Kalau kita pernah ngaji kitab Jurumiyah, Durusul Lughah, Imrithi, Alfiyah dan sejenisnya, pasti tidak asing dengan nama satu ini: Zaid (زيد). Nama ini seperti “pemain utama” dalam dunia tata bahasa Arab. Bersama Amr (عمرو), Zaid menjadi langganan contoh dalam berbagai kaidah.
Pertanyaan yang sering muncul: kenapa harus Zaid?
Bagi saya, ini menarik. Secara bahasa, Zaid berasal dari akar kata زاد – يزيد yang bermakna bertambah, berkembang, bertumbuh. Seolah menyimpan doa agar siapa pun yang belajar nahwu juga bertambah ilmunya, semangatnya, bahkan keberkahannya.
Namun ternyata, ada sejarah yang lebih konkret. Dalam naskah klasik disebutkan, orang pertama yang memakai “Zaid” sebagai contoh adalah Abdullah bin Abi Ishaq al-Hadhrami. Dan alasannya sederhana: beliau punya anak bernama Zaid. Maka ketika membuat contoh, beliau berkata:
ضَرَبَ عَبْدُ اللهِ زَيْدًا
(Abdullah memukul Zaid).
Hal ini dikuatkan oleh Tajuddin al-Kindi (w. 613 H) sebagaimana disebut dalam akhir risalah al-Isytiqaq li Ibn al-Siraj:
قالَ تاجُ الدّينِ الكنديُّ رضي اللهُ عنه: أوّلُ مَن مثّلَ بزيدٍ في أهلِ العربيةِ عبدُ اللهِ بنُ أبي إسحاقٍ الحضرميّ، كان له ولدٌ اسمُهُ زيدٌ، فكانَ إذا مثّلَ قالَ: ضربَ عبدُ اللهِ زيدًا
Artinya, tokoh pertama yang menjadikan Zaid sebagai contoh dalam tata bahasa Arab adalah Abdullah bin Abi Ishaq. Karena beliau memiliki anak bernama Zaid, maka ia sering menggunakan contoh kalimat: “Abdullah memukul Zaid.”
Bayangkan, ternyata contoh yang kita hafal berabad-abad ini lahir dari kisah seorang ayah yang menjadikan nama anaknya bahan latihan bahasa. Dari situlah Zaid menyejarah dalam khazanah nahwu.
Lalu, muncul pertanyaan: “Memangnya tahu siapa yang pertama pakai “Zaid” itu penting? Bisa bikin kenyang? Bisa entaskan kemiskinan?”
Bagi saya, ini justru soal cara pandang terhadap ilmu. Tidak semua ilmu harus instan terasa manfaatnya. Sejarah bahasa, termasuk trivia seperti ini, adalah bagian dari fondasi berpikir. Kalau bahasa sebagai alat berpikir rusak, logika kita pun ikut keropos.
Eropa bisa maju bukan hanya karena mesin dan teknologi, tapi karena mereka rajin menggali warisan intelektual masa lalu: Aristoteles, Newton, Descartes. Mereka serius mengkajinya, bukan untuk hidup di masa lampau, melainkan untuk menyambung mata rantai ilmu. Kita pun mestinya begitu dengan khazanah klasik Islam.
Jadi, menurut saya, membahas asal-usul “Zaid” bukan hal sepele. Ia ibarat potongan puzzle sejarah yang membuat kita makin paham perjalanan ilmu. Memang, ia tidak serta-merta mengubah dunia. Tapi peradaban tidak pernah dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari batu-batu kecil pengetahuan yang sabar ditata.
Kesimpulannya sederhana: mari belajar menghargai bidang ilmu orang lain. Jangan remehkan sesuatu hanya karena kita tidak langsung merasakan manfaat praktisnya. Bisa jadi, kerikil kecil itulah yang suatu saat menopang bangunan besar bernama peradaban.
Dan siapa tahu, nanti ada yang bikin pesawat canggih lalu menamainya: ZAID. Keren, kan?
Discussion about this post