Jhembharate, merupakan nama bagi Majelis Masyarakat Maiyah di Kabupaten Sampang. Nama adalah doa, jhembhar artinya luas, sedangkan ate artinya hati, Jhembharate artinya hati yang luas. Dalam tradisi Arab Islam, doa seorang hamba kepada Allah subḥānahū wa ta‘ālā menyangkut kebaikan bagi hati, jarang sekali menggunakan frasa “hati luas” (qalban wasi’an). Doa untuk kebaikan bagi hati sering menggunakan hati yang sehat dan selamat (qalban saliman) hati yang khusuk (qalban khasi’an) hati yang bagus (qalban shalihan) hati yang tenang (qalban muthmainnan).
“Luas” sering digunakan dalam doa memohon rezeki seperti dalam “rezeki luas” (rizqan wasi’an). Dalam tradisi Arab Islam pula, yang sering digunakan dalam doa adalah permohonan “dada luas” (syarhu shadri). Jhembharate menyusun doa sebagai penutup dalam acara-acara yang mereka adakan yang menukil dan mengadaptasi dari berbagai tradisi dan sumber:
بِسْمِ اللهِ الَّرْحمَنِ الرَّحِيْمِ. أَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، أَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُشْرَحُ لَناَ بِهاَ اَلْقَلْبُ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم، نَسْتَغْفِرُكَ رَبِّي وَنَتُوْبُ اِلَيْكَ مِنْ جَمِيْعِ اْلمَعاَصِيْ كُلِّهاَ واَلذُّنوُبِ واَلْآَثاَمِ عَمْداً وَخَطَأً ظاَهِراً وَباَطِناً قَوْلاً وَفِعْلاً فِي جَمِيْعِ حَرَكاَتِناَ وَسَكَناَتِناَ وَخَطَراَتِناَ وَأَنْفاَسِناَ كُلِّهاَ، اَلَّلهُمَّ اِجْعَلْ سَيِّئاَتِناَ سَيِّئاَتِ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلاَ تَجْعَلْ حَسَنَتِناَ حَسَناَتِ مَنْ أَبْغَضْتَ، اَلَّلهُمَّ اِناَّ نَسْأَلُكَ جَمْبَرْأَتِيهْ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ جُوْفِئ ْأَتِيهْ، نَسْأَلُكَ صَلَاحًا لِقُلُوْبِناَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ فَساَدِ قُلُوْبِناَ… ياَحاَفِظُ…. ياَ مُحَرِّكُ حَرِّكْ كُلَّ ظَواَهِرِناَ وَبَواَطِنِناَ اِلَى حِماَيَةِ دُنْياَناَ وَاَخِراَتِناَ فِى رِضاَكَ، أُرْزُقْناَ حِماَيَةَ اْلبَرِّ وَحِماَيَةَ اْلبَحْرِ وَحِماَيَةَ الْجَوِّ فىِ شُكْرِكَ وَحُسْنِ عِباَدَتِكَ، أَلَّلهُمَّ اِحْفَظْ وَباَرِكْ مَدُوْرَاناَ وَنُوْسَنْتاَرَاناَ ياَ اَللهُ ياَ مُنْزِلَ اْلبَرَكَاتِ، أَلَّلهُمَّ اِعْطِناَ التَّعْظِيْمَ بِكَ واَلْمَحَبَّةَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ واَلشَّفَقَةَ عَلَى اُمَّتِهِ صَلَّى اَللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُرْزُقْناَ حُبَّ اْلاِنْساَنِ واَلْاِنْساَنِيَّةِ، ألَّلهُمَّ أُرْزُقْناَ وَجَمِيْعَ أَهْلِناَ تَوْبَةً نَصُوْحَةً قَبْلَ اْلَمْوتِ وَشَهاَدَةً عِنْدَ اْلَمْوتِ وَنَسْاَلُكَ حُسْنَ اْلخَاتِمَةِ وَحُسْنَ الذِّكْرِ واَلسِّيْرَةِ بَعْدَ اْلوَفاَةِ وَيُسْرَ اْلِحساَبِ وَجَماَلَ اْلفِرْدَوْسَ اَلْأَعْلَى، اَلَّلهُمَّ اُرْزُقْناَ اَلْبَصِيْرَةَ فيِ اْلَحَياَةِ، واَلْحِكْمَةَ فيِ اْلعَقْلِ، واَلقُوَّةَ واَلشَّجاَعَةَ فيِ قُبُوْلِ تَقُلُّباَتِ اْلحَالِ، وَالصَّبْرَ وَالِّرضاَ عَلَىٰ اْلأَقْداَرِ، واَفْتَحْ لَناَ أَبْواَبَ رِزْقِكَ وَرِضاَكَ وَرَحْمَتِكَ ياَ كَرِيْمُ، أُرْزُقْناَ رِضاَ النَّفْسِ وَ زَكاَةَ الرُّوْحِ وَ زِيْنَةَ اَلْعَقْلِ، وَطَهاَرَةَ اْلقَلْبِ وَحُسْنَ اْلخُلُقِ وَحَلَاوَةَ الِّلساَنِ وَسِعَةَ الصَّدْرِ وَاْلقَلْبِ، أَلَّلهُمَّ لَا تَجْعَلْناَ مِمَّنْ يَأْمُرُوْنَ بِاْلَمعْرُوْفِ وَلَا يَأْتُوْنَهُ وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلُمْنَكرِ وَيَأْتُوْنَهُ، ياَ رَحْمَنَ وَياَ رَحِيْمَ الدُّنْياَ واَلْآَخِرَةِ اِرْحَمْناَ واَرْضَ عَنّاَ فِي الدُّنْياَ واَلْآَخِرَةِ اُكْتُبْ لَناَ فِي هَذِهِ الدُّنْياَ حَسَنَةً إِنَّا نَتُوْبُ إِلَيْكَ واَجْعَلْناَ مِمَّنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَ اْلقِياَمَةِ بِقَلْبٍ واَسِعٍ سَلِيْمٍ مُنِيْبٍ، صَلَوَاتُ رَبِّنَا وَسَلاَمُهُ وَبَركَاتُهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَعَلَى جَمِيْعِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلآئِكَةِ، واَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.
