Bulan Rajab selalu hadir membawa getaran istimewa bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Baik mereka yang berada di hiruk-pukuk perkotaan maupun ketenangan pedesaan, Rajab adalah momentum refleksi atas sebuah perjalanan agung yang mengubah peradaban manusia: Isra Mikraj.
Peristiwa ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Berdasarkan surah Al-Isra ayat 1, Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha. Namun, di balik kemegahan perjalanan lintas dimensi tersebut, ada satu “oleh-oleh” paling berharga bagi kita semua, yaitu perintah shalat fardhu.
Shalat: Hadiah Langsung dari Langit Ketujuh
Shalat memiliki kedudukan yang unik dan tak tertandingi oleh ibadah lainnya. Jika zakat, puasa, dan haji diperintahkan melalui perantaraan Malaikat Jibril di bumi, shalat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha.
Sejarah mencatat dialog penuh kasih antara Allah, Rasulullah, dan Nabi Musa AS. Awalnya, Allah memerintahkan 50 waktu shalat. Namun, atas saran Nabi Musa yang memahami kelemahan umat manusia, Rasulullah berulang kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu. Meski jumlahnya berkurang, pahalanya tetap setara dengan 50 waktu di sisi Allah.
Mengapa Shalat Begitu Istimewa?
Ada beberapa alasan mendasar mengapa shalat menjadi inti dari agama Islam:
- Ibadah Sepanjang Usia: Shalat telah diwajibkan sejak zaman Nabi Adam AS hingga umat akhir zaman. Sebagaimana firman Allah dalam surah Maryam ayat 58, para nabi terdahulu bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat-Nya.
- Kewajiban Mutlak: Shalat adalah ibadah yang harus tetap tegak selama kesadaran masih ada. Berbeda dengan haji yang butuh kemampuan finansial atau puasa yang butuh kesehatan fisik, shalat dapat disesuaikan dengan kondisi apa pun—baik sambil duduk maupun berbaring.
- Tiang Bangunan Agama: Rasulullah SAW bersabda, “Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat” (HR. Tirmidzi). Tanpa tiang, bangunan agama dalam diri seseorang akan roboh.
- Identitas Diri: Shalat menjadi pembeda antara seorang mukmin dengan kekufuran. Ia adalah kepala bagi jasad; tanpa shalat, kehidupan spiritual seseorang kehilangan arahnya.
Dampak Shalat dalam Kehidupan Nyata
Jika dilaksanakan dengan benar, shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah transformasi karakter. Berikut adalah pengaruh besar shalat dalam kehidupan kita:
1. Kedisiplinan yang Terpola
Shalat fardhu memiliki waktu-waktu yang telah ditentukan (Kitaban Mauquta). Hal ini mendidik seorang muslim untuk menghargai waktu, tertib, dan memiliki ritme hidup yang teratur.
2. Obat Penyakit Sosial dan Kejiwaan
Manusia seringkali terjebak dalam sifat keluh kesah dan kikir (QS. Al-Ma’arij: 19-21). Shalat hadir sebagai penawar. Mereka yang memelihara shalatnya cenderung lebih tenang, terjaga amanahnya, dan memiliki kestabilan emosi dalam menghadapi ujian hidup.
3. Perisai dari Perbuatan Keji dan Mungkar
Shalat yang dilakukan dengan penuh penghayatan (khusyuk) akan membentengi pelakunya dari kemaksiatan. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45).
4. Kebersihan Fisik dan Penggugur Dosa
Rasulullah mengibaratkan shalat lima waktu seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah. Jika seseorang mandi di sana lima kali sehari, tak akan ada kotoran yang tersisa. Begitulah shalat membersihkan noda dosa dan menjaga kebersihan fisik melalui wudhu.
5. Mempererat Ikatan Sosial
Melalui shalat berjamaah, terjadi interaksi sosial yang sehat. Muslim saling mengenal, memahami, dan membantu satu sama lain, yang pada akhirnya memperkuat ukhuwah islamiyah.
Penutup: Menjaga Mikraj Kita
Setiap kali kita takbiratul ihram dan bersujud, sebenarnya kita sedang melakukan “Mikraj kecil”—sebuah pertemuan pribadi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Mengingat urgensi dan pengaruhnya yang luar biasa, tidak heran jika Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga shalat berkali-kali dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 238, QS. Al-Mukminun: 9, dan QS. Al-Ma’arij: 34).
Mari kita jadikan peringatan Isra Mikraj tahun ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas sujud kita. Semoga dengan menjaga shalat, kita mendapatkan keberkahan di dunia dan kemenangan di akhirat, karena shalat adalah amal pertama yang akan dihisab kelak.













Discussion about this post