Pada tahun 2014 silam, ketika akan boyongan meninggalkan Mesir, penulis mendapatkan beberapa eksemplar kitab Ufuq al-‘Adhamah al-Muhammadiyah yang berarti, cakrawala keagungan Nabi Muhammad karya Al-‘Arif Billah Syaikh Abdussalam Ali Syita (1939-2025 M), seorang ulama di kota Alexandria Mesir. Sebelum membawa beberapa eksemplar kitab tersebut sebagai oleh-oleh ke Indonesia, seorang Ahbab dari Indonesia yang tinggal di Alexandria berkata kepada penulis, mengutip perkataan Syaikh Abdussalam Ali Syita tentang Ufuq al-‘Adhamah al-Muhammadiyah, yang kira-kira perkataan itu berbunyi, “Kitab saya ini akan selalu sampai kepada tangan-tangan yang merindukannya.” Kata Syaikh Abdussalam Ali Syita, yang mungkin dalam sebuah kesempatan tertentu.
Setibanya di Indonesia, penulis membawa kitab tersebut ke Yogyakarta, sebuah kota yang di dalamnya terdapat seorang sufi yang penulis kenal, usianya masih masih muda. Di Sebuah warung kopi di Yogyakarta, penulis menyerahkan kitab tersebut pada seorang sufi muda itu. Ia menerimanya, membaca judulnya, membaca nama penulisnya, membuka sebagian kitab, kemudian ia malakukan sujud syukur lalu berkata, “Terima kasih atas hadiah ini, saya memang dari dulu mencari kitab sejarah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang kental akan suasana sufistiknya, seperti kitab ini.” Penulis hanya bisa bahagia menyaksikan pemandangan itu. Tapi beberapa hari kemudian teringat pada ucapan Syaikh Abdussalam Ali Syita tentang Ufuq al-‘Adhamah al-Muhammadiyah yang semoga selalu sampai kepada tangan-tangan yang merindukannya.
Beberapa tahun belakangan, penulis sedang berusaha menyelesaikan naskah berjudul Kitab Al-Utsmani fi Al-Ad’iyyati Ba’da Qira’ah Suwar Al-Qur’ani, 114 Surah Wahid Likhatmi Al-Qur’an, Kitab Al-Utsmani berisi doa-doa yang dibaca setelah membaca surah-surat Al-Quran, 114 surah dan satu doa khataman Al-Qur’an. Penulis menukil sekitar 30 doa dari kitab Jawami’ Ad-Doa’ karya Syaikh Abdussalam Ali Syita, setelah mendapatkan izin dari murid beliau yaitu Syaikh ‘Ala Musthafa Na’imah Al-Azhari As-Syafi’i, dan pada akhirnya naskah tersebut selesai. Penulis bersyukur atas anugerah Syaikh Abdussalam Ali Syita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Syaikh Abdussalam Ali Syita seorang ulama, seorang sufi yang dilahirkan di Kota Rasyid, Provinsi Buhairah Mesir pada tahun 1939-M. Lahir dari lingkungan keluarga yang orang tuanya merupakan keturunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sejak kecil, Syaikh Abdussalam sudah menjadi penghafal Al-Qur’an, mempelajari bahasa dan sastra Arab, hadits dan sejarah nabi. Di masa remaja, Syaikh Abdussalam mendapatkan penghargaan dari menteri pendidikan Mesir sebagai siswa teladan yang berperilaku dan berkarakter.
Pada awalnya, Syaikh adalah seorang pekerja profesional yang bekerja menjadi direktur di perusahaan kapal layar yang berafiliasi dengan Terusan Suez di Mesir, akan tetapi terhitung sejak tahun 1999-M, Syaikh memutuskan pensiun, meninggalkan pekerjaan profesional dan mengalihkan seluruh hidupnya untuk dakwah Islam, mengajak manusia cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, menyeru manusia kepada akhlak yang mulia.
Syaikh Abdussalam seorang pengikut tarekat, sejak tahun 1966-M sudah bergabung dengan Ahlul Azaim, sebuah tarekat sufi moderat dengan penekanan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan penguatan akhlak yang mulia. Syaikh Abdussalam merupakan murid para ulama besar, seperti As-Sayyid Ahmad Madhi Abul ‘Azaim yang merupakan khalifah dari sang ayah, yaitu Al-Imam Al-Mujaddid As-Sayyid Muhammad Madhi Abul Azaim, Syaikh Qutbu Zein, Syaikh Muhammad Syahatah, juga murid dari Syaikh Abdul Qadir Mas’ud, murid dari Syaikh Irfat al-Jamal, Syaikh Muhammad Amir, Syaikh Thohir Mukhoritoh. Dalam kesehariannya, Syaikh Abdussalam memberikan pencerahan melalui dzikir dan ilmu di Masjid Amr ibn Ash di Kota Alexandria sampai akhir hayat. Syaikh Abdussalam Ali Syita wafat pada hari Selasa, tanggal 28 Januari tahun lalu.
