Tulisan ini merupakan kelanjutan dari dua tulisan penulis sebelumnya tentang zikir dalam perspektif mahaguru Nusantara, Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī. Tulisan pertama mengulas tentang makna zikir dalam surah Al-Baqarah (152): menurut para ulama yang disebutkan oleh Syekh Nawawī (Nasrullah Ainul Yaqin, “Khazanah Tafsir Al-Baqarah (2): 152 Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī”, dalam https://pm.uin-suka.ac.id/id/kolom/detail/990/khazanah-tafsir-al-baqarah-2-152-menurut-syekh-muhammad-nawawi). Tulisan kedua menjelaskan tentang zikir khafi dalam pandangan Syekh Nawawī (Nasrullah Ainul Yaqin, “Zikir Khafi dalam Alam Pikiran Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī”, dalam https://pm.uin-suka.ac.id/id/kolom/ detail/993/zikir-khafi-dalam-alam-pikiran-syekh-muhammad-nawawi).
Menurut Syekh Nawawī dalam al-Futūḥāt al-Madaniyyah fī asy-Syu‘ab al-Īmāniyyah, zikir merupakan salah satu cabang keimanan yang harus dilakukan oleh setiap mukmin. Oleh karena itu, seorang mukmin harus meningkatkan kualitas imannya―salah satunya―dengan senantiasa berzikir kepada Allah, baik di dalam salat maupun di luar salat. Salah satu contoh zikir dalam salat adalah membaca subḥāna rabbiy al-‘aẓīm wa bi ḥamdih ketika rukuk dan membaca subḥāna rabbiy al-a‘lā wa bi ḥamdih ketika sujud. Imam Isḥāq bin Rāhawayh berpendapat bahwa setiap muṣallī (orang yang melaksanakan salat) yang tidak membaca subḥāna rabbiy al-‘aẓīm wa bi ḥamdih ketika rukuk sebanyak tiga kali dan tidak membaca subḥāna rabbiy al-a‘lā wa bi ḥamdih ketika sujud sebanyak tiga kali, maka salatnya tidak sah.
Selain itu, Syekh Nawawī menyebutkan beberapa contoh zikir yang perlu dilazimkan oleh setiap mukmin dalam setiap hari dan malamnya, yaitu istigfar, menjauhi omongan yang tidak berguna (baik dalam urusan agama maupun dalam urusan dunia), menata hati untuk senantiasa berbuat baik (meskipun masih belum melakukannya), dan meninggalkan setiap bisikan dan kehendak buruk yang terlintas di dalam jiwa karena Allah. Ketika seorang mukmin tidak melaksanakan kehendak buruk yang terlintas dalam jiwanya, maka Allah akan mencatatnya dengan kebaikan (hlm. 27-28).
Zikir sangat bermanfaat bagi rohani manusia. Sebab, zikir merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan hati yang sedang menderita dan sekarat oleh kekangan dosa dan kelalaian akan Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis. Orang yang gemar berzikir berarti ia dicintai oleh Allah. Sebab, menurut Syekh Nawawī, zikir merupakan salah satu tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Dalam hal ini, ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Ia akan mengingatnya. Ketika Ia mengingatnya, maka Ia akan menjadikan hamba tersebut senang berzikir. Ketika zikir sudah merasuk ke dalam kalbu, maka setan tidak bisa menguasainya. Bahkan, untuk sekadar mendekatinya pun tidak bisa. Dalam hal ini, ketika setan mendekati kalbu yang senantiasa berzikir, maka ia akan terpelanting sebagaimana orang yang jatuh ketakutan ketika melihat setan (hantu). (Tanqīḥ al-Qawl al-Ḥaśīś fī Syarḥ Lubāb al-Ḥadīś, hlm. 35-36)
Syekh Nawawī―mengutip pendapat al-Ḥakīm―menyebutkan bahwa hakikatnya zikir adalah zikir yang disertai dengan kesadaran, bukan zikir dengan kealpaan. Orang yang berzikir dengan penuh kesadaran hanya mengingat Allah semata dan tidak menyisakan ruang sedikit pun dalam kalbunya untuk mengingat hal lain selain-Nya, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Zikir semacam ini merupakan zikir yang murni karena ia hanya fokus dan asyik kepada satu hal semata, yaitu Allah Yang Maha Esa. Dalam hal ini, ketika seseorang fokus dan asyik kepada sesuatu, maka ia akan melupakan hal-hal lain selain sesuatu tersebut. Orang yang berzikir dengan penuh kesadaran inilah yang dimaksud oleh Allah dalam hadis qudsi berikut, “Aku bersama hamba-Ku ketika ia ingat (berzikir) kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena(berzikir kepada)-Ku.” (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 35)
Mengetuk Pintu Langit dengan Zikir yang Paling Utama
Syekh Nawawī menyebutkan bahwa zikir yang paling utama setelah (membaca) Al-Qur’an adalah lā ilāha illallāh (tiada Tuhan selain Allah). Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Zikir yang paling utama adalah lā ilāha illallāh dan doa yang paling utama adalah al-ḥamdu lillāh.” Menurut Syekh Nawawī, lā ilāha illallāh menjadi zikir yang paling utama karena tiga alasan yang tidak dimiliki oleh zikir-zikir yang lain. Pertama, ia merupakan kalimat tauhid di mana tidak ada satu pun yang menyamai tauhid. Kedua, ia memiliki pengaruh untuk membersihkan batin manusia. Dalam hal ini, kata lā ilāha berfungsi untuk meniadakan semua tuhan (selain Allah), sedangkan kata illallāh berfungsi untuk menetapkan keesaan Allah. Oleh karena itu, zikir lā ilāha illallāh yang diucapkan oleh seseorang akan merasuk ke dalam kalbunya. Ketiga, keimanan tidak sah tanpa ucapan lā ilāha illallāh muḥammadur rasūlullāh. Oleh karena itu, lā ilāha illallāh lebih utama daripada al-ḥamdu lillāh (segala puji bagi Allah). Sebab, ia menghilangkan kekafiran (Kāsyifah as-Sajā, hlm. 14, al-Futūḥāt al-Madaniyyah, hlm. 28, dan Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 9).
