebagai pecinta lingkungan (naturalis). Bahkan, tidak sedikit yang mempunyai kemampuan memikirkan makna hidup dan hal-hal filosofis, seperti para pemikir dan tokoh spiritual (eksistensial).
Kekeliruan dalam memaknai sukses pada akhirnya kembali pada kejujuran cara pandang. Tidak ada yang salah dengan capaian materi. Tidak ada yang keliru dengan keberhasilan yang tampak secara kasat mata. Namun yang juga perlu dijaga adalah keluasan makna sukses itu sendiri.
Boleh jadi seseorang memiliki suara merdu hingga merilis musik tapi tak bakat menjadi programmer. Atau seorang puitis handal tapi lebih cenderung menyendiri ketimbang bersosial dengan teman sebayanya.
Maka dari itu, jika sukses hanya ditumpukan pada satu aspek dan menafikan yang lain, maka sukses dapat menyempitkan realitas hidup yang sejatinya beragam. Jika sukses dipahami sebagai capaian yang muncul dari latar belakang, potensi, dan kecerdasan yang berbeda-beda, maka itulah yang menjadi bentuk penghargaan yang lebih utuh kepada sesama.
Islam itu ya‘lu wa lā yu‘lā ‘alaihi. Luhur tak tertandingi. Maka jangan sampai momen hari raya justru merusak makna kemuliaan islam itu sendiri dengan ucapan yang tak nyaman didengar. Mari mengubah cara bertanya dan cara memandang orang lain. Dari menilai menjadi memahami. Ingat, kita itu sukses (atau paling tidak sedang berproses menuju sukses) dalam versi terbaik masing-masing.













Discussion about this post