Selain telah meninggalkan banyak murid, meninggalkan orang-orang terdidik dan tercerahkan secara keilmuan, moral dan spiritual, Syaikh Abdussalam Ali Syita juga meninggalkan karya, di antaranya adalah; kitab Jawami’ Ad-Doa’, kitab Ufuq al-Adzamah Al-Muhammadiyah, kitab As-Siroj Al-Munir fi Maqomat Sayyidil Mursalin, kitab “Uddatus Salikin fi Shalati ‘Ala Khatimin an-Nabiyyin, kitab Al-Mujahadah wa Al-Musyahadah Auliya’ Allah wa Asyfiya’uhu, kitab Ashholatu’ Mikraj, kitab Nidha’ul Qulub, kitab Manaqib Ahlil Bait wa Auliya’. Kitab As-Siroj al-Munir berisi sekitar 2500 hadits tentang kekhususan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya.
Mengutip dari tulisan Abdul Muhi di halaman facebooknya, Syaikh Abdussalam Ali Syita sering berkata;
أَشْرَقَتْ اَلشُّمُوْسُ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ فِي إِنْدُوْنِيْسِياَ
Artinya: “Bersinar cahaya-cahaya Sayyidina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Indonesia”.
Bagi penulis pribadi, isi kitab tersebut rasanya begitu dekat dengan tradisi dan model keislaman di Indonesia umumnya dan di Madura khususnya, yang banyak hidup dengan tradisi dan orientasi yang sufistik, mengedepankan usaha memperoleh dan menghadirkan cinta dari dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dari dan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kitab As-Siroj Al-Munir tidak hanya berisi ragam teks formal berupa Al-Quran dan hadits tetapi sekaligus berisi penjelasan-penjelasan dari Syaikh Abdussalam Ali Syita. Penulis mendapatkan beberapa eksemplar kitab As-Siroj Al-Munir, membagikan kepada beberapa kyai di Madura kemudian menjadi bahan dan rujukan mereka dalam menyampaikan ceramah-ceramah keagamaan seperti dalam kesempatan peringatan maulid Nabi. Seorang kyai yang memegang kitab As-Sirojul Munir menyampaikan ceramah dari kitab tersebut;
اَلْمَقاَمُ اَلْأَوَّلُ: صاَحِبُ اْلمَقاَمِ اَلْمَحْمُوْدِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ تَعاَلَى مُخاَطِباً نَبِيَّهُ (عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقاَماً مَحْمُوْداً) فاَلْمَقاَمُ اَلْمَحْمُودُ هُوَ اْلمَقاَمُ اَلَّذِي اِخْتَصَّ اَللَّهُ بِهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَثْنَى بِهِ عَلَيْهِ حَيْثُ يَحْمَدُهُ عَلَيْهِ سَائِرُ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِياَمَةِ وَهُوَ اَلْمَقاَمُ اَلَّذِي أَقاَمَهُ اَللَّهُ سُبْحاَنَهُ فِيْهِ لِلشَّفاَعَةِ، لِماَ رَواَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ قَوْلِهِ تَعاَلَى (عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقاَماً مَحْمُوْداً) قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ الشَّفاَعَةُ.
Artinya: “Maqom yang pertama. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah pemilik Al-Maqom Al-Mahmud. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Al-Maqom al-Mahmud adalah maqom yang oleh Allah dikhusukan hanya kepada Nabi Muhammad, dengan Al-Maqom Al-Mahmud Allah menyanjung Nabi Muhammad, kelak di hari kiamat, seluruh makhluk memuji Nabi Muhammad. Al-Maqom Al-Mahmud didirikan oleh Allah bagi Nabi Muhammad untuk wewenang memberikan syafaat, sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan; sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kemudian menjawab; Al-Maqam Al-Mahmud adalah syafaat.
Seorang kyai Madura yang memegang kitab As-Sirojul Munir itu kemudian menambahkan penjelasan dan ceritanya tentang Al-Maqam Al-Mahmud yang berarti syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ia kemudian menekankan pentingnya berdoa selepas adzan dikumandangkan, karena di sana ada Al-Maqom Al-Mahmud, meminta syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, doa setelah adzan sebagai berikut;
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna dan shalat yang berdiri, berikanlah wasilah (tempat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bangkitkan ia pada kedudukan terpuji (otoritas syafaat) yang Engkau janjikan. Sungguh, Engkau tidak akan menyalahi janji.”
Dalam kitab As-Siroj Al-Munir dimuat 70 maqom Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Di dalamnya juga membahas penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), akidah, ilmu hikmah, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai teladan dan rujukan tatakrama dalam banyak dimensi kehidupan. Selain dari isi kitab yang relevan dalam konteks keislaman di Indonesia umumnya dan di Madura khususnya, kitab ini menjadi sangat berharga bagi penulis karena seluruh isi kitab diberi komentar dan syakal oleh Syaikh ‘Ala Musthafa Na’imah Al-Azhari As-Syafi’i, sehingga pembaca tidak perlu merasa khawatir salah dalam membaca dan memahami hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan membaca As-Siroj Al-Munir secara keseluruhan.













Discussion about this post