Termasuk seni dalam bercanda adalah gojlokan. Secara definisi gojlokan memang lebih spesifik dari pada bercanda. Roasting (gojlok) adalah suatu bentuk humor atau lawakan ketika seseorang menjadi sasaran lelucon yang di maksudkan untuk menghibur khalayak yang lebih luas. Hal demikian ditujukan untuk menghormati seseorang dengan cara tersendiri. Tidak seperti yang kita pahami sebelumnya, gojlokan bukan ajang untuk saling menyakiti bukan pula pentas yang menjatuhkan lawan bicara. Lebih kompleks dari itu, gojlokan merupakan cara untuk tertawa bersama, bentuk respek antar jiwa dan tujuan-tujuan positif yang lainnya. Konklusinya, tidak ada efek negatif dalam wujud gojlokan itu sendiri.
Nabi Muhammad pernah suatu saat menjadi sasaran gojlokan Sayyidina Ali di saat makan kurma bersama para sahabat lain. Sayyidina Ali yang menyodorkan biji kurma bekas beliau makan kepada hadapan Baginda Nabi seraya berkata “Wahai Nabi, begitu laparnya engkau, sehingga menghabiskan beberapa kurma, coba lihat di hadapanmu, Nabi!” Gojlok Sayyidina Ali. Dengan selera humor yang tinggi Nabi tak tinggal diam, Nabi menimpali dan membalas gojlokan dengan perkataan beliau “Wahai Ali, lebih lapar lagi engkau, sehingga menghabiskan banyak kurma sekaligus biji-bijinya”. Begitu kiranya kedekatan Nabi dengan para sahabatnya sehingga Nabi rela dijadikan objek gojlokan yang notabenenya merupakan simbol keakraban, begitu yang diceritakan Habib Husein Hadar dalam salah satu bukunya.
Alkisah, lagi-lagi cerita nabi dan gojlokan beliau, dahulu ada seorang nenek dari sahabat anshor sowan pada Nabi Muhammad SAW guna memohon doa agar diampuni dosanya. Nabi sang mulia malah menggojlok dengan dawuh beliau “apakah kamu tahu bahwa surga tidak menerima orang-orang tua?”. Lantas si nenek terlihat sedih, lalu Nabi tersenyum dan membacakan Q.S Al-Waqiah ayat 35 yang memberi tahu bahwa di surga semua orang akan dikembalikan muda seperti sedia kala tak terkecuali si nenek tersebut. Mendengar hal demikian hati si nenek lega, bahagianya tidak kepalang.
Di kesempatan lain si nenek kembali sowan pada Nabi Muhammad SAW menanyakan perihal suaminya. Lantas Rasulullah bertanya “Yang mana suamimu, Nek?” “Fulan” jawab nenek “Oh yang di matanya ada putih-putihnya itu ya, Nek?” lanjut Nabi. Selanjutnya Nabi dan si nenek tetap bersikukuh mempertahankan keyakinannya, si nenek bilang bahwa suaminya adalah orang yang tidak ada putih dimatanya, sedang Nabi masih saja mengatakan bahwa si kakek mempunya putih mata. Sampai di permintaan nenek “Coba perlihatkan, wahai Rasul bahwa suamiku punya putih mata! (yang dikira nenek adalah semacam katarak)”. Dengan penuh sahaja Nabi katakan “coba lihat, Nek. Bagian putih mata si kakek lebih banyak dari pada hitam di bola mata”. Lagi-lagi ini bukti riil bahwa betapa Nabi masih menjaga etika dalam menggojlok, sehingga beliau katakan “saya bercanda, tapi tak akan aku candakan kecuali suatu yang benar.”
Walau gojlokan itu asyik adanya, kendati demikian, gojlokan juga memiliki batasan, aturan dan etikanya tersendiri. Di antaranya adalah tidak membuat orang yang diroasting sampai sakit hati, pula tidak ada niat menjatuhkan, dengan kata lain syaratnya adalah murni bergurau dan berbagi tawa. Sebab, semenjak ada kata “baper” banyak orang lupa caranya bercanda, tak tahu batasan bergurau. Memang gojlokan adalah simbol kedekatan, orang kalau belum akrab tiba-tiba berani menggojlok kesannya akan tidak sopan —untuk tidak dikatakan orang yang kurang ajar—.
Saya juga lebih respek dan lebih menaruh rasa hormat pada orang yang menempatkan dirinya sebagai objek gojlokan alias ia berpura-pura bodoh atau sinting supa khalayak yang menyaksikan ikut tertawa bersama dari pada memberi hormat kepada orang yang memposisikan satu orang sebagai sasaran empuk gojlokan yang mana sering terjadi sakit hati sebab dipermalukan. Saya ulangi lagi, saya lebih menaruh hormat pada sosok pertama.
Kata syahid Muhammad “Adakalanya kau hanya ikut tertawa saat sedang tersakiti, kau juga tahu betul mana kalanya kau menertawakan rasa sakitmu. Kalau tahu begitu belajar hati-hati menertawakan orang di sekelilingmu, bukan tidak mungkin mereka juga harus tertawa saat engkau menyakitinya. Kita belajar mana tertawa yang berasal dari kesenangan, mana tertawa yang berasal dari rasa sakit.”
Sebelum paragraf ini, tulisan di atas ada lima paragraf, paragraf pertama aku ingin bermain, selanjutnya aku mulai bermain, aku malah asyik bermain, dan terus bermain, paragraf terakhir, aku tak main-main. Gojlokan itu asyik selagi bukan perihal agama, keluarga, kekurangan, dan kesukaan.













Discussion about this post