Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Tasawuf

Jejak Sunyi Tasawuf Lokal: Membaca Dakwah Syekh Abdurrahman Bauzier

Muhammad Taofik by Muhammad Taofik
1 Januari 2026
A A
Jejak Sunyi Tasawuf Lokal “Membaca Dakwah Syekh Abdurrahman Bauzier”

Makam Syekh Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdul Rohim Bauzier

Tasawuf tidak selamanya lahir dari suara panjang dan praktik sosial yang mencolok. Ia kerap tumbuh dalam kesunyian, dalam jeda-jeda yang nyaris luput dari perhatian masyarakat, seperti layaknya air yang perlahan meresap ke tanah. Tasawuf bekerja tanpa tergesa, tanpa ingin dilihat, tetapi menentukan kesuburan batin. Begitulah tasawuf lokal hidup. Tanpa nama besar, tanpa panggung, tanpa kebutuhan untuk dikenal.

Di beberapa sudut Nusantara, atau di kebanyakan sudut Nusantara, spiritualitas tidak hadir sebagai sistem tertutup dengan istilah-istilah tinggi, tetapi justru hadir beriringan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dijalani, bukan untuk dipamerkan. Diwujudkan dalam adab, kesabaran, dan cara memperlakukan sesama. Agama tidak hadir sebagai teriakan kebenaran, melainkan hadir sebagai keteduhan yang perlahan membentuk karakter manusia. Agama Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Jejak seperti ini jarang tercatat oleh kitab besar, karena tidak meninggalkan monumen. Tidak diwariskan lewat slogan dan tidak diklaim sebagai aliran. Namun justru dari laku sunyi inilah wajah Islam nampak dan mulai tumbuh. Islam yang tidak tergesa-gesa menghakimi seseorang, tidak sibuk menunjukkan laku kesalehannya, dan tidak merasa perlu untuk diperbincangkan secara keras.

Dari titik inilah, dakwah Syekh Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdul Rohim Bauzier dapat dibaca. Bukan sekadar sebagai praktik keagamaan, tetapi sebagai tasawuf yang bekerja dalam kesenyapan. Syekh Abdurrahman Bauzier bukan tokoh yang mudah dibaca. Namun namanya selalu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ingatan yang mungkin tidak mencolok, tidak dibungkus kemegahan, dan tidak dipertontonkan. Bukan sebagai simbol, melainkan sebagai suri teladan. Bukan sebagai figur yang ditonjolkan, tetapi sebagai sosok yang kehadirannya terasa.

Membaca dakwah beliau sebagai tasawuf berarti mengubah cara pandang. Tasawuf tidak dipahami sebagai pengalaman praktik spiritual yang jauh dari kehidupan sosial, melainkan sebagai etika hidup yang dijalani sehari-hari. Dakwah dalam kerangka ini bukan proyek perubahan yang mengubah sejarah secara instan, tetapi proses panjang yang menghargai waktu. Ia tidak berangkat dari keinginan untuk menaklukkan, melainkan dari ketersediaan untuk menemani.

Kesadaran bukan sekadar menunggu, melainkan kemampuan untuk berjalan beriringan dengan kehidupan. Dakwah Syekh Abdurrahman bergerak dalam irama semacam itu. Ia tidak memaksa adanya perubahan, tidak pula memutus tradisi secara serampangan, dan tidak menjadikan agama sebagai legitimasi untuk menegaskan kekuasaan. Yang dilakukan justru menghadirkan ketenangan. Menata hati secara perlahan lewat perilaku, bukan lewat tekanan. Dakwah menjadi tirakat sosial, laku sunyi yang tidak selalu terlihat hasilnya, tetapi terasa dalam jangka panjang.

Tasawuf lokal seperti ini tidak memerlukan simbol-simbol yang susah. Ia tidak bergantung pada identitas tarekat atau bahasa spiritual yang berat. Yang dijaga adalah keseimbangan antara iman dan kemanusiaan. Bagaimana hablum minallah beriringan dengan hablum minannas. Inilah yang disebut tasawuf akhlaki. Pengalaman spiritual tidak diukur dari seberapa sering ia ditampilkan, tetapi dari seberapa jauh ia memengaruhi cara seseorang bersikap.

Dalam masyarakat Banyuwangi yang kaya akan tradisi dan keberagaman, pendekatan seperti ini menemukan ruangnya. Agama hadir bukan sebagai kekuatan yang memutus, melainkan sebagai makna yang menyambung. Ia hidup dalam tata bicara yang tidak melukai, dalam musyawarah yang tidak tergesa-gesa, dan dalam kesediaan untuk mendengarkan sebelum menilai. Tasawuf di sini tidak diajarkan lewat ceramah panjang, tetapi diwariskan melalui kebiasaan.

