Ada sebuah ungkapan dari para ulama yang berbunyi “إقبال الناس على المريد سم قاتل” yang artinya “ketertarikan orang-orang terhadap seorang murid adalah racun yang membunuh.” Ini mengandung peringatan yang dalam, terutama bagi mereka yang menjalani jalan pengetahuan dan dakwah. Pernyataan ini bukanlah untuk menghalangi perhatian dari orang lain sepenuhnya, tetapi sebagai pengingat akan risiko tersembunyi yang bisa merusak keikhlasan dan menghancurkan kemajuan spiritual seseorang.
Dalam proses belajar atau mendekat kepada Allah, seorang murid (baik dalam konteks tasawuf maupun belajar secara umum) perlu fokus pada niatnya. Tujuan utama haruslah untuk meraih keridaan Allah, bukan untuk terkenal atau mendapatkan pujian dari orang lain. Namun, saat seseorang mulai terkenal dan dihormati, muncul potensi timbulnya penyakit hati seperti riya, ujub, dan takabur. Inilah yang dimaksud dengan “racun berbahaya” oleh para ulama tersebut.
Racun ini beroperasi dengan cara yang halus. Pada awalnya, seseorang mungkin merasa bahagia atas penghargaan yang diterimanya. Itu adalah hal yang wajar. Namun, jika tidak berhati-hati, kebahagiaan tersebut dapat berubah menjadi ketergantungan pada pandangan orang lain. Ia mulai beramal bukan lagi demi Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian, diakui, atau menjaga reputasinya di hadapan orang lain. Ketika ini terjadi, amal yang terlihat baik secara fisik justru kehilangan nilainya di sisi Allah.
Lebih parah lagi, ketenaran bisa membuat seseorang merasa sombong. Seorang murid mungkin mulai berpikir bahwa ia telah mencapai tingkatan tertentu, padahal sebenarnya ia masih dalam tahapan belajar. Ia bisa menjadi enggan menerima nasihat, sulit untuk dikoreksi, dan merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, rendah hati adalah kunci penting untuk pertumbuhan.
Pernyataan ini juga mengingatkan kita bahwa ketenaran bukanlah tolok ukur kebenaran. Banyak orang yang diikuti bukan karena pengetahuannya yang mendalam, melainkan karena cara penyampaiannya yang menarik atau citra yang telah dibangun. Jika seorang murid terjebak dalam situasi ini, ia mungkin tergoda untuk beradaptasi dengan keinginan publik, bukan dengan kebenaran yang seharusnya ia pegang. Ini adalah bentuk penyimpangan yang sangat berbahaya.
Oleh karena itu, para ulama zaman dahulu sangat berhati-hati dengan ketenaran. Mereka sering kali menyembunyikan amalnya, bahkan banyak dari mereka tidak ingin dikenal secara luas. Bukan karena mereka menolak dakwah, tetapi karena mereka sadar betapa sulitnya menjaga hati di tengah perhatian orang. Mereka lebih memilih untuk dikenal oleh Allah meskipun di bumi tidak banyak yang mengetahui.
Namun, bukan berarti segala bentuk perhatian dari orang lain itu buruk. Jika ketenaran muncul sebagai akibat dari keikhlasan dan dimanfaatkan untuk hal-hal positif, maka itu bisa menjadi alat dakwah yang efektif. Yang menjadi masalah adalah saat hati mulai bergantung pada perhatian tersebut. Maka, penting untuk melakukan muhasabah (introspeksi) secara rutin.
Seorang murid harus terus-menerus bertanya dalam hatinya: untuk siapa saya melakukan ini? Apakah saya tetap bersemangat beramal meskipun tidak ada yang melihat atau memuji? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk menjaga ketulusan niat. Selain itu, ia juga perlu menjaga hubungan dengan guru atau orang-orang saleh yang bisa mengingatkannya ketika ia mulai tersesat.
Kesimpulannya, pernyataan “إقبال الناس على المريد سم قاتل” merupakan nasihat yang sangat penting, terutama pada zaman sekarang yang terbuka dan dipenuhi dengan budaya ketenaran. Contohnya, media sosial bisa dengan cepat membuat seseorang terkenal dalam waktu singkat. Tanpa dasar keikhlasan yang kokoh, hal ini bisa menjadi tantangan yang sulit.
Oleh karena itu, strategi terbaik adalah tetap berfokus pada tujuan utama: mencari rida Allah. Perhatian orang lain mungkin datang dan pergi, tetapi keikhlasan harus tetap dipertahankan. Dengan cara ini, seorang murid tidak akan terjerat dalam “racun mematikan” tersebut, tetapi akan tetap istiqamah dalam perjalanan menuju kebaikan yang sejati.
* Disarikan dari kitab Al-Minah Al-Qudsiyyah Alal Hikam Al-Athoiyyah karangan Ibnu Athoillah As-Sakandary













Discussion about this post