Sebagai manusia, kita hidup hari ini dalam dunia dengan ragam mitos seputar kebahagiaan. Beberapa mitos itu seperti adanya anggapan bahwa dengan menjadi kaya harta kita pasti bahagia. Masyarakat dengan ukuran kebahagiaan yang demikian kemudian menarik kesimpulan tentang orang kaya harta sebagai orang yang bahagia. Sebaliknya, orang yang miskin harta dianggap sebagai orang yang sengsara dan menderita. Memang, menjadi orang kaya harta bisa saja membuat manusia menjadi bahagia, tapi tidak semua kebahagiaan bagi masing-masing manusia bersumber dari harta.
Pandangan masyarakat dengan ukuran menyangkut kebahagiaan yang demikian berangkat dari adanya anggapan yang lain menyangkut kebahagiaan, yaitu ketika manusia bisa memenuhi semua keinginannya akan menciptakan kebahagiaan. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bisa memebuhi semua keinginannya kemudian dianggap sebagai orang sengsara dan menderita. Kedua ukuran itu menjadi mitos karena tidak semua orang kaya pasti bahagia, sama mitosnya dengan orang yang mengatakan bahwa “menjadi miskin pasti bahagia.” Artinya, harta bukan satu-satunya penentu kebahagiaaan. Sedangkan yang kedua, kita menyaksikan sendiri hari ini tentang usaha manusia yang selalu memenuhi keinginan sebagai penyebab penderitaan, seperti berapa banyak penyakit yang bersumber dari keinginan makan yang selalu dipenuhi dari seseorang.
Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (450-505 H) menulis makalah berjudul Kimiya’us Sa’adah yang berisi tentang kimia kebahagiaan. Kimiya’u merujuk pada tradisi filosofis abad pertengahan yang bertujuan mengubah atau transmutasi benda dasar seperti logam menjadi emas. Di zaman al-Ghazali, kimiya’u digunakan dalam definisi yang demikian, atau penggabungan ragam unsur seperti kimia, fisika, seni, astrologi, semiotika, metalurgi, kedokteran, agama dan mistisisme. Kimiya’u adalah protosains, atau sebagai cikal-bakal ilmu kimia modern sebelum dirumuskannya metode ilmiah. Di sini, yang dimaksud dari kimia kebahagiaan oleh al-Ghazali adalah proses dalam diri kita agar menjadi bahagia.
Pertama, menurut penulis dalam pengantarnya, al-Ghazali telah menggunakan dua istilah yang berbeda, yaitu melihat (ro’a) dan menyaksikan (syahada). Allah SWT memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya dalam peristiwa memiikrajkan Nabi Muhammad SAW menggunakan kata yaro yang dalam bahasa Arab artinya menyaksikan langsung atau tanpa perantara. Sedangkan kata syahada yang artinya menyaksikan tapi tidak mesti secara langsung, atau menggunakan perantara. Tulis al-Ghazali dalam pengantar Kimiya’us Sa’adah:
أَحْمَدُهُ مَنْ رَأَى اَياَتِ قُدْرَتِهِ وَقُوَّتِهِ وَشاَهَدَ الشَّواَهِدِ مِنْ فُرْداَنِيَّتِهِ وَوَحْداَنِيَّتِهِ وَطَرَقَ طَواَرِقَ سِرِّهِ وَبِرِّهِ وَقَطَفَ ثِماَرَ مَعْرِفَتِهِ مِنْ شَجَرِ مَجْدِهِ وَجُوْدِهِ.
Artinya: “Aku memujiNya dengan pujian orang yang melihat tanda-tanda kekuasaaan dan kekuatanNya, orang yang menyaksikan bukti-bukti keesaanNya. Pujian orang yang telah mengetuk pintu-pintu rahasia dan kemurahaNya, orang yang telah memetik buah-buahan makrifat dari pohon anugerah dan kedermawananNya.”
