Buku berjudul Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan Abad ke-17 karya Adrian B. Lapian ini dalam pengantarnya mencatat bahwa seorang pejuang intelektual yang memulihkan kesadaran maritim Indonesia memberikan gambaran cukup komprehensif mengenai situasi kemaritiman dari tiap-tiap kepulauan Indonesia pada abad ke-16 dan abad ke-17.
Pada bagian awal buku, Anthony Reid menulis pengantar untuk pembacanya mengenai siapakah Adrian B. Lapian itu sendiri. Pengantar ini cukup membantu pembaca untuk bisa memahami urgensi tulisan penulisnya dan mengapa tulisan dalam buku ini penting untuk selalu didiskusikan.
Ia menggambarkan bagaimana sistem pelayaran menandai terbangunnya beragam macam jalur dagang dan menghadirkan dinamika-dinamika kepulauan antara kerajaan-kerajaan maritim maupun bangsa-bangsa lain seperti Eropa, Tiongkok, dan Gujarat.
Buku terdiri tiga bab. Bab pertama secara runut membahas persoalan teknologi dan pusat-pusat pelayaran. Bagaimana pelayaran Indonesia saat itu sudah mengenali arah mata angin walau ada perbedaan antara daerah kemaritiman yang satu dengan lainnya. Tak luput soal perkembangan kartografi Indonesia juga diungkit.
Tak cuma itu, catatan soal pembuatan kapal yang diperoleh dari sumber-sumber primer pelayaran portugis dibahas secara detail, juga dicatat adanya jalan pusat-pusat pelayaran yang menandai hadirnya proses perniagaan.
Kemudian bab kedua membahas mengenai pola pelayaran dan perdagangan yang secara lebih rinci mengungkit adanya pemilik modal pelayaran dan perdagangan, pelaksana pelayaran dan perdagangan, hingga jenis barang ekspor dan impor dan tempat penghasil barang perdagangan.
Dalam penulisan pada bagian ini tergambar secara utuh dinamika perniagaan yang melibatkan berbagai suku bangsa dan upaya penguasaan jalur-jalur dagang. Kehadiran VOC yang mewarnai dinamika perdagangan dan upaya penguasaan turut diulas pada bab kedua ini. Sementara di sisi lain juga dijelaskan motif lain perdagangan seperti upaya untuk menyebarkan agama misalnya.
Kemudian bab ketiga membahas soal bagaimana pelabuhan sebagai jalan pusat pelayaran beserta perdagangan memiliki karakternya masing-masing di setiap wilayah. Pada bab ini penulis menjelaskan secara detail mengenai tata letak dan fungsi-fungsi pelabuhan sebagai jembatan perniagaan, organisasi pelabuhan, dan bagaiman kerajaan-kerajaan maritim di Indonesia memiliki sistem pemungutan beacukai karena penempatan pelabuhan sebagai pintu gerbang terjadinya transaksi ekspor dan impor.
Dalam penarasiannya, Adrian B. Lapian menegaskan secara berulang bahwa sumber-sumber primer yang dimiliki Indonesia masihlah sangat minim untuk bisa memperoleh gambaran utuh seberapa baikkah pengetahuan Indonesia mengenai pelayaran Indonesia pada kedua abad tersebut. Artinya untuk memperoleh pandangan soal kondisi pelayaran Indonesia, ia masih bergantung pada catatan-catatan dari Eropa.
Adanya keterbatasan ini juga menjadikan catatan kemaritiman Indonesia tetap perlu dikembangkan lebih lanjut. Dalam artian ia menganjurkan tetap dibutuhkannya penelitian-penelitian yang mampu mengkaji lebih jauh dan dalam lagi.
Meski begitu, pembaca tetap mampu memahami bagaimana penulisnya berupaya membangun narasi yang cukup padat dan sistematis antara satu bab dengan bab lain. Sehingga pembaca akan dibawa secara mengalir melalui deskripsi penulis yang disertai beberapa ilustrasi menarik, merangsang daya imajinasi detail perihal kondisi perlayaran maupun perniagaan Indonesia pada abad ke-16 dan abad ke 17.
Buku yang tergolong ringkas ini juga menyediakan versi bahasa inggrisnya dalam satu jilid yang sama. Kita patut membaca lebih lanjut. Membaca Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan ke-17 bukan hanya mengajak pembaca untuk menengok kejayaan maritim masa lampau, tetapi juga mengingatkan bahwa posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan dunia adalah warisan yang harus dikelola dengan visi yang tepat.
Dalam konteks modern misalnya, ketika pemerintah kembali menggencarkan wacana “Poros Maritim Dunia”, karya Adri Adrian B. Lapian ini menjadi pengingat bahwa kekuatan pelayaran dan perdagangan tak hanya bertumpu pada teknologi atau letak geografis, melainkan juga pada kemampuan pengelolaan sumber daya, dan penjagaan kedaulatan di tengah persaingan global. Itu merupakan tantangan kita sebagai warna Indonesia. Negara kepulauan yang menyediakan taman surga kehidupan.
Discussion about this post