Sekitar tahun 2017, saya pernah disuruh mengisi waktu luang selepas acara rutinan bagi-bagi takjil di Musholla al-Muhajirin RT 08 RW 01 Bencongan Kelapa Dua Tangerang Banten. Oleh remaja sekitar, saya ditawari untuk menjelaskan pentingnya puasa dan pembahasan yang berkaitan dengan takjil. Kata mereka hitung-hitung mempercepat waktu maghrib.
Waktu itu maghrib masih lumayan lama, sekitar kurang setengah jam lagi. Akhirnya dengan ditunjuknya saya sebagai pengisi sore itu, saya menjelaskan tentang “Apa itu pekerjaan terbaik? Tukang ojek kah? Atau penjaga warung kaki lima? Warung 24 jam seperti warung-warung Madura? Atau malah tukang sate? Mungkin dari audien merasa apa hubungannya puasa sama tukang ojek, apalagi sama tukang sate.
Saya angkat tema berikut karena tepat di depan saya ada tumpukan nasi yang pastinya menjadi teman saya 30 menit ke depan. Akhirnya saya jelaskan bahwa pekerjaan terbaik adalah petani. Bukan tanpa dasar, dalam beberapa kitab yang dipelajari penulis di pondok pesantren, petani adalah pekerjaan terbaik menurut ulama setelah tukang kuli bangunan dan semacamnya dan profesi sebagai pedagang apapun itu.
Mengapa ulama memilih petani sebagai predikat pekerja terbaik, kurang lebih ada dua alasan besar yang mendasari itu. 1. Karena menjadi petani adalah menjadi orang yang paling tawakkal kepada Allah. 2. Menjadi petani juga banyak manfaat yang diberikan kepada manusia lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.[1] Bagaimana jadinya jika bangsa ini tidak ada orang yang ingin menjadi petani? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menghantarkan kita percaya bahwa petani adalah pekerja yang terbaik.
Kemudian setelah predikat itu, ada pertukangan baik kuli bangunan atau teman-temannya. Alasan ulama menjadikannya sebagai urutan kedua adalah karena menjadi tukang bangunan dan lain-lain karena pekerjaan tersebut perlu tenaga lebih yang pastinya selain membantu banyak orang, hal ini tidak mudah dilakukan banyak orang.
Yang ketiga barulah pedagang. Alasannya jelas, bahwa Nabi dan para sahabatnya adalah seorang pedagang. Maka jika kita berdagang sembari ikut tindak lampah Nabi dan para sahabat, kita mendapatkan pahala sunnah.[2]
Penjelasan ini juga saya ulangi dalam kajian buka puasa dengan anak-anak madrasah diniyah (setara dengan Sekolah Dasar) di desa Koalas Labang Bangkalan Madura di tahun 2022. Sembari saya tambahkan penjelasan bahwa kata “kita” dalam doa yang biasa kita baca sebelum makan yang kurang lebih artinya “Ya Allah berkahilah kami dalam rizki kami da hindarkanlah kami dari siksa api neraka” adalah untuk petani juga.
Lantas kemana penulis? Guru? Dan profesi lainnya yang juga dianggap mulia? Coba kita lempar pertatanyaan ini kepada hati kita masing-masing “Apa guru atau penulis itu adalah profesi (pekerjaan) atau malah kewajiban?” Jika jawabannya adalah kewajiban ya sudah berarti dia bukan profesi.
Rasanya tidak sedikit dramatis jika saya menceritakan bahwa ayah saya pedagang dan kakek-nenek saya seorang petani. Toh, saya juga tidak malu memiliki orang tua dan leluhur yang memiliki profesi mulia itu. Tulisan ini jelas bukan curhatan apalagi pembelaan akan leluhur yang punya pekerjaan yang acap dipandang sebelah mata. Lebih dari itu, tulisan ini adalah bentuk ungkapan kerinduan akan kumpulan orang yang bercita-cita menjadi petani yang banyak bermanfaat bagi orang sekitar.
Maka tidak perlu panjang lebar menyisipkan manfaat petani bagi seluruh orang dan menjelaskan peran vital petani yang terus dilupakan, pertanyaan terbesarnya adalah sudahkah kita menghargai tangan-tangan yang menumbuhkan pangan?
***
[1] Abū al-Qāsim Sulaimān ibn Aḥmad al-Ṭabarānī, al-Mu‘jam al-Awsaṭ, (Kairo: Dār al-Ḥaramain)
[2] Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I‘anatu at-Thalibin ‘ala Halli Alfadz Fathi al-Mu‘in (Beirut: Dar al-Fikr)













Discussion about this post