Kedua, proses kebahagiaan dalam pandangan al-Ghazali harus dimulai melalui derajat proses menghadirkan kenabian (hadrah a-nubuwwah). Tidak ada jalan yang benar selain itu. Proses pertama yang harus dilalui dengan mengenal diri sendiri. Karena hakikat kebahagiaan menurutnya adalah mengenal Allah SWT yang itu tidak bisa tercapai kecuali setelah seseorang mengenal dirinya sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ.
Artinya: “ Barangsiapa yang telah mengenal dirinya maka ia sungguh-sungguh telah mengenal Tuhannya.”
Ketiga, menyangkut kebahagiaan hewan, setan dan malaikat. Kebahagiaan hewan menurut al-Ghazali ada pada makan, minum, tidur dan hubungan seksual. Sedangkan kebahagiaan setan ada pada aktivitas keburukan seperti tipu daya dan ragam kejelekan. Sedangkan kebahagiaan malaikat adalah dengan persaksian (musyahadah) kepada keindahan hadirat ketuhanan (hadrati rububiyyati) yang tidak memberi jalan pada angkara murka dan hawa nafsu untuk mencapai para malaikat. Kalau kita berada dalam esensi malaikat, kita harus benar-benar mengetahui asal kita sehingga sampai tahu jalan menuju ke hadirat ketuhanan (hadrat ilahiyyah) sampai pada persaksiaan keagungan dan keindahan (musyahadah al jalal wal jamal).
Keempat, Bagaimana cara kita mengenal diri sendiri? Mengenal diri dari dua sisi, yaitu dari sisi bathin (al-qalb/an nafs) yang bisa kita kenal melalui mata batin, karena hakikat kita sebagai manusia adalah bathin, bukan fisik. Segala sesuatu yang bisa kita saksikan melalui mata dhahir itu yang disebut dengan dunia syahadah (alam syahadah). Yang lain dari sisi jiwa dan ruh yang menurut al-Ghazali ruh merupakan bagian dari keseluruhan kekuasaan Ilahi dan termasuk dari wilayah wewenang Allah. Manusia di sisi lain ada dalam alam penciptaan (alam khalqi) dan di sisi lain ada dalam alam wewenang (‘alam al amri).
Kelima, untuk apa hati (al-qalbu) diciptakan? Hati diciptakan untuk pekerjaan akhirat, mencari kebahagiaan dengan cara mengenal Tuhannya.
واَلْقَلْبُ مَخْلُوْقٌ لِعَمَلِ اْلأَخِرَةِ طَلَباً لِسَعاَدَتِهِ وَسعاَدَتُهُ مَعْرِفَةُ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعْرِفَةُ رَبِّهِ تَعاَلىَ تَحْصُلُ لَهُ مِنْ صُنْعِ اللهِ وَهُوَ مِنْ جُمْلَةِ عاَلَمِهِ وَلَا تَحْصُلُ لَهُ مَعْرِفَةُ عَجاَئِبِ اْلعَالَمِ اِلَّامِنْ طَرِيْقِ اْلحَواَّسِ، واَلْحَواَسُّ مِنَ اْلقَلْبِ.
Artinya: “Hati diciptakan untuk amal akhirat guna mencari kebahagiaannya, kebahagian adalah mengenal Tuhannya, sedangkan mengenal Allah bisa dicapai melalui tindakan Allah (shan’illah) dan hati itu merupakan kumpulan alamnya. Hati tidak bisa mencapai keajaiban-keajaiban alam kecuali melalui pancaindra.”
