Sejarah keilmuan Islam menyimpan sebuah keanehan yang jarang kita sadari: nama-nama yang paling abadi di dalamnya hampir selalu punya satu momen gelap yang sama—sebuah titik di mana mereka berdiri sebagai orang yang paling salah di ruangan itu. Bukan salah dalam arti moral, melainkan salah dalam arti yang bagi seorang penuntut ilmu terasa jauh lebih berat: salah di depan guru, di depan rekan-rekan seperguruan, di hadapan ilmu yang selama ini ia kira sudah ia genggam dengan baik.
Yang menarik bukan kesalahannya itu sendiri. Yang menarik adalah apa yang mereka lakukan sesudahnya—dan mengapa sebagian dari mereka justru keluar dari momen itu sebagai versi diri yang jauh lebih tangguh, lebih dalam, dan lebih tak terbendung dari sebelumnya.
Amr bin Utsman bin Qanbar adalah salah satunya.
Sore yang Mengubah Segalanya
Dunia mengenalnya dengan nama Sibawaih, Kitabnya, Al-Kitab, dijuluki para ulama sebagai “Al-Qur’an-nya Ilmu Nahwu”, sebuah perbandingan yang bukan pujian sembarangan. Tapi jauh sebelum semua itu, ada satu sore di sebuah majelis ilmu di kota Basrah yang nyaris mengubur nama itu sebelum sempat bersinar.
Awalnya, Sibawaih muda datang ke Basrah bukan untuk belajar bahasa. Minat utamanya adalah ilmu hadis. Ia berguru kepada Hammad bin Salamah, salah satu ulama hadis paling disegani di kota itu.
Pada suatu hari di majelis tersebut, Hammad mendiktekan sebuah hadis:
مَا أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي إِلا وَقَدْ أَخَذْتُ عَلَيْهِ، لَيْسَ أَبَا الدَّرْدَاءِ
“Tidak ada seorang pun dari sahabatku kecuali aku telah mengambil darinya kecuali Abu Darda’.”
Sebagai murid yang bertugas mengulang bacaan, Sibawaih pun membacakan kembali hadis itu. Sampai di bagian akhir, ia membaca “Laisa Abu ad-Darda'”—dengan dhammah, karena ia mengira kata laisa di situ berfungsi untuk merafa’kan.
Hammad langsung menghentikannya.
لَحَنْتَ يَا سِيبَوَيْهِ، لَيْسَ هَذَا حَيْثُ ذَهَبْتَ، وَإِنَّمَا لَيْسَ هَاهُنَا اسْتِثْنَاءٌ
“Engkau salah baca, wahai Sibawaih. Bukan seperti itu maksudnya. Kata ‘laisa’ di sini bermakna pengecualian—istitsna.”
Mendapat teguran dan koreksi di depan banyak, alih-alih berputus asa dan marah kepada gurunya, teguran tersebut justru menyalakan api tekad di dalam dirinya. Ia membuat sebuah janji besar pada dirinya sendiri.
لَا جَرَمَ، لَأَطْلُبَنَّ عِلْمًا لَا تَلْحَنُنِي فِيهِ أَبَدًا
“Sungguh, aku benar-benar akan menuntut suatu ilmu yang membuat tidak ada seorang pun sanggup menyalahkan tata bahasaku.”
Janji itu tidak ia ucapkan kepada siapa-siapa. Tapi ia membuktikannya kepada semua orang.
Setelah insiden itu, Sibawaih bergeser haluan. Ia menemui Khalil bin Ahmad al-Farahidi—seorang ahli bahasa yang kecerdasannya sudah melegenda—dan di bawah bimbingan gurunya yang baru ini, ia mulai membedah anatomi bahasa Arab dari dasarnya, menyusun kaidah-kaidah yang selama ini hanya tersebar penutur asli, menggali syair-syair kuno sebagai data, dan menuangkan semuanya ke dalam satu karya yang kemudian dikenal sebagai Al-Kitab- sebuah karya yang menjadi kiblat ilmu nahwu hingga hari ini, lebih dari dua belas abad setelah ia ditulis.
Hasil dari Sebuah Teguran
Teguran Hammad bin Salamah itu, dalam satu sisi, adalah momen yang memalukan. Tapi dalam sisi yang lain, ia adalah hadiah yang menyamar. Tanpa teguran itu, Sibawaih mungkin akan terus berjalan di jalur yang sama—menjadi perawi hadis yang baik, tapi biasa. Tidak ada dorongan untuk berbalik, menggali lebih dalam, dan membangun sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan ironi yang paling indah di ujung cerita ini: Sibawaih, yang pernah dikoreksi oleh seorang ahli hadis karena tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, akhirnya merumuskan kaidah yang membuat semua ulama sesudahnya—termasuk para ahli hadis—harus merujuk pada sistem tata bahasa yang ia ciptakan.
Sebuah Refleksi yang Tidak Lekang Waktu
Kisah Sibawaih menawarkan sesuatu relevan bagi siapa pun yang sedang meniti jalan akademik, dalam disiplin apa pun. Bahwa puncak keilmuan tidak bisa dicapai tanpa kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa salah—dan bahwa kritik, sekalipun datang dengan cara yang menyakitkan, adalah salah satu guru paling jujur yang bisa kita miliki.
Sibawaih mengajarkan bahwa momen paling memalukan dalam hidup seseorang tidak harus menjadi titik akhir. Ia bisa menjadi titik balik—asal kita tahu ke mana kemarahan dan rasa malu itu harus diarahkan.













Discussion about this post