Sungkemkiai.com
kirim tulisan
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkemkiai.com
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Khazanah

Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

Ahmad Miftahussalam Oleh Ahmad Miftahussalam
24 Agustus 2025
A A
Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

Gambar: sungkemkiai.com

Kalau kita pernah ngaji kitab Jurumiyah, Durusul Lughah, Imrithi, Alfiyah dan sejenisnya, pasti tidak asing dengan nama satu ini: Zaid (زيد). Nama ini seperti “pemain utama” dalam dunia tata bahasa Arab. Bersama Amr (عمرو), Zaid menjadi langganan contoh dalam berbagai kaidah.

Pertanyaan yang sering muncul: kenapa harus Zaid?

Bagi saya, ini menarik. Secara bahasa, Zaid berasal dari akar kata زاد – يزيد yang bermakna bertambah, berkembang, bertumbuh. Seolah menyimpan doa agar siapa pun yang belajar nahwu juga bertambah ilmunya, semangatnya, bahkan keberkahannya.

Namun ternyata, ada sejarah yang lebih konkret. Dalam naskah klasik disebutkan, orang pertama yang memakai “Zaid” sebagai contoh adalah Abdullah bin Abi Ishaq al-Hadhrami. Dan alasannya sederhana: beliau punya anak bernama Zaid. Maka ketika membuat contoh, beliau berkata:

ضَرَبَ عَبْدُ اللهِ زَيْدًا

(Abdullah memukul Zaid).

Hal ini dikuatkan oleh Tajuddin al-Kindi (w. 613 H) sebagaimana disebut dalam akhir risalah al-Isytiqaq li Ibn al-Siraj:

قالَ تاجُ الدّينِ الكنديُّ رضي اللهُ عنه: أوّلُ مَن مثّلَ بزيدٍ في أهلِ العربيةِ عبدُ اللهِ بنُ أبي إسحاقٍ الحضرميّ، كان له ولدٌ اسمُهُ زيدٌ، فكانَ إذا مثّلَ قالَ: ضربَ عبدُ اللهِ زيدًا

Artinya, tokoh pertama yang menjadikan Zaid sebagai contoh dalam tata bahasa Arab adalah Abdullah bin Abi Ishaq. Karena beliau memiliki anak bernama Zaid, maka ia sering menggunakan contoh kalimat: “Abdullah memukul Zaid.”

Bayangkan, ternyata contoh yang kita hafal berabad-abad ini lahir dari kisah seorang ayah yang menjadikan nama anaknya bahan latihan bahasa. Dari situlah Zaid menyejarah dalam khazanah nahwu.

Lalu, muncul pertanyaan: “Memangnya tahu siapa yang pertama pakai “Zaid” itu penting? Bisa bikin kenyang? Bisa entaskan kemiskinan?”

Bagi saya, ini justru soal cara pandang terhadap ilmu. Tidak semua ilmu harus instan terasa manfaatnya. Sejarah bahasa, termasuk trivia seperti ini, adalah bagian dari fondasi berpikir. Kalau bahasa sebagai alat berpikir rusak, logika kita pun ikut keropos.

Eropa bisa maju bukan hanya karena mesin dan teknologi, tapi karena mereka rajin menggali warisan intelektual masa lalu: Aristoteles, Newton, Descartes. Mereka serius mengkajinya, bukan untuk hidup di masa lampau, melainkan untuk menyambung mata rantai ilmu. Kita pun mestinya begitu dengan khazanah klasik Islam.

Jadi, menurut saya, membahas asal-usul “Zaid” bukan hal sepele. Ia ibarat potongan puzzle sejarah yang membuat kita makin paham perjalanan ilmu. Memang, ia tidak serta-merta mengubah dunia. Tapi peradaban tidak pernah dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari batu-batu kecil pengetahuan yang sabar ditata.

Kesimpulannya sederhana: mari belajar menghargai bidang ilmu orang lain. Jangan remehkan sesuatu hanya karena kita tidak langsung merasakan manfaat praktisnya. Bisa jadi, kerikil kecil itulah yang suatu saat menopang bangunan besar bernama peradaban.

Dan siapa tahu, nanti ada yang bikin pesawat canggih lalu menamainya: ZAID. Keren, kan?

Ahmad Miftahussalam

Ahmad Miftahussalam

Mahasantri Ma'had Aly Lirboyo. Minat kajian Fiqih dan Tarikh.

POSTINGAN TERKAIT

Tetap di Atas Lekar di Era Gempuran di Atas Mimbar
Khazanah

Tetap di Atas Lekar di Era Gempuran di Atas Mimbar

23 Juli 2025
Dalil Doa Awal Tahun Hijriyah
Khazanah

Ngaji Dalil Doa Awal Tahun Hijriyah

26 Juni 2025
Takbiran Dibuat Pujian
Khazanah

Takbiran Dibuat Pujian

24 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Discussion about this post

TERBARU

Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

Memahami Waria yang Dirahmati Allah dalam Karya al-Ghazali

26 Agustus 2025
Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

Zaid: Dari Contoh Nahwu ke Cermin Peradaban

24 Agustus 2025
Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17

Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17

18 Agustus 2025
Santri membentangkan bendera Merah Putih

Hari Kemerdekaan ke-80: Momentum Santri Menyuarakan Amanah Rakyat

17 Agustus 2025
KH. Ahmad Mudjab Mahal

Menilik Dua Tafsir Khas Indonesia Karya KH. Ahmad Mudjab Mahalli Yogyakarta

16 Agustus 2025

PILIHAN EDITOR

Gairah Menghias Masjid Mengalahkan Kepedulian terhadap Sesama

Gairah Menghias Masjid Mengalahkan Kepedulian terhadap Sesama

Oleh Jamal Muhammad
27 Juni 2025

ICONNET Sukses Gelar Nonton Bareng CONI di 25 Kota, Puaskan Lebih dari Pelanggan Setia

ICONNET Sukses Gelar Nonton Bareng CONI di 25 Kota, Puaskan Lebih dari Pelanggan Setia

Oleh Admin
23 Juli 2024

Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang

Profil Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang

Oleh Redaksi
8 Juni 2025

Ketika Syaikh Baqir Al-Jugjawi Diminta Pulang oleh Pamannya, KH. Ahmad Dahlan

Ketika Syaikh Baqir Al-Jugjawi Diminta Pulang oleh Pamannya, KH. Ahmad Dahlan

Oleh Akmal Khafifudin
23 Agustus 2025

Biografi Imam Al-Ghazali: Pemikir Besar Islam Abad Pertengahan

Biografi Imam Al-Ghazali: Pemikir Besar Islam Abad Pertengahan

Oleh Redaksi
27 Juni 2025

  • Tentang
  • Kontak
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Pedoman Media Siber

© 2025 sungkemkiai.com - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah

© 2025 sungkemkiai.com - All Rights Reserved.