Artinya: “Dengan asma Allāh subḥānahū wa ta‘ālā Yang Maha Pengasih di dunia, Yang Maha Pengasih di dunia dan di akhirat. Semua puji hanya bagi Allah, yang menjadi Tuhan bagi segenap semesta. Shalawat, berkah dan salam tetap atas majikan kami, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang sebab shalawat itu, menjadi luas hati kami, shalawat juga atas keluarga dan sahabatnya. Kami memohon ampun, kami kembali kepadamu Ya Allah dari semua kedurhakaan, dosa di masa lampau, dari semua keberanian kepadaMu dan rasulMu, yang kami sengaja, yang kami tidak sengaja, lahir, batin, ucapan, tindakan, dalam semua gerakan, dalam semua diam, dalam semua ruang batin dan jiwa kami. Ya Allah, jadikanlah keburukan-keburukan kami sebagai sebagai keburukan orang yang Kau cintai, dan jangan jadikan kebaikan-kebaikan kami sebagai kebaikan orang yang Kau benci. Kami memohon kepadaMu luasnya hati, dan kami memohon kepadamu agar dijauhkan dari sempitnya hati. Berilah hati kami kebaikan, jangan beri hati kami keburukan. Duh Dzat Yang Maha Menjaga, Duh Dzat Yang Maha Menggerakkan, gerakkan semua raga dan batin kami menuju kepada kemauan menjaga dunia dan akhirat kami dalam ridhaMu. Beri kami rizki berupa kemauan menjaga bentang darat, bentang laut dan bentang udara kami sebagai bentuk syukur dan beribadah kepadaMu. Ya Allah, jagalah Madura kami, jagalah Nusantara kami duh Dzat Yang Maha Menurunkan Berkah. Anugerahkan kepada kami pengagungan terhadapMu, cinta kepada Nabi Muhammad dan belas kasihan kepada umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, beri kami rizki cinta kepada manusia dan kepada kemanusiaan. Beri kami rizki, juga keluarga kami, taubat sebelum mati, syahid waktu mati, husnul khatimah, kenangan indah, dan sejarah yang baik setelah mati, perhitungan yang mudah denganMu ya Allah, tempatkan kami di FirdausMu yang indah. Beri kami rizki di dunia berupa pengetahuan batin, hikmah dalam akal, kekuatan dan keberanian dalam menghadapi perubahan, sabar dan ridha atas semua takdir dariMu ya Allah, Dzat Yang Mulia Yang baik. Bukakan bagi kami pintu-pintu rizkimu, ridhamu, dan kasih sayangMu, beri kami rizki berupa jiwa yang menerima, kebersian ruh, keindahan akal, kesucian hati, kebaikan budi pekerti, keindahan ucapan dan beri kami dada dan hati yang luas. Ya Allah. Jangan jadikan kami orang-orang yang memerintah kebaikan tapi tidak mendatanginya, jangan jadikan kami orang-orang yang mencegah kemungkaran tapi kamudian mendatangi dan mengerjakannya. Duh Dzat yang Mengasihani kami di dunia dan di akhirat, kasihanilah dan ridhailah kami, catat kami di dunia ini sebagai orang-orang yang baik. Kami kembali kepadaMu ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang sowan kepadaMu setelah Hari Kiamat dengan hati yang luas, pasrah, hati yang kembali kepadaMu. Shalawat, salam dan berkah semoga senantiasa tetap atas atas majikan kami, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, juga atas semua keluarga dan sahabatnya, para nabi dan rasul, atas semua para malaikat. Semua puji hanya bagi Allah, yang menjadi Tuhan bagi segenap semesta.”
