Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Populisme Religius dan Hilangnya Independensi Moral di Kalangan Gus Muda

Ahmad Miftahussalam by Ahmad Miftahussalam
1 November 2025
A A
Populisme Religius dan Hilangnya Independensi Moral di Kalangan Gus Muda

Ilustrasi artikel. (Foto prompt: sungkemkiai.com/warits)

Fenomena “Gus dan Ning ngartis” semakin menonjol dalam lanskap keagamaan kontemporer Indonesia. Sebutan Gus dan Ning yang sejatinya merepresentasikan warisan keilmuan, keteladanan moral, serta komitmen sosial kiai pesantren, kini mengalami pergeseran makna. Gelar tersebut, dalam konteks media sosial, cenderung direduksi menjadi identitas populer atau bahkan label “selebritas religius.”

Media sosial, yang semula dapat menjadi ruang dakwah dan refleksi intelektual, kini berubah menjadi panggung pencarian validasi. Banyak figur keagamaan muda tampil dengan konten yang lebih menonjolkan aspek personal dan gaya hidup ketimbang substansi keilmuan. Fenomena ini menandai pergeseran orientasi dari dakwah berbasis nilai menuju dakwah berbasis pasar.

Masalah epistemologis muncul ketika sebutan Gus atau Ning diperlakukan sebagai modal simbolik untuk membangun citra personal (personal branding), bukan lagi sebagai representasi otoritas keilmuan dan tanggung jawab sosial. Alih-alih mengangkat isu amar ma’ruf nahi munkar, maqashid syariah, atau maslahah ‘ammah, sebagian konten yang dihasilkan justru bersifat ringan, lucu, dan mengikuti selera algoritma. Akibatnya, figur Gus yang seharusnya menjadi pewaris tradisi intelektual pesantren lebih tampak seperti public figure ketimbang penegas moral sosial.

Dampak dari fenomena ini ialah pudarnya daya kritis kalangan agamawan muda. Sebagian di antara mereka lebih memilih tampil akrab dengan kekuasaan, berpose bersama pejabat, atau menormalisasi kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat kecil. Padahal, secara historis, peran Gus dan Ning adalah sebagai corong independen yang menjaga jarak dari kepentingan kuasa dan modal. Ketika peran kritis ini melemah, masyarakat kehilangan salah satu sumber kontrol moral yang otonom.

Fenomena “Gus ngartis” juga menunjukkan gejala komodifikasi agama, yaitu ketika nilai-nilai spiritual dan dakwah dijadikan komoditas hiburan. Dakwah bergeser dari ruang tahqiq (pendalaman ilmu) menjadi sekadar tontonan yang menekankan aspek performatif. Masyarakat pun lebih tertarik pada ceramah yang ringan, lucu, dan viral ketimbang yang ilmiah dan reflektif. Kondisi ini mencerminkan krisis literasi keagamaan, di mana keberislaman direduksi menjadi simbol-simbol visual tanpa kedalaman makna.

Padahal, tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya diukur dari popularitas, tetapi dari kedalaman pemahaman dan konsistensi adab ilmiah. Karena itu, tugas para Gus bukan sekadar mengisi panggung publik, melainkan menjaga maqam keilmuan agar tidak tergerus oleh tren digital yang dangkal.

Menertawakan agama memang mudah, tetapi menanamkan pemahaman, adab, dan nalar kritis adalah jihad intelektual yang sesungguhnya.

Ahmad Miftahussalam

Ahmad Miftahussalam

Mahasantri Ma'had Aly Lirboyo. Minat kajian Fiqih dan Tarikh.

ARTIKEL TERKAIT

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah
Kolom

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

24 Mei 2026
Ah.. Saya Ingin Melihat Santri Menulis
Kolom

Ah… Saya Ingin Melihat Santri Menulis

22 Mei 2026
Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk
Kolom

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

14 Mei 2026
Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 
Kolom

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

7 Mei 2026
Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen
Kolom

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia
Kolom

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

24 Mei 2026
Ah.. Saya Ingin Melihat Santri Menulis

Ah… Saya Ingin Melihat Santri Menulis

22 Mei 2026
Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

14 Mei 2026
Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

7 Mei 2026
Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.