Menurut Syekh Nawawī, lā ilāha illallāh memiliki banyak keutamaan yang tidak terhitung, di antaranya adalah memperbarui iman, penghapus dosa, penyelamat dari amukan api neraka, penyelamat dari siksaan Allah, menghilangkan kesulitan dan kefakiran, pencegah musibah, manjadi tebusan dosa (pembebasan dari neraka), dan mendapatkan keistimewaan berupa masuk surga. Pertama, Rasulullah saw. bersabda, “Perbaruilah iman kalian. Lalu, ditanyakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami memperbarui iman kami?’ Beliau menjawab, ‘Perbanyaklah membaca lā ilāha illallāh.’” (al-Futūḥāt al-Madaniyyah, hlm. 24) Kedua, Rasulullah saw. bersabda bahwa barang siapa yang membaca lā ilāha illallāh seraya memanjangkannya, maka 4000 dosa besarnya akan diampuni oleh Allah. Jika ia tidak memiliki dosa besar sama sekali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa keluarga dan tetangganya (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 9). Hadis lain menyebutkan bahwa barang siapa yang membaca lā ilāha illallāh sebanyak tiga kali pada suatu hari, maka ia menjadi penghapus setiap dosa yang dilakukannya pada hari itu (Kāsyifah as-Sajā, hlm. 14).
Ketiga, Allah berfirman kepada Nabi Musa as. dalam kitab Taurat, “Seandainya tidak ada satu pun orang yang membaca lā ilāha illallāh, maka sungguh Aku perintahkan neraka untuk membakar seluruh penduduk dunia.” (Kāsyifah as-Sajā, hlm. 14) Keempat, Rasulullah saw. bersabda, “Lā ilāha illallāh adalah bentengku. Barang siapa yang masuk ke dalam bentengku, maka ia akan aman dari siksaan Allah.” Kelima, Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Sayyidina Zayd al-Anṣārī, “Jika kamu mengalami kesulitan dalam urusan-urusan dunia, maka perbanyaklah baca lā ilāha illallāh muḥammadur rasūlullāh dan lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.” Selain itu, al-Fākihānī menyebutkan bahwa membaca lā ilāha illallāh setiap kali masuk ke dalam rumah secara istikamah menghilangkan kefakiran. Keenam, Rasulullah saw. bersabda bahwa barang siapa yang membaca lā ilāha illallāh, maka ia akan diselamatkan dari 99 macam musibah, dan musibah yang paling rendah adalah kesedihan (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 9-10).
Ketujuh, Syekh Nawawī menyebutkan bahwa membaca lā ilāha illallāh sebanyak 70 ribu kali merupakan pembebasan dari neraka, baik ditujukan untuk dirinya maupun ditujukan kepada orang lain. Membaca lā ilāha illallāh sebanyak 70 ribu kali ini disebut sebagai ‘atāqah sugrā (pembebasan kecil dari neraka). Adapun membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali―meskipun dicicil dalam beberapa tahun―disebut sebagai ‘atāqah kubrā (pembebasan besar dari neraka). Dalam hal ini, Syekh Nawawī menyebutkan kisah Syekh Abū ar-Rabī‘ al-Māliqī yang menghadiahkan pahala zikir lā ilāha illallāh sebanyak 70 ribu kali kepada seorang perempuan yang sedang disiksa di neraka. Perempuan tersebut akhirnya dibebaskan dari siksa api neraka setelah mendapatkan kiriman pahala lā ilāha illallāh sebanyak 70 ribu kali dari Syekh Abū ar-Rabī‘ (al-Futūḥāt al-Madaniyyah, hlm. 24-25). Kedelapan, Rasulullah saw. bersabda bahwa barang siapa yang membaca lā ilāha illallāh dengan ikhlas, maka ia akan masuk surga. Lalu, apa itu keikhlasan lā ilāha illallāh? Yaitu (ia) mencegah pembacanya dari hal-hal yang haram (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 10). Dengan demikian, setiap muslim yang membaca lā ilāha illallāh dengan ikhlas, maka ia akan berdampak kepada sikap mencegah diri dari hal-hal yang haram.
Selain itu, lā ilāha illallāh mengandung makna dan pesan yang sangat penting bagi kehidupan sekalian umat Islam. Dalam hal ini, Syekh Nawawī―mengutip pendapat sebagian ulama―menyebutkan bahwa kalimat lā ilāha illallāh terdiri dari 12 huruf, yaitu lam, alif, alif, lam, ha’, alif, lam, alif, alif, lam, lam, dan ha’. Hal ini menunjukkan bahwa ada 12 kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Pertama, kewajiban lahiriah yang berjumlah enam, yaitu (1) bersuci; (2) salat; (3) zakat; (4) puasa; (5) haji; dan (6) jihad, baik kecil (seperti memerangi kafir harbi) maupun besar (seperti memerangi hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan). Kedua, kewajiban batiniah yang berjumlah enam, yaitu (1) tawakal; (2) berserah diri kepada Allah; (3) sabar; (4) rida; (5) zuhud; dan (6) tobat (Kāsyifah as-Sajā, hlm. 14). Wallāhu a‘lam wa a‘lā wa aḥkam…













Discussion about this post