Keenam, hati mempunyai bala tentara. Bala tentara dhahir itu adalah pada syahwat dan angkara murka. Sedangkan bala tentara batin bagi hati adalah otak, kekuatan imajinasi, proses berpikir, menghafal, memori, dan prasangka. Setiap bala tentara ini mempunyai pekerjaan khusus, maka jika lemah kerja salah satu dari mereka maka kemudian menjadi lemah kondisi manusia di dunia dan akhirat. Dari semua bala tentara itu, pusatnya ada pada hati. Mereka semua mengikuti hati sebagaimana para malaikat mengikuti Tuhan mereka. Hati selalu bermusyawarah dengan akal kemudian menjadikan syahwat dan angkara murka berada di bawah kendalinya, sampai menjadi stabil kondisi jiwa seseorang dan hal itu menjadi sebab kebahagiaan dan menjadi sebab mengenal hadirat ketuhanan (hadrati al-ilahiyyah). Sebaliknya, ketika akal diletakkan berada di bawah kendali syahwat dan angkara murka (ghadab) jiwa seseorang akan menjadi rusak dan ia akan celaka di akhirat.
Ketujuh, syahwat dan angkara murka menjadi pelayan bagi jiwa, jiwa menjadi pelayan bagi pancaindra, sedangkan pancaindra menjadi pelayan bagi akal, dan akal menjadi pelayan bagi hati.
Kedelapan, terdapat tiga pondasi kebahagiaan, yaitu kekuatan angkara murka, kekuatan syahwat, dan kekuatan ilmu. Ketiga kekuatan harus benar-benar dikelola secara ideal. Ketika syahwat berlebih, akan mendekatkan seseorang pada tindakan amoral, tapi kalau sampai kurang maka manusia akan menjadi lemah, ketika kekuatan angkara murka berlebih akan mudah melakukan tindakan kekerasan. Tapi di sisi lain ketika angkara murka kurang atau tidak ideal, maka seseorang juga akan menjadi lemah tidak bergairah.
Kesembilan, relasi hati bersama bala pasukannya banyak menentukan perilaku baik seorang manusia (al-akhlaq al-hasanah) dan perilaku buruk manusia (al-akhlaq al-qabihah).
Kesepuluh, Apakah sosok manusia sesuai dengan esensinya? Penampilan manusia mengikuti esensinya. Di permukaan manusia terdapat empat penampilan, yaitu anjing, babi, setan dan malaikat. Yang dikuasai angkara murka (gahdab) akan tampil dalam bentuk anjing. Orang yang dikuasai nafsu (syahwat) tampil dalam bentuk babi. Menjadi manusia harus benar-benar bisa mengontrol gerak gerik batinnya, berpenampilan seperti apa dirinya dalam empat penampilan tersebut.
Kesebelas, hati memiliki dua pintu bagi ilmu-ilmu. Pintu pertama bagi impian-impian (ahlam). Pintu kedua bagi alam bangun atau alam jaga. Hati seperti cermin, sama dengan Lauhil mahfuzh juga seperti cermin. Kalau saja cermin satu dihadapkan dengan cermin yang lain maka gambar-gambar yang ada di cermin satu akan tampil di cermin yang lain. Alam metafisik (alam malakut) akan tertutup bagi hati yang dipenuhi hawa nafsu duniawai. Kalau dalam keadaan tidur itu kosong dari hubungan-hubungan indrawi, maka ia akan dapat melihat alam metafisik dan muncul dalam hati gambar-gambar yang ada dalam Lauhil Mahfudz. Kemampuan melihat alam metafisik tidak hanya bisa dilakukan pada saat tidur dan mati saja, itu juga bisa dilakukan dalam keadaan bangun dan jaga, dengan cara berjuang dan melatih diri, menghindari diri dari dominasi nafsu, angkara murka dan perilaku buruk dan hina.
Keduabelas, keyakinan terhadap ketuhanan (attasdhiq birrububiyati) merupakan fitrah manusia secara umum, tidak hanya dikhususkan bagi para nabi dan wali. Esensi manusia memang diciptakan untuk itu. Tapi itu berlaku bagi hati (al-qalbu) yang tidak terjajah oleh nafsu dan maksiat. Pencapaian baik bagi hati itu bisa dilakukan dengan kesungguhan (mujahadah).
Ketigabelas, nikmat dan bahagia manusia terhadap dalam proses mengenal Allah SWT. MengenalNya merupakan debit kebahagiaan, semakin besar mengenalNya semakin besar kebahagiaan seseorang. Mengenal Allah (makrifatullah) membuat seseorang menjadi asyik dan tidak sabar ingin segera memasuki alam persaksian (musyahadah).
