Rajab selalu datang tanpa banyak suara. Ia tidak menggedor pintu, tidak pula membawa perayaan. Ia hadir seperti jeda yang nyaris luput jika kita tidak cukup pelan untuk menyadarinya. Di antara bulan-bulan yang lain, Rajab seakan memilih berdiri sedikit di pinggir dan memberi ruang bagi siapa pun yang ingin berhenti sejenak lalu menoleh ke dalam.
Namun di zaman yang serba cepat, Rajab sering kita sambut dengan cara yang tergesa. Pesan-pesan berantai beredar, daftar amalan dibagikan, potongan teks keagamaan berpindah dari satu layar ke layar lain. Semuanya tampak baik, tampak saleh, tampak penuh niat. Tetapi di sela itu, jarang kita bertanya. Apakah makna masih ikut dirawat, atau justru tertinggal di belakang.
Rajab, jika dibaca pelan, bukan bulan untuk menambah beban. Ia lebih menyerupai ruang jeda sebelum langkah panjang. Ia tidak meminta kita melakukan lebih banyak, melainkan mengajak kita menyadari apa yang sedang kita lakukan. Bukan menumpuk amalan, tetapi menjaga agar amalan tidak kehilangan arah.
Ada kalanya ibadah berjalan terlalu otomatis. Dilakukan karena sudah waktunya dan diulang karena sudah terbiasa. Tidak salah, tetapi ada sesuatu yang perlahan memudar ketika kita berhenti mendengarkan diri sendiri. Makna yang dulu hidup bisa menjadi samar, seperti warna yang lama terpapar cahaya tanpa pernah dirawat kembali.
Di sinilah Rajab bekerja secara sunyi. Ia tidak mengoreksi, tidak memerintah, dan tidak pula menghakimi. Ia hanya membuka kemungkinan. Barangkali yang kita butuhkan bukan tambahan, melainkan perawatan. Barangkali yang perlu diasah bukan jumlah, melainkan kesadaran.
Seni merawat makna tidak selalu hadir dalam hal besar. Ia justru tumbuh dalam gerak-gerak kecil yang sering kita sepelekan. Membaca doa tanpa tergesa. Menahan diri sebelum menilai. Mengakui bahwa tidak semua ibadah kita pahami sepenuhnya, dan itu tidak apa-apa. Dalam kejujuran semacam itu, makna sering kali kembali menemukan tempatnya.
Kita hidup di masa ketika kesalehan mudah terlihat. Angka, unggahan, dan simbol-simbol rohani beredar dengan cepat. Rajab mengajak kita keluar sejenak dari kebiasaan itu. Ia tidak menuntut pengakuan dan tidak membutuhkan panggung. Ia cukup hadir sebagai pengingat bahwa yang sunyi pun memiliki nilai.
Merawat makna juga berarti memberi jarak dari kebisingan. Tidak semua pesan harus diteruskan. Tidak semua anjuran perlu direspons segera. Ada saatnya kita memilih diam. Bukan karena abai, melainkan karena ingin lebih jujur pada diri sendiri. Dalam diam itu, ibadah sering kali menjadi lebih manusiawi.
Rajab mengajarkan bahwa perjalanan batin tidak selalu bergerak maju dengan cepat. Ada fase-fase yang memang dimaksudkan untuk mengendap, untuk membiarkan niat diperiksa ulang, dan untuk memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan kecil yang selama ini kita tunda. Di dunia yang gemar bergerak, Rajab justru menawarkan keberanian untuk melambat.
Pada akhirnya, Rajab tidak meminta kita menjadi lebih sibuk. Ia hanya mengajak kita menjadi lebih sadar. Bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas yang terus diulang, melainkan laku yang membentuk cara kita memaknai hidup. Jika makna dirawat, amalan akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu dipaksa.
Di tengah dunia yang terus mendesak, Rajab berbisik pelan. Tidak apa-apa melambat, asal kita tetap mendengar apa yang sedang kita jalani. Sebab dalam laku spiritual, yang paling sering menyelamatkan kita bukan banyaknya jalan yang ditempuh, melainkan kesediaan hati untuk kembali pulang.













Discussion about this post