Apakah hati memang tidak terlalu berhubungan dengan keluasan atau sebaliknya, yaitu kesempitan? Jika merujuk kepada sebuah hadis Nabi tentang hati, dimana Rasulullah Saw pernah mengingatkan kita semua, tentang dalam jasad setiap manusia ada segumpal daging, yang jika daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad, dan jika daging itu rusak, maka rusak seluruh jasad, segumpal daging itu bernama hati (al-qalbu).
Subtansi hadis Nabi di atas menjadi penting kembali kita cermati karena menggunakan shalaha (baik) dan fasada (rusak). Barangkali jhembharate atau hati yang luas menyangkut ruang penerimaan manusia terhadap segela kehendak Sang Pencipta. Jhembharate sesuatu yang tidak berhubungan dengan ruang meteran yang kemudian memperkenalkan panjang pendek, lebar dan sempit. Ruang penerimaan itu bernama iman di hati kita, yang diakui oleh Allah dalam sebuah hadits qudsi lebih luas dari langit dan bumi; langit dan bumiku tidak bisa memperluas rahmatku, yang bisa memperluas rahmatku adalah hati seorang hamba yang beriman.
Di tahun 10-H, seperti dalam Nurul Yaqin fi Sirati Sayyid al-Mursalin karya Syaikh Muhammad bin Afifi al-Bajuri yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Muhammad al-Khudari Bik. Di tahun itu, datang 13 orang dari Tujaib dari Kindah, sebuah suku Arab kuno yang berasal dari Arabia Selatan. Mereka membawa zakat yang diwajibkan oleh Allah subḥānahū wa ta‘ālā kepada mereka. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam gembira atas kedatangan rombongan itu, memuliakan posisi dan tempat rombongan itu. Mereka kemudian berkata, “Ya Rasulullah. Kami mendatangkan haknya Allah subḥānahū wa ta‘ālā dalam harta kami kepada engkau.”
Rasulullah kemudian menjawab pernyataan mereka dengan mengatakan, “Kembalikan harta-harta itu, kemudian bagikan kepada orang-orang fakir kamu sekalian.”
Kemudian orang-orang Tujaib dari suku Kindah itu kembali menimpali, “Ya Rasulullah, kami tidak datang kepada engkau kecuali dengan harta yang lebih setelah dibagikan kepada orang-orang fakir di tempat kami.” Jawab mereka.
Sahabat Abu Bakar RA yang sedang berada di samping Rasulullah sampai heran yang kemudian berkata, “Jarang datang kepada kita utusan dari masyarakat Arab seperti orang-orang Tujaib ini.”
Komentar Abu Bakar RA yang kemudian ditanggapi oleh Rasulullah dengan berkata;
اِنَّ اْلهُدَى بِيَدِ اللهِ، فَمَنْ أَراَدَ بِهِ خَيْراً شَرَّحَ صَدْرَهُ ِلْلِاْيمَانِ
Artinya: “Sesungguhnya hidayah berada dan datang dari kekuasaan Allāh subḥānahū wa ta‘ālā, kalau orang yang dikehendaki baik olehNya maka Allah meluaskan dadanya orang itu untuk menerima iman.”
Orang-orang Tujaib dari suku Kindah itu berkumpul dengan Rasulullah setelah itu, bertanya tentang Alquran yang kemudian membuat mereka semakin suka dan bahagia. Ketika mereka berpamitan untuk kembali ke kampung halaman mereka di Arabia Selatan, Rasulullah bertanya, “Apa yang membuat kalian terburu-buru?”
Mereka kemudian menjawab dengan berkata “Kami akan kembali kepada orang-orang di kampung halaman. Kami akan memberi mereka kabar, tentang kami yang telah melihat Rasulullah.”
Rasulullah kemudian memberi mereka hadiah terbaik, seperti yang biasa dilakukan dan diberikan kepada orang-orang yang datang kepadanya, Rasulullah lantas bertanya: “Apa ada dari kalian yang tetap tinggal di sini?” Orang-orang Tujaib kemudian menjawab, “Ada, seorang anak muda yang kami tinggal di kemah kami. Ia paling muda usianya.” Rasulullah kemudian meminta anak muda itu dipanggil menghadapnya. Anak muda itu berkata ketika pertama kali bertemu Rasulllah, “Ya Rasulullah, hamba termasuk dari rombongan yang baru saja datang kepada engkau, yang telah engkau penuhi hajat-hajat mereka. Ya Rasulullah, sekarang penuhi hajatku.” Pinta anak muda itu.
“Apa hajatmu?” Tanya Rasulullah.
Anak muda itu kemudian berkata: “Mintakan kepada Allāh subḥānahū wa ta‘ālā agar Ia mengampuni hamba, belas kasihan kepada hamba, dan Ia menjadikan kekayaan hamba dalam hati hamba (kaya hati).”
Rasulullah kemudian mendoakan anak muda itu dengan doa:
اَلَّلهُمَّ اِغْفِرْ لَهُ واَرْحَمْهُ واَجْعَلْ غِناَهُ فِى قَلْبِهِ.
Artinya” “ Ya Allah, maafkan dia, kasihani dia, dan jadikan kekayaannya ada dalam hatinya.













Discussion about this post