Di banyak tempat, wirid dibaca pelan. Tidak selalu di ruang besar, tidak pula diiringi suara lantang. Kadang hanya beberapa orang duduk bersila di langgar kampung, selepas Magrib, ketika suara kendaraan mulai jarang terdengar dan udara sore perlahan mendingin. Bacaan diulang dari hari ke hari, dengan nada yang sama, tanpa upaya untuk terdengar istimewa. Dari luar, pemandangan itu tampak biasa saja. Tidak ada yang ingin dipertontonkan. Namun justru di ruang yang sunyi dan tenang itulah laku itu bekerja, pelan, nyaris tak terasa.
Tarekat sering hidup dengan cara seperti ini. Ia tidak datang sebagai tontonan. Ia hadir sebagai kebiasaan. Tidak menjanjikan hasil cepat, apalagi perubahan instan. Yang ditawarkan justru kesetiaan pada proses. Di Probolinggo, Tarekat Tijaniyah tumbuh dalam suasana semacam ini. Sunyi, tekun, dan dijalani tanpa banyak kata. Wirid dibaca bukan untuk dilihat orang lain, melainkan untuk dijaga, sebagaimana orang menjaga ladang dan sawahnya dengan sabar, menunggu musim yang tepat.
Bagi sebagian orang, tarekat kerap dipahami sebagai jalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada anggapan bahwa laku batin membuat seseorang menarik diri dari masyarakat. Seolah mereka yang bertarekat hanya sibuk dengan urusan dirinya sendiri. Anggapan ini mudah muncul jika tarekat dilihat dari luar. Namun pengalaman di lapangan sering berkata lain. Justru dari wirid yang tenang dan dijaga secara istiqamah itulah lahir sikap hidup yang lebih tertata.
Dalam Tarekat Tijaniyah, istiqamah bukan hanya soal rutin membaca bacaan tertentu. Ia adalah latihan batin yang panjang. Laku yang menuntut kesabaran. Tidak semua orang betah menjalaninya. Sebab istiqamah tidak menawarkan sensasi. Tidak ada tanda keberhasilan yang bisa langsung dilihat. Yang ada hanyalah proses menata diri, hari demi hari, di sela pekerjaan, keluarga, dan kehidupan kampung yang terus berjalan.
Pelan-pelan, laku semacam ini membentuk watak. Seseorang yang terbiasa menahan diri dalam wirid akan belajar menahan diri pula dalam kehidupan sosial. Ia tidak mudah terpancing emosi ketika berbeda pendapat. Tidak tergesa-gesa menilai orang lain. Tidak merasa perlu selalu tampil di depan. Tanpa disadari, latihan batin itu merembes ke cara seseorang hadir di tengah masyarakat, termasuk dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.
Dalam tradisi tarekat, peran kiai atau mursyid tidak bisa dilepaskan. Ia bukan sekadar pengajar bacaan. Ia adalah penuntun laku. Hubungan murid dan kiai dibangun di atas adab dan kepercayaan. Wirid yang dibaca tidak berdiri sendiri, tetapi terikat pada sanad dan tanggung jawab moral. Ada kesadaran bahwa laku batin bukan hanya urusan pribadi, melainkan amanah yang harus dijaga.
Di titik ini, tarekat bekerja sebagai pendidikan karakter. Murid belajar bahwa adab mendahului ilmu. Bahwa kedalaman spiritual tidak diukur dari banyaknya bacaan, melainkan dari kesediaan menjaga sikap. Dari sini pula, tarekat tidak melahirkan orang yang merasa paling suci, tetapi orang yang terus belajar merendahkan diri di tengah kehidupan sosial yang nyata.
Dampak dari laku semacam ini jarang hadir dalam bentuk yang besar dan mencolok. Ia lebih sering muncul dalam hal-hal sederhana. Kesediaan membantu tanpa banyak bicara. Kehadiran yang menenangkan ketika suasana mulai memanas. Sikap yang tidak gemar menyalahkan. Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, sikap-sikap seperti ini justru menjadi penyangga harmoni sosial.
Orang-orang yang ditempa oleh laku batin biasanya tidak suka gaduh. Mereka tidak selalu berada di depan. Namun kehadirannya terasa. Ada rasa tenang ketika mereka ada di sekitar. Ketenteraman itu tidak diumumkan sebagai bagian dari misi apa pun. Ia hadir begitu saja, sebagai buah dari batin yang dijaga.
Bagi mereka yang berada di dalam tarekat, laku ini menjadi pengingat bahwa wirid bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan untuk menjaga diri agar tidak mudah melukai sesama. Kesalehan batin justru diuji ketika berhadapan dengan realitas sosial yang tidak selalu ramah. Di sini, tarekat mengajarkan bahwa spiritualitas tidak cukup disimpan di ruang sunyi. Ia harus ikut berjalan dalam sikap sehari-hari.
Sementara itu, bagi mereka yang tidak bertarekat, kisah Tijaniyah membuka pemahaman lain tentang tasawuf. Bahwa tarekat bukan dunia tertutup yang asing. Ia adalah ruang pendidikan batin yang hasilnya bisa dirasakan oleh siapa saja. Tanpa harus mengikuti wirid tertentu, setiap orang dapat belajar dari nilai-nilai yang dijaga dalam tarekat, seperti kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab moral.
Di balik wirid yang dibaca dengan tenang, ada proses panjang membentuk manusia. Proses itu tidak selalu terlihat, tetapi terasa. Ia tidak menjanjikan perubahan cepat, tetapi menawarkan kedalaman. Di tengah dunia yang serba tergesa dan penuh tuntutan, laku tarekat mengajarkan satu hal yang kian langka, yakni kesetiaan pada proses.
Tarekat Tijaniyah yang hidup di Probolinggo menunjukkan bahwa laku spiritual tidak pernah benar-benar terlepas dari ruang sosial tempat ia tumbuh. Ia dijalani oleh orang-orang yang hidup di tengah keseharian masyarakat tapal kuda, yang akrab dengan kerja, kebersahajaan, dan relasi sosial yang dekat. Dalam konteks inilah wirid dan istiqamah menemukan maknanya. Bukan sebagai laku yang menjauh dari kehidupan, tetapi sebagai cara menata diri agar tetap selaras dengan lingkungan sekitar.
Di Probolinggo, tarekat tidak hadir sebagai identitas yang dipamerkan, melainkan sebagai kebiasaan yang dirawat. Ia menyatu dengan ritme hidup masyarakat. Dari situ lahir sikap tenang, sabar, dan tidak mudah tergesa. Sikap-sikap inilah yang secara perlahan membentuk tanggung jawab sosial, tanpa harus diumumkan sebagai gerakan atau klaim moral.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa tasawuf tidak selalu berbicara dalam bahasa besar. Di tangan masyarakat Probolinggo, tasawuf justru hadir sebagai etika hidup sehari-hari. Wirid dibaca untuk menjaga hati. Hati dijaga agar laku tetap lurus. Dan laku yang lurus itulah yang menjaga harmoni kehidupan bersama.
Mungkin di situlah letak kekuatan tarekat. Ia tidak mengubah manusia menjadi sosok yang berbeda dari lingkungannya, tetapi membantu mereka menjadi lebih hadir di dalamnya. Tasawuf, dalam bentuk seperti ini, tidak melangit terlalu tinggi. Ia membumi, tumbuh bersama masyarakat, dan memberi ketenangan yang nyata, meski sering kali tidak disadari.













Discussion about this post