Keempatbelas, jiwa manusia sebagai jagad kecil (microcosmos) merupakan ikhtisar dari jagad raya (macrocosmos). Dalam jiwa manusia (nafs) terdapat banyak makhluk yang beragam, yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing dalam melayani manusia. Tapi kita sebagai manusia sering lupa dan sering tidak bersyukur kepada Allah SWT atas ragam kenikmatan dan pelayanan itu.
Kelimabelas, mengenal susunan tubuh manusia dan fungsi-fungsinya. Bagi setiap orang yang menginginkan mengamati dirinya dan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah SWT yang ada dalam dirinya ia perlu mengetahui tiga hal sebagai sifat-sifat ketuhanan. Pertama perlu mengetahui bahwa yang menciptakan sosok tubuh manusia adalah Mahakuasa dalam mencipta dengan sempurna. Kedua mengetahui ilmu Allah SWT, Ia menguasai segala sesuatu. Ketiga perlu mengetahui kelembutan-kelembutan Allah SWT, pertolongan dan kasih sayangNya.
Keenambelas, orang yang tidak mengetahui dirinya tapi mengaku mengenal pihak lain seperti seseorang yang bangkrut, tidak punya makanan bagi dirinya sendiri tapi mengaku memberi makan orang-orang fakir satu kota. Sesuatu yang tidak mungkin. Tulis al-Ghazali:
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ نَفْسَهُ وَهُوَ يَدَّعِىْ مَعْرِفَةَ غَيْرِهِ فَهُوَ كاَلَّرجُلِ اَلْمُفْلِسِ اَلَّذِى لَيْسَ لَهُ طَعاَمٌ لِنَفْسِهِ وَهُوَ يَدَّعِى أَنَّهُ يَقُوْتُ فَقَراَءِ اْلمَدِيْنَةِ فَهَذاَ مُحاَلٌ.
Artinya: “Orang yang tidak mengenal dirinya tapi di sisi lain ia mengaku mengenal pihak lain ia seperti seseorang bangkrut yang tidak punya makanan bagi dirinya sendiri tapi mengaku telah memberi makan orang-orang fakir satu kota. Hal itu tidak mungkin.”
Ketujuhbelas, kapan binatang lebih utama dari manusia? Jawabannya; ketika seseorang manusia kembali kepada nafsu-nafsu duniawi. Jika demikian, pada hari kiamat kelak binatang-binatang akan mengungguli manusia. Binatang-binatang kembali ke menjadi tanah sedangkan manusia ada dalam alam siksa (adzab).
Kimia atau proses kebahagiaan dari al-Ghazali memang bertumpu pada tahapan mengenal diri sendiri (makrifattunnafsi) dengan orientasi mengenal Allah SWT (makrifatullah) dengan tumpuan ada dalam batin manusia (al-qalbu), melalui kesungguh-sungguhan (mujahadah) dan persaksian (musyahadah). Kimia atau proses kebahagiaan dari al-Ghazali menjadi relevan bagi kehidupan kita hari ini karena banyak mitos-mitos kebahagian mengelilingi kehidupan kita hari ini, mitos itu bertumpu pada alam fisik (alam jasad), seperti adanya anggapan yang mengatakan bahwa dengan menjadi orang baik akan sulit menjadi manusia yang bahagia, atau adanya anggapan bahwa kesempurnaan fisik menghadirkan kebahagiaan.
Berapa banyak bukan orang baik yang sengsara dan menderita hari ini. Berapa banyak juga seseorang yang secara fisik sempurna, cantik dan tampan tapi batinnya menderita dan tersiksa. Barangkali yang paling fatal seputar mitos kebahagiaan di zaman media sosial hari ini adalah kebahagiaan memerlukan pengakuan dari orang lain.













Discussion about this post