Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

Ahmad Dhiyaul Lamik by Ahmad Dhiyaul Lamik
14 Mei 2026
A A
Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

Ilustrasi artikel. (Foto: Warits)

Dalam perjalanan kehidupan manusia, agama seharusnya menjadi jalan menuju ketakwaan dan penyucian jiwa. Akan tetapi, tidak semua orang mendekati agama dengan niat yang bersih. Ada sebagian manusia yang justru menjadikan simbol-simbol kesalehan sebagai alat untuk menutupi hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Fenomena ini telah lama dikritik oleh para ulama, salah satunya oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin.

Beliau berkata:

وقد يظهر بعضهم زي التصوف وهيئة الخشوع وكلام الحكمة على سبيل الوعظ والتذكير وإنما قصده التحبب إلى امرأة أو غلام لأجل الفجور وقد يحظرون مجالس العلم والتذكيروحلق القرآن يظهرون الرغبة في سماع العلم والقرآن وغرضهم ملاحظة النساء والصبيان أو يخرج إلى الحج ومقصوده الظفر بمن في الرفقة من امرأة أو غلام

وهؤلاء أَبْغَضُ الْمُرَائِينَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا طاعة ربهم سلمًا إلى معصيته واتخذوها آلة ومتجرًا وبضاعة لهم في فسقهم ويقرب من هؤلاء وإن كان دونهم من هو مقترف جريمة اتهم بها وهو مصر عليها ويريد أن ينفي التهمة عن نفسه فيظهر التقوى لنفي التهمة كالذي جحد وديعة واتهمه الناس بها فيتصدق بالمال ليقال إنه يتصدق بمال نفسه فكيف يستحل مال غيره وكذلك من ينسب إلى فجور بامرأة أو غلام فيدفع التهمة عن نفسه بالخشوع وإظهار التقوى

إحياء علوم الدين ٣/‏٣٠٤ — أبو حامد الغزالي (ت ٥٠٥)

“Sebagian dari mereka menampilkan pakaian seperti ahli tasawuf, sikap khusyuk, dan ucapan-ucapan hikmah dalam bentuk nasihat dan peringatan. Padahal tujuan mereka hanyalah untuk menarik perhatian seorang perempuan atau pemuda demi perbuatan maksiat. Mereka juga menghadiri majelis ilmu, majelis nasihat, dan halaqah Al-Qur’an dengan menampakkan ketertarikan untuk mendengarkan ilmu dan Al-Qur’an, padahal maksud mereka hanyalah memperhatikan perempuan dan anak-anak muda. Atau mereka pergi berhaji, namun tujuan mereka sebenarnya adalah mendapatkan perempuan atau pemuda yang ada dalam rombongan.

Mereka itulah orang-orang yang paling dibenci oleh Allah di antara para pelaku riya’, karena mereka menjadikan ketaatan kepada Tuhan mereka sebagai tangga menuju kemaksiatan kepada-Nya. Mereka menjadikan ibadah sebagai alat, perdagangan, dan barang dagangan untuk kefasikan mereka.

Mendekati golongan ini — meskipun tingkat dosanya masih di bawah mereka — adalah orang yang melakukan suatu kejahatan yang dituduhkan kepadanya, lalu ia tetap melakukannya dan ingin menepis tuduhan itu dari dirinya dengan menampakkan ketakwaan. Seperti orang yang mengingkari titipan harta lalu masyarakat menuduhnya, kemudian ia bersedekah dengan hartanya agar orang berkata: ‘Dia bersedekah dari hartanya sendiri, maka bagaimana mungkin ia memakan harta orang lain?’ Demikian pula orang yang dituduh berbuat zina dengan perempuan atau pemuda, lalu ia menolak tuduhan itu dengan menampakkan kekhusyukan dan ketakwaan.”

— Ihya’ Ulum al-Din karya Abu Hamid al-Ghazali.

Perkataan ini mengandung kritik yang sangat tajam terhadap orang-orang yang memanfaatkan agama demi kepentingan duniawi dan syahwat tersembunyi. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada sebagian orang yang menampilkan diri dengan pakaian sufi, wajah penuh kekhusyukan, dan ucapan penuh hikmah. Mereka hadir di majelis ilmu, duduk di halaqah Al-Qur’an, bahkan melakukan ibadah seperti haji. Namun semua itu bukan karena cinta kepada Allah, melainkan karena ada tujuan tersembunyi: mencari perhatian lawan jenis, memburu syahwat, atau menjaga citra diri di hadapan manusia.

