Suatu hari, di tengah rutinitas berselancar di Instagram, jemari saya terhenti pada sebuah unggahan feed. Postingan itu menyoroti hal yang cukup menohok, yakni kegagalan beberapa santri dalam menunjukkan kontribusi dan amal positifnya di tengah masyarakat umum. Ruang komentar sering kali bising dengan kritik, tetapi kolom komentar di bawah postingan itu justru membawa saya pada sebuah keheningan reflektif. Seorang netizen menuliskan sebuah harapan yang mendalam, dibalut dalam untaian perenungan:
“Andai saja para santri di pondok mencatat keterangan dari gurunya kemudian ditambahkan dengan ilmu yang mereka punya untuk selanjutnya disebarluaskan di media sosial, niscaya ilmu pesantren akan dirasakan banyak orang luar.”
Kalimat itu membuat saya tertegun. Saya terdiam sejenak, memikirkan bagaimana jadinya jika hal itu benar-benar menjadi sebuah gerakan massal. Membayangkan sebuah tatanan digital yang berbeda, sebuah dunia di mana ruang media sosial tidak lagi dipenuhi oleh polarisasi dan konten nirfaedah, melainkan oleh kebijaksanaan yang mengalir jernih dari bilik-bilik pesantren. Ah. Apa mungkin?
Gagasan tentang santri yang menulis sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan sebuah resonansi dari warisan intelektual Islam sedari dahulu. Pikiran saya langsung melayang pada untaian hikmah klasik yang diwariskan oleh Imam Syafi’i. Beliau pernah menegaskan bahwa ilmu itu ibarat hewan buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Oleh sebab itu, ikatlah buruanmu dengan cara menulisnya.
Ketika seorang santri mulai menggoreskan pena—atau dalam konteks hari ini, mengetik di layar gawai mereka—bisa saja mereka sedang melakukan tindakan penyelamatan sejarah. Mereka sedang memastikan bahwa ilmu yang didapat dengan tirakat bertahun-tahun tidak mati di dalam ingatan individu saja, melainkan abadi dan terus beranak pinak.
Refleksi saya membawa ingatan pada dawuh seorang ulama, KH. Ali Khidir Jombang. Beliau kurang lebih pernah menyampaikan sebuah perspektif yang sangat pas dengan kondisi saya saat itu. Kata beliau:
“Salah satu khidmah santri ke gurunya adalah mencatat dawuh gurunya kemudian menyebarkannya.”
Pernyataan ini seketika mengubah cara pandang saya tentang arti pengabdian (khidmah). Tradisi khidmah di pesantren tidak boleh lagi dibatasi hanya pada ranah fisik—seperti membersihkan ndalem atau menata sandal kiai. Di era keterbukaan informasi ini, menyebarkan mutiara ilmu sang guru ke jagat maya adalah bentuk kesetiaan intelektual dan spiritual yang luar biasa tinggi kualitasnya.
Mari kita bayangkan jika formula ini diterapkan secara konsisten oleh para santri:
Pertama, santri mendengarkan dengan takzim, menyerap esensi dawuh kiai.
Kedua, santri menambahkan perspektif keilmuan modern yang mereka miliki untuk menjawab tantangan zaman.
Dan terakhir, santri mengemasnya menjadi konten media sosial yang estetis, mudah dipahami, dan menyejukkan bagi orang luar.
Jika langkah ini berjalan, maka bukan tidak mungkin media sosial akan bertransformasi menjadi pesantren virtual terbesar di dunia.
Dinding pesantren tidak boleh menjadi benteng pemisah yang membuat masyarakat awam merasa asing dengan agama yang ramah. Ketika ruang publik digital hari ini kerap dikuasai oleh narasi yang kaku, kehadiran tulisan para santri yang kaya akan metodologi keilmuan, sanad yang jelas, dan akhlak yang luhur menjadi sebuah keniscayaan yang dinanti-nanti.
Ah.. pada akhirnya, ada sebuah kerinduan yang membuncah di dalam dada saya. Saya ingin melihat santri menulis.
Saya merindukan jemari yang biasa membolak-balik kitab gundul itu, kini juga lincah menari di atas papan ketik, menenun kata demi kata untuk menerangi sudut-sudut gelap dunia digital. Sebab saya percaya, saat santri mulai menulis dan menyebarkan ilmunya, mereka tidak hanya sedang berselancar di dunia maya, melainkan sedang membawa kedamaian dan berkah pesantren ke pelukan semesta.
Lantas, kapan santri mulai menulis?













Discussion about this post