Saya kira, kita semua, terutama yang tumbuh di lingkungan pesantren, akrab dengan perdebatan lucu—atau lebih tepatnya, gurauan—tentang siapa yang paling kuat di muka bumi. Apakah itu kaum yang gagah perkasa, kaum yang paling cerdas, atau mungkin kaum yang paling kaya? Namun, sebagai seorang santri yang diajarkan untuk merujuk pada nash (teks agama) dan teladan, saya menemukan bahwa “ras terkuat di bumi” bukanlah tentang kekuatan otot atau kekayaan materi. Kekuatan sejati ada pada mereka yang memiliki kemampuan untuk mengguncang akal dan kesabaran para pemegang otoritas.
Ya, saya bicara tentang wanita, khususnya dalam peran mereka sebagai istri, ibu, dan penyeimbang kehidupan.
Esensinya, kekuatan mereka bukan terletak pada kemampuan mereka menghancurkan—meskipun dalam satu riwayat Nabi ﷺ, piring makanan bisa hancur berkeping-keping hanya karena salah satu anggota ras perempuan itu cemburu—melainkan pada respon yang diwajibkan oleh kekuatan mereka itu: Kesabaran yang dibingkai keadilan.
Ada beberapa pelajaran paling fundamental yang harus diresapi seorang santri atau alumni dalam menghadapi ras terkuat ini. Di antaranya:
1. Pelajaran dari Pecahan Mangkuk Istri Nabi
Mari kita bedah kisah Hadis yang menawan itu.
Rasulullah ﷺ sedang menjamu tamu. Tiba-tiba, salah satu istri beliau mengirimkan makanan. Istri yang sedang bertuan rumah (disebutkan ‘Aisyah r.a. dalam riwayat lain), didorong oleh ghirah (cemburu), membanting piring berisi makanan itu hingga pecah dan isinya tumpah. Saya membayangkan kekacauan itu: tumpahan makanan, dentingan piring pecah, dan suasana yang tiba-tiba canggung di depan para tamu. Jika kita yang mengalaminya, mungkin respons pertama adalah marah, mengomel, atau bahkan mempermalukan. Bukankah ini tindakan yang “ngeselin” dan merugikan dari ras terkuat?
Namun, tanggapan Nabi ﷺ sungguh epik dan mengajar kita tentang hakikat kekuatan: Ia adalah ketenangan di tengah badai emosi. Beliau hanya tersenyum dan berkata,
غَارَتْ أُمُّكُمْ
Ibu kalian sedang cemburu.
Pernyataan ini adalah puncak kebijaksanaan. Nabi ﷺ tidak menafikan kecemburuan (ghirah) salah satu istrinya, tetapi juga tidak mengabaikan kerusakan yang terjadi. Beliau langsung memberikan solusi yang adil: mengganti piring yang pecah dengan piring yang utuh, qisas (balasan setimpal) dalam konteks harta.
Esensi ras terkuat di bumi yang pertama adalah bahwa mereka (wanita) berhak memiliki emosi yang ‘menguji,’ dan kekuatan seorang pria (terutama santri yang berilmu) adalah membalas ujian itu dengan penerimaan, kesabaran (hilm), dan keadilan (‘adl) yang nyata. Bukan dengan kemarahan yang membabi buta.
2. Pelajaran dari Sayyidina Umar
Kisah kedua dari Amirul Mukminin, Sayyidina Umar bin Khattab r.a., membawa kita ke dimensi kekuatan yang berbeda: kekuatan keluh kesah dan jasa yang tak ternilai.
Seorang pria datang untuk mengadu tentang istrinya yang suka meninggikan suara, namun ia urung melapor karena justru mendengar istri Sayyidina Umar r.a. melakukan hal yang sama. Apa respons sang Khalifah yang dikenal tegas itu?
Sayyidina Umar tidak membela diri dengan dalih otoritas. Justru, ia mendaftar jasa istrinya: khadimah (pelayan), thabbakhah (tukang masak), ghassalah (tukang cuci), murdi’ah (penyusu anak).
Artinya, bagi Sayyidina Umar, suara yang meninggi, keluh kesah, atau sifat yang “menguji” itu menjadi sangat kecil dan tak berarti ketika ditimbang dengan besarnya hak-hak dan jasa yang telah diberikan istrinya. Ia menanggung kesedihan (ghammah) istrinya karena besarnya jasa-jasa itu.
Sayyidina Umar bukan tidak memakai fikih -di mana suami harus melakukan pekerjaan rumah tangga-, beliau betul-betul bijak dalam menanggapi sifat yang melekat pada istrinya itu.
Santri, di sinilah esensi kekuatan kedua: Kekuatanmu adalah kemampuanmu untuk menimbang hak dan kewajiban. Jangan biarkan satu kekurangan menghapus ratusan kebaikan. Kekuatan wanita terletak pada peran sakin (penenang) dan pelayan mereka yang fundamental dalam menjaga tatanan rumah tangga, dan kekuatan kita adalah mengakui dan menahan diri demi jasa-jasa tersebut.
Esensi Santri: Menjadi Pemegang Kunci Keseimbangan
Maka, jika ada yang bertanya, apa yang membuat santri itu kuat? Jawabannya bukan pada hafalan Alfiyyah atau Fathul Qarib semata. Kekuatan seorang santri adalah aplikasinya: menginternalisasi adab Nabi ﷺ dan fiqh Umar r.a.
“Ras terkuat di bumi” adalah mereka yang, melalui ujian emosi dan keluh kesah, mendidik kita para pria untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih adil, dan lebih bersyukur.
Sebagai penutup, wahai santri, esensi ras terkuat di bumi bukanlah kaum wanita itu sendiri, melainkan nilai-nilai luhur yang mereka paksa kita terapkan. Jadilah kuat dengan sabar, adil, dan senantiasa menimbang hak-hak mereka. Itu adalah jihad yang sesungguhnya. Semangat!













Discussion about this post