Inilah bentuk riya’ yang paling berbahaya. Jika riya’ biasa adalah beribadah agar dipuji manusia, maka riya’ jenis ini lebih parah lagi karena agama dijadikan alat untuk mendukung kemaksiatan. Kesalehan bukan lagi tujuan, tetapi topeng untuk menutupi kebusukan hati. Orang seperti ini menggunakan ibadah sebagai tangga menuju dosa. Mereka menjual simbol agama demi kepentingan nafsu.

Imam al-Ghazali menyebut mereka sebagai orang yang paling dibenci Allah di antara para pelaku riya’. Sebab, mereka tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga merusak kehormatan agama. Ketika masyarakat melihat perilaku buruk yang tersembunyi di balik jubah kesalehan, kepercayaan terhadap dakwah dan ilmu agama pun bisa runtuh. Inilah sebabnya kemunafikan sering kali lebih berbahaya daripada maksiat terang-terangan.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada masa Imam al-Ghazali. Di zaman sekarang, kita dapat melihat bagaimana sebagian orang menggunakan citra religius demi popularitas, keuntungan ekonomi, atau bahkan untuk memanipulasi orang lain. Ada yang rajin mengunggah nasihat agama tetapi diam-diam melakukan kemaksiatan. Ada yang aktif di majelis ilmu bukan karena ingin belajar, melainkan untuk mencari relasi tertentu. Ada yang membangun tempat pendidikan, namun menyimpan kebrutalan diri serta melakukan pencabulan. Bahkan tidak sedikit yang memakai simbol kesalehan demi membangun reputasi sosial.

Tentu kita tidak boleh mudah menuduh seseorang munafik atau tidak ikhlas. Urusan hati adalah hak Allah. Namun, nasihat Imam al-Ghazali ini penting sebagai bahan muhasabah agar kita selalu memperbaiki niat. Sebab penyakit riya’ sering kali masuk secara halus tanpa disadari. Seseorang mungkin memulai amal dengan niat baik, tetapi kemudian tergoda oleh pujian manusia, perhatian publik, atau keuntungan duniawi.

Karena itu, para ulama sangat menekankan pentingnya ikhlas. Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal. Ketika seseorang belajar agama, berdakwah, bersedekah, atau beribadah hanya demi Allah, maka amal tersebut akan menjadi cahaya bagi dirinya. Sebaliknya, ketika amal dijadikan alat untuk kepentingan hawa nafsu, maka amal itu berubah menjadi petaka yang menghancurkan hati.

Selain itu, teks Imam al-Ghazali juga mengajarkan bahwa citra kesalehan tidak selalu menunjukkan kebersihan batin. Seseorang bisa terlihat khusyuk, pandai berbicara tentang hikmah, atau aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi hatinya dipenuhi ambisi dunia. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan keseimbangan antara memperbaiki lahir dan batin. Kesalehan sejati bukan hanya tampak pada pakaian atau ucapan, melainkan pada ketulusan hati dan konsistensi akhlak.

Pada akhirnya, nasihat ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menjadikan agama sebagai alat untuk mencari keuntungan pribadi. Agama adalah jalan menuju Allah, bukan sarana memenuhi syahwat dan ambisi dunia. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Sebab ilmu tanpa keikhlasan hanya akan melahirkan kepalsuan.

Ahmad Dhiyaul Lamik

Ahmad Dhiyaul Lamik

Mahasantri Ma'had Aly Darussalam

ARTIKEL TERKAIT

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 
Kolom

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

7 Mei 2026
Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen
Kolom

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia
Kolom

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026
Kita Itu Sukses Di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran
Kolom

Kita Itu Sukses di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

29 Maret 2026
Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur
Kolom

Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

17 Maret 2026
Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?
Kolom

Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?

4 Maret 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

14 Mei 2026
Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

7 Mei 2026
Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026
Refleksi Perjalanan Intelektual Imam Sibawaih

Refleksi Perjalanan Intelektual Imam Sibawaih

2 Mei 2026
Kita Itu Sukses Di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

Kita Itu Sukses di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

29 Maret 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.