Saya pernah mengikuti acara talk show perihal belajar menulis. Ketika sampai acara dor prize, hostnya yang asik, mengatakan barang siapa yang bisa menjawab maka akan mendapatkan buku yang ada di tangannya.
Saya sebagai santri yang sedang gemar baca waktu itu pasti sangat ingin mendapatkan buku yang ada di genggaman host. Akhirnya sekian detik sebelum pertanyaan selesai saya sudah angkat tangan saja.
Alhamdulillah pertanyaan sangat mudah sekali. “Siapa yang bisa menyebutkan nama-nama penulis hingga 10 orang maka buku ini saya akan hadiahkan”
Saya -sebagai orang yang ditunjuk untuk menjawab- jelas sangat senang. Dengan lantang saya sebutkan para penulis dari pesantren. Gus Dur, Gus Mus, Nur Kholis Majid, sampai Imam Syafi’i, Imam al-Ghazali, pengarang Fath al-Mu’in (dulu saya sangat hapal nama beliau sebelum ketika menulis tulisan ini saya sedikit lupa hehehe) dan lain lain.
Alih-alih benar dalam menjawab, ternyata jawaban itu salah menurut host dan dengan halus saya dipersilahkan untuk ikut Bahtsul Masail -semacam diskusi ilmiah anak pesantren- saja ketimbang ikut talk show kepenulisan.
Ini bukan masalah saya tidak dapat hadiah. Namun masalah pengakuan penulis. Bukankah beliau² yang telah saya sebutkan merupakan penulis juga? Bahkan saya yang Alhamdulillah sudah dipredikatkan sebagai penulis oleh banyak orang juga menjadikan beliau² kiblat dalam motivasi dan gaya menulis.
Entahlah saya tidak mau panjang-panjang membahas hadiah yang tidak jadi saya peroleh. Saya hanya ingin berdoa kembali untuk dijadikan jiwa yang produktif dalam menulis, menjadikan tulisan sebagai ladang dakwah di posisi saya yang bukan anak kiai dan bukan anak raja.
Teringat dawuh Imam
Al-Ghazali “Kalau kamu bukan anak ulama besar, bukan pula anak seorang raja, maka menulislah.”













Discussion about this post