Enam Bulan Menuju Perjumpaan
Sayyidah Fathimah Zahra Ummu Abiha
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridai Islam sebagai agama kalian. (QS. Al-Maidah: 3)
Di dalam ayat ini terdapat isyarat halus yang menyentuh, bahwa ajal Nabi yang mulia telah semakin dekat. Ayat yang turun pada Haji Wada’ yang pada kesempatan itu, Nabi Muhammad sering berkata kepada para sahabatnya yang mulia:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَلَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي
“Ambillah manasik haji kalian dariku, karena bisa jadi aku tidak lagi bertemu kalian setelah tahun ini.” (Syarah Sunan Abi Dawud lil Abbadi: 8/223).
Setelah beliau kembali ke Makkah, Nabi mengidap sakit yang awalnya disangka oleh kaum Muslimin hanya sakit biasa yang akan segera berlalu. Namun tidak demikian bagi Fathimah. Ia merasakan kegelisahan yang dalam, kecemasan yang tak bisa ia jelaskan. Penyakit yang menimbulkan firasat buruk dalam dirinya, terdapat rasa takut dan panik, seolah hatinya akan pecah oleh kekhawatiran.
Dengan tergesa-gesa ia datang menemui ayahandanya, diliputi kecemasan dan rasa takut.
Ketika Nabi Muhammad melihatnya datang, beliau menyambutnya dengan wajah ceria dan berkata:
مَرْحَبًا بِابْنَتِي
“Selamat datang putriku.” (Shohih Bukhori: 8/47)
Beliau mendudukkannya di sisi kanannya. Lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya, dan Fathimah pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Nabi Muhammad membisikkan bahwa ajal beliau telah dekat, sehingga Fathimah menangis karena takut berpisah. Lalu beliau memberi kabar bahwa Fathimah akan menjadi anggota keluarga yang pertama menyusul beliau, dan Fathimah pun tersenyum gembira karena akan segera bertemu kembali.
Kemudian Rasulullah berpindah menuju Ar-Rafiq Al-A‘la, tempat tertinggi di sisi Allah. Fathimah bersedih dengan kesedihan yang tak terbayangkan. Ia berdiri di sisi makam beliau yang mulia, tubuhnya menggigil oleh duka, lalu mengambil segenggam tanah dari pusara ayahandanya. Ia membawanya ke wajahnya, menciumnya, sambil berkata dalam suara yang bergetar oleh kesedihan yang dalam
ماذَا عَلَى مَنْ شَمَّ تُرْبَةَ أَحْمَد * أَلا يَسمَّ مَدَى الزَّمَانِ غَوَالِيا
صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبٌ لَوْ أَنَّهَا * صُبَّتْ عَلَى الْأَيَّامِ عُدْنَ لَيَالِيَا
“Apa yang bisa terjadi pada orang yang mencium tanah makam Ahmad ,
bagaimana mungkin setelah itu ia bisa merasakan manisnya hidup?”
“Musibah-musibah yang menimpaku…
seandainya ditimpakan pada siang hari, niscaya ia berubah menjadi malam.”
Setelah itu, Fathimah kembali ke rumahnya. Hatinya penuh luka, tubuhnya dipenuhi duka. Sejak hari itu, tidak ada lagi senyum yang terlihat di wajahnya—hingga akhirnya ia menyusul ayahandanya enam bulan kemudian.
Ketika ia wafat, Ali berdiri di dekat makamnya. Kenangan tentang kesetiaan dan bakti Fathimah terus berputar dalam benaknya. Dalam suaranya yang sendu dan dipenuhi tangis, ia berkata:
لِكُلِّ اجْتِمَاعِ مِنْ خَلِيْلَيْنِ فُرْقَةٌ * وَكُلُّ الَّذِي فَوْقَ التَّرَابِ قَلِيلُ
وَإِنَّ افْتِقَادِي فَاطِمَا بَعْدَ أحمد * * دَلِيلٌ عَلَى أَنْ لَا يَدُوْمَ خَلِيلٌ
“Setiap pertemuan dua sahabat pasti ada waktunya berpisah.
Dan segala yang hidup di atas bumi—tak ada yang abadi.
Kehilanganku terhadap Fathimah setelah kehilangan Ahmad …
adalah bukti bahwa tak ada teman yang kekal selamanya.”
Lalu ia melanjutkan dengan air mata yang jatuh tanpa henti, dadanya sesak oleh duka:
إلى الله أَشْكُو لَا إِلَى النَّاسِ إِنَّنِي * أَرَى الْأَرْضَ تَبْقَى وَالْأَحِبَّةُ تَذْهَبُ
أَخِلَّايَ لَوْ غَيْرَ الْحِمَامِ أَصَابَكُمْ * عَتَبْتُ وَلَكِنْ مَا عَلَى الْمَوْتِ مَعْتَبِ
“Kepada Allah aku mengadu, bukan kepada manusia ….
Aku melihat bumi tetap ada, tapi orang-orang yang kucintai satu per satu pergi.
Wahai sahabat-sahabatku… Seandainya yang menimpa kalian bukanlah kematian,
aku pasti akan menegur kalian.
Namun apa yang bisa disesalkan dari sesuatu yang pasti datang?”
Sayyidah Fathimah wafat pada hari Senin, tanggal 2 Ramadhan, tahun 11 Hijriyah—enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Usianya saat itu sekitar 28 tahun, dan sebagian riwayat menyebut 30 tahun.
* Sumber: Kitab ‘iqdul Lul karya Sayyid Muhammad bin Hasan Bin Alawi Al-Haddad













Discussion about this post