Tasawuf. Sekilas, kata ini mungkin membawa imaji tentang jubah usang, kitab-kitab kuning yang berdebu, dan praktik spiritual yang terpisah dari hiruk pikuk duniawi. Ia sering kali diasosiasikan sebatas pada zikir panjang dan khalwat di sudut-sudut sepi.
Padahal, inti dari ajaran ini—yakni akhlak yang baik (khuluqun hasan)—justru sangat kontekstual dan relevan untuk diaplikasikan dalam setiap sudut kehidupan kita saat ini. Adab dan tasawuf adalah ruh yang mampu menjelma dalam laku sehari-hari, baik di kantor, kelas, rumah, bahkan hingga di ranah media sosial.
Pelajaran penting ini salah satunya digaungkan oleh Habib Husein Ja’far Hadar. Melalui akun media sosialnya, beliau menggarisbawahi beberapa poin penting mengenai adab profesional yang patut kita renungkan:
MENGGAJI KARYAWAN TEPAT WAKTU DAN SESUAI DENGAN JOBDESKNYA IS PART OF ADAB.
MEMBERI ARAHAN YANG JELAS KEPADA BAWAHAN IS PART OF ADAB.
Ya… semuanya menggunakan huruf kapital. Mungkin saking pentingnya pelajaran adab ini.
Tak hanya itu, dalam status pribadinya yang kemudian dilansir di akun Instagram haqiqi.ig, adab dalam dunia kerja diperluas lagi cakupannya, menunjukkan kepekaan sosial seorang pemimpin terhadap timnya:
GAK NGASIH KERJAAN DI JAM MAU PULANG KERJA IS PART OF ADAB.
1 ORANG 1 JOBDESK IS PART OF ADAB.
MAU NERIMA ATAU DENGERIN MASUKAN DARI BAWAHANNYA IS PART OF ADAB.
NGGAK GANGGU KARYAWANNYA DI HARI LIBUR IS PART OF ADAB.
Poin-poin ini menunjukkan bahwa esensi adab tidak melulu soal bersikap hormat kepada yang lebih tua atau berilmu, melainkan juga tentang profesionalisme yang dibungkus dengan empati dan menjunjung tinggi hak orang lain. Adab adalah manajemen yang etis.
Lebih jauh lagi, nilai-nilai tasawuf seperti qana’ah (selalu merasa cukup) dan khuluqun hasan (akhlak terpuji) juga dapat dikontekstualisasikan secara modern.
Misalnya, ketika seseorang—entah itu kiai, pejabat, influencer, atau konglomerat—memiliki kemampuan finansial untuk membeli sepuluh mobil mewah, namun ia hanya memiliki satu mobil dan menggunakannya secara fungsional, itu sejatinya adalah perwujudan nyata dari qana’ah.
Sikap ini sejalan dengan perkataan Imam Junaid, seorang tokoh sufi di masanya:
“Qana’ah yaitu jikalau keinginanmu tidak sampai melampaui pada batas apa yang telah ada pada dirimu waktu itu.”[1]
Di sisi lain, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi adalah contoh konkret dari khuluqun hasan. Begitu juga dengan seorang santri yang kembali ke masyarakat dan menunjukkan sikap menghormati tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan syariat serta tidak anti-sosial (berbaur) adalah perwujudan akhlak yang terpuji.
Landasan dari semua ini adalah sabda Nabi Muhammad SAW:
وخالق الناس بخلق حسن
Artinya: Berbudilah dengan akhlak yang baik kepada manusia (HR Al-Tirmidzi).
Ketika ditanya mengenai definisi etika yang baik, Sayyidina Ali memberikan jawaban yang amat membumi dan inklusif:
هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي
Artinya: Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan.[2]
Pada akhirnya, adab dan tasawuf memang ajaran kuno, hanya saja inti sekaligus ruhnya dapat kita rasakan sampai saat ini. Belajar dari tweet sederhana Habib Husein Ja’far perihal adab dan tasawuf akan membuka mata kita bahwa tasawuf masih relevan di zaman modern.
***
[1] Muhammad bin Abdul Karim Kasnazan, Mausu’ah Kasnazaniah (Suria: Dar al-Mahabbah, 2005) vol 17, hal. 231.
[2] Syekh Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Taufiq, halaman 61













Discussion about this post