Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

Ahmad Dhiyaul Lamik by Ahmad Dhiyaul Lamik
7 Mei 2026
A A
Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

Ilustrasi. (Sumber: Dok. Istimewa)

Isu penghapusan program studi (prodi) pendidikan yang belakangan ini mencuat layak mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Wacana tersebut, yang sering dikaitkan dengan penyesuaian kebutuhan pasar kerja atau efisiensi kelembagaan, justru menimbulkan kekhawatiran mendalam. Bukan tanpa alasan, prodi pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak tenaga pendidik yang menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Oleh karena itu, gagasan penghapusan prodi pendidikan patut ditolak secara rasional dan proporsional.

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa pendidikan bukan sekadar sektor biasa, melainkan pilar utama kemajuan bangsa. Tidak ada negara maju tanpa sistem pendidikan yang kuat, dan tidak ada sistem pendidikan yang berkualitas tanpa tenaga pendidik yang profesional. Prodi pendidikan hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyiapkan calon guru yang tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki kompetensi pedagogik, sosial, dan kepribadian. Jika prodi ini dihapus, maka akan muncul kekosongan dalam proses regenerasi tenaga pendidik yang berkualitas.

Kedua, argumen yang menyatakan bahwa jumlah lulusan prodi pendidikan terlalu banyak dan tidak terserap pasar kerja perlu dikaji ulang secara mendalam. Permasalahan sebenarnya bukan pada jumlah lulusan, melainkan pada distribusi dan kebijakan penyerapan tenaga kerja. Di banyak daerah, khususnya wilayah terpencil, masih terjadi kekurangan guru. Ironisnya, di sisi lain terdapat lulusan pendidikan yang menganggur. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan sistem, bukan kegagalan prodi pendidikan itu sendiri. Menghapus prodi pendidikan bukanlah solusi, melainkan bentuk pelarian dari akar masalah.

Ketiga, prodi pendidikan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mencetak guru formal. Lulusan pendidikan juga dapat berkontribusi di berbagai bidang seperti pelatihan, pengembangan kurikulum, pendidikan nonformal, hingga dunia industri yang membutuhkan tenaga pengajar dan fasilitator. Dengan kata lain, kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan bersifat fleksibel dan relevan dengan berbagai sektor. Menghapus prodi ini berarti mempersempit peluang kontribusi sumber daya manusia dalam berbagai lini kehidupan.

Selain itu, penghapusan prodi pendidikan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan nasional dalam jangka panjang. Tanpa sistem pendidikan tinggi yang secara khusus menyiapkan calon guru, maka kualitas tenaga pengajar akan sangat bergantung pada pelatihan singkat atau jalur instan yang belum tentu efektif. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan proses kompleks yang membutuhkan pemahaman psikologi belajar, metodologi pengajaran, dan kemampuan evaluasi. Semua itu dipelajari secara sistematis dalam prodi pendidikan, bukan secara instan.

Keempat, secara kultural dan ideologis, guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa. Di Indonesia, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan kebangsaan. Jika prodi pendidikan dihapus, maka akan terjadi degradasi dalam proses pembentukan karakter generasi muda. Ini bukan sekadar isu akademik, tetapi menyangkut masa depan identitas bangsa.

Kelima, jika alasan penghapusan prodi pendidikan adalah efisiensi atau rasionalisasi anggaran, maka pendekatan tersebut perlu dikritisi. Pendidikan tidak bisa dipandang semata-mata dari sisi ekonomi jangka pendek. Investasi di bidang pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu bisa diukur secara instan. Mengurangi atau menghapus prodi pendidikan demi efisiensi justru dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar di masa depan, baik dari segi kualitas sumber daya manusia maupun daya saing bangsa.

Alih-alih menghapus, yang seharusnya dilakukan adalah melakukan reformasi dan peningkatan kualitas prodi pendidikan. Kurikulum perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk integrasi teknologi digital, pendekatan pembelajaran inovatif, serta penguatan kompetensi praktis. Selain itu, perlu adanya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia kerja dalam menyerap lulusan pendidikan secara lebih optimal. Dengan demikian, permasalahan yang ada dapat diselesaikan tanpa harus mengorbankan eksistensi prodi pendidikan.

Lebih jauh lagi, penghapusan prodi pendidikan juga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Banyak mahasiswa yang memiliki minat dan panggilan jiwa menjadi guru akan kehilangan wadah formal untuk mengembangkan diri. Hal ini dapat mengurangi minat generasi muda untuk terjun ke dunia pendidikan. Padahal, profesi guru membutuhkan dedikasi dan kecintaan, bukan sekadar pilihan karier alternatif.

Di sisi lain, penting juga untuk melihat bahwa tantangan pendidikan di era modern semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan pola belajar, serta dinamika sosial menuntut tenaga pendidik yang adaptif dan inovatif. Prodi pendidikan justru menjadi semakin relevan dalam menjawab tantangan tersebut. Menghapusnya sama saja dengan melemahkan kesiapan bangsa dalam menghadapi perubahan zaman.

Sebagai penutup, penolakan terhadap penghapusan prodi pendidikan bukan berarti menutup mata terhadap berbagai kelemahan yang ada. Kritik dan evaluasi tetap diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Namun, solusi yang ditawarkan harus bersifat konstruktif, bukan destruktif. Menghapus prodi pendidikan bukanlah jalan keluar, melainkan langkah mundur yang dapat mengancam masa depan pendidikan nasional.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek—mulai dari kebutuhan tenaga pendidik, kualitas pendidikan, hingga masa depan bangsa—maka jelas bahwa prodi pendidikan masih sangat dibutuhkan. Yang diperlukan saat ini bukan penghapusan, melainkan penguatan. Sebab, dari ruang-ruang kelas yang diisi oleh guru-guru berkualitas, lahirlah generasi yang akan menentukan arah bangsa ke depan.

Ahmad Dhiyaul Lamik

Ahmad Dhiyaul Lamik

Mahasantri Ma'had Aly Darussalam

ARTIKEL TERKAIT

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen
Kolom

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia
Kolom

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026
Kita Itu Sukses Di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran
Kolom

Kita Itu Sukses di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

29 Maret 2026
Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur
Kolom

Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

17 Maret 2026
Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?
Kolom

Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?

4 Maret 2026
Catatan Ngaji KH. An’im (2): Fokus Melangkah dan Berbenah Diri, Abaikan Penilaian Orang Lain
Kolom

Catatan Ngaji KH. An’im (2): Fokus Melangkah dan Berbenah Diri, Abaikan Penilaian Orang Lain

3 Maret 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

Kita Butuh Evaluasi Bukan Eliminasi: Meninjau Ulang Penghapusan Prodi Pendidikan 

7 Mei 2026
Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

Dekonstruksi Perilaku Hubungan Premarital Tanpa Orientasi Kelekatan Permanen

7 Mei 2026
Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

Ketika Ketenaran Menjadi Racun: Risiko Tersembunyi di Balik Perhatian Manusia

7 Mei 2026
Refleksi Perjalanan Intelektual Imam Sibawaih

Refleksi Perjalanan Intelektual Imam Sibawaih

2 Mei 2026
Kita Itu Sukses Di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

Kita Itu Sukses di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

29 Maret 2026
Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

17 Maret 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.