Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Trust Issue sebagai Cermin Budaya Tabayyun: Pandangan Islam tentang Verifikasi dan Kehati-hatian (1)

Jamal Muhammad by Jamal Muhammad
25 September 2025
A A
Trust Issue

Ilustrasi -Trust Issue. (Sumber: Dok. Istimewa)

Trust Issue biasa diartikan dengan “selektif” tidak mudah percaya terhadap orang lain ataupun tidak cepat-cepat mengiyakan informasi. Menarik untuk dimejahijaukan saat Trust Issue dianggap sama dengan berprasangka buruk. Dalam Islam sendiri pembawa agama ini bersabda:

(احْتَرِسُوا مِنْ النَّاسِ بِسُوءِ الظَّنِّ (أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَالْبَيْهَقِيُّ

“Berhati-hatilah terhadap sesama dengan berburuk sangka.” (HR. Thobroni dan Baihaqi)

As Shon’ani (w. 1182) , saat menjelaskan hadis tersebut beliau menulis:

في القاموس (٣): الاحتراس الاحتياط والمعنى تحفظوا من مكائد الناس وأذاهم بسوء الظن فيهم؛ لئلا يطلعوا على سرائركم وشركم وذلك أنه قد يحسن الإنسان ظنه بأحد الناس فيطلعه على سره ويبثه ما لديه من خفي أمره فيضره ويؤذيه،

“Maksud dari hadis ini adalah berhati-hati. Bagaimanapun, seseorang sering dikecewakan karena terlalu percaya, berbagi rahasia tanpa pertimbangan lantas pendengar menyebarluaskan. (Al Tanwir Syarh Jami’ al Shogir, Riyadh: Maktabah Darus Salam, 2011. Vol.5 hal.354). Ini adalah definisi Trust Issue menurut sarjana muslim.

Senada dengan hadis diatas, Umar bin Khattab pernah berujar:

وَرُوِيَ عَن عُمَر بْن الْخَطَّابِ رضي الله عنه، أَنَّهُ قَالَ: احتجزوا مِن النّاس بِسوء الظَّن، وَلَا تثقوا بِكُل أحد، فَإِنَّهُ أسلم لكم

“Lindungilah diri anda dari orang lain dengan prasangka buruk, jangan mudah percaya pada setiap orang, sebab demikian lebih aman.” (Ibnu Mandzur, Lisanul ‘Arab, Beirut: Dar Shodir, 1414 Vol.13. Hal. 273)

Lantas, apa perbedaan Trust Issue dengan Su’udzon?

قَالَ: ﴿إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾ [الحجرات: ١٢]، وَلم يَجْعَل كُله إِثْمًا. وَحكي عَن سُفْيَان الثَّوْريّ، أَنَّهُ قَالَ: الظَّن ظنان: ظن إِثْم، وَظن لَيْسَ بإثم، فَأَما الَّذِي هُوَ إِثْم، فَالَّذِي يظنّ ظنا، وَيتَكَلَّم بِهِ. وَالَّذِي لَيْسَ بإثم، فَالَّذِي يظنّ، وَلَا يتَكَلَّم بِهِ. قلت: فَأَما اسْتِعْمَال سوء الظَّن إِذا كَانَ عَلَى وَجه الحذر وَطلب السَّلامَة مِن شَرّ النّاس، فَلَا يَأْثَم بِهِ الرجل،

“Berburuk sangka adalah salah, (sebagaimana menurut QS. Al Hujarat: 12) tapi tidak melulu hal itu menjadi tidak benar. Adalah sufyan At Tsaury, ia mengklasifikasikan prasangka sebagai berikut:

1). Kecurigaan dianggap dosa saat seseorang berspekulasi buruk tentang orang lain, lantas ia utarakan (dalam buku-buku lain ia anggap tebakannya adalah nyata).

2). Praduga tidak menjadi masalah saat hal itu sebatas dugaan saja. (Bahkan, bersu’udzon dalam rangka waspada tidaklah berdosa). (Al Baghawi, Syarh Sunnah, Beirut: Maktab Islami, 1983. Vol. 13. Hal. 111/Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. ttp: Muassisatu Al Risalah, 2001. Vol. 12. Hal. 292).

Sikap semacam ini juga mendapat legitimasi syariat, sebagaimana hadis Nabi Muhammad:

إنَّ الله تَجَاوَزَ لأُمَّتِي عمَّا حدَّثت به أنفسها مالم يتكلَّموا، أو يعملوا به

“Tuhan memaafkan hal-hal tidak terpuji yang terbesit dalam diri manusia selama tidak ia utarakan dan ia lakukan” (HR. Bukhori Muslim).

Dengan demikian, Trust Issue tidak selalu identik dengan su’udzon. Ia bisa saja menjadi bentuk tabayyun (verifikasi), kehati-hatian, dan ihtiyath, selama tidak berujung pada penghakiman batin atau ekspresi kebencian.
Sekian. Wallahu a’lam bis Sawab.

Jamal Muhammad

Jamal Muhammad

Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo, Minat Kajian Tafsir Tematik

ARTIKEL TERKAIT

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital
Kolom

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

16 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis
Kolom

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid
Kolom

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi
Kolom

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali
Kolom

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama
Kolom

Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama

4 Januari 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

Kiai dan Tantangan Zaman: Menjaga Cahaya Pesantren di Era Digital

16 Februari 2026
KH Abdul Karim

Belajar yang Tak Pernah Usai: KH Abdul Karim dan Keinginan Diakui sebagai Santri Syaikhona Kholil Bangkalan

15 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.