Sayangnya, tasawuf seperti ini kerap tidak dicatat oleh sejarah karena tidak dituliskan. Ia mudah dianggap remeh. Padahal yang bekerja dalam masyarakat bukan hanya sejarah tekstual, melainkan sejarah ingatan. Tasawuf lokal hidup dalam relasi sosial, dalam etika bersama, dan dalam cara masyarakat memaknai agama itu sendiri. Sebagai sumber keteduhan, bukan sumber keributan.

Jika ditarik ke hari ini, tasawuf lokal terasa semakin relevan. Di tengah ruang publik yang bising, dan agama yang sering diperjualbelikan serta dipertontonkan, kesunyian justru menjadi sesuatu yang langka. Kesalehan bergeser menjadi persoalan performa. Diukur dari seberapa sering ia diunggah, dibagikan, dan disorot. Dalam situasi seperti ini, tasawuf sunyi menawarkan kritik tanpa suara. Bahwa kedalaman tidak selalu sejalan dengan keramaian.

Dakwah Syekh Abdurrahman Bauzier mengingatkan kita bahwa tidak semua perlu dipamerkan, dan tidak semua kebenaran harus diperdebatkan. Ada iman yang cukup dijalani, bukan disiarkan. Ada kesunyian yang justru bernilai karena tidak terlihat. Tasawuf di sini bukan melarikan diri dari persoalan duniawi, melainkan cara berada di dalamnya tanpa kehilangan kejernihan hati.

Barangkali, tasawuf lokal menyimpan pelajaran yang paling sederhana sekaligus paling sulit. Bahwa spiritualitas bukan persoalan menjauh dari manusia, melainkan semakin dalam memanusiakan diri. Ia tidak serta-merta menjanjikan perubahan yang mencolok, tetapi membentuk ketahanan moral dalam ritme yang panjang. Dalam dunia yang serba cepat dan gaduh, tasawuf semacam ini mengajarkan irama yang lebih pelan, lebih sabar, dan lebih jujur.

Membaca kembali Syekh Abdurrahman Bauzier bukanlah upaya mengangkat figur lokal ke panggung besar atau ke sorotan keramaian. Ini adalah usaha merawat ingatan tentang cara beragama yang hening dan berakar. Barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukanlah lebih banyak suara, melainkan lebih banyak laku sunyi. Yang mengajarkan bagaimana beriman tanpa kehilangan kemanusiaan, dan bagaimana mendekat kepada Tuhan tanpa menjauh dari sesama.

Muhammad Taofik

Muhammad Taofik

Mahasiswa Sejarah UIN Khas Jember. Kader PMII Rayon Ushuluddin.

ARTIKEL TERKAIT

Di Balik Wirid yang Tenang: Kisah Laku Tijaniyah
Tasawuf

Di Balik Wirid yang Tenang: Kisah Laku Tijaniyah

30 Desember 2025
Adab dan Tasawuf di Era Modern: Belajar dari Tweet-an Habib Husein Ja’far
Tasawuf

Adab dan Tasawuf di Era Modern: Belajar dari Tweet-an Habib Husein Ja’far

30 Desember 2025
Dari Antroposentris ke Teosentris: Nilai Tauhid dalam Komunikasi Transendental Modern
Tasawuf

Dari Antroposentris ke Teosentris: Nilai Tauhid dalam Komunikasi Transendental Modern

2 Desember 2025
KH. M. Afifuddin Dimyathi, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang
Tasawuf

Hidup dengan Ihsan: Telaah Konsep Ihsan pada QS. Al-Baqarah Ayat 195 dalam Tafsir Hidayatul Qur’an Karya KH. M. Afifuddin Dimyathi

12 Oktober 2025
Tiga Golongan Manusia Menurut Imam As-Suyuthi: Telaah dari Muqaddimah Al-Asybah wa An-Nazhair
Tasawuf

Tiga Golongan Manusia Menurut Imam As-Suyuthi: Telaah dari Muqaddimah Al-Asybah wa An-Nazhair

8 Agustus 2025
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Tasawuf

Karamah Hujan Susu dan Karamah Hujan Rudal Balistik

26 Juni 2025

Discussion about this post

BACA JUGA

Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama

Tanpa Nahwu, Tafsirmu Rawan Keliru: Mengembalikan Otoritas Nahwu dalam Memahami Dalil Agama

4 Januari 2026
Masa Iya, Bercanda Ada Adabnya?

Masa Iya, Bercanda Ada Adabnya?

2 Januari 2026
Ketika Surga Terasa Lebih Dekat: Kisah Perpisahan Fathimah Az-Zahra

Ketika Surga Terasa Lebih Dekat: Kisah Perpisahan Fathimah Az-Zahra

1 Januari 2026
NU, Tambang Batu Bara dan Energi dari Neraka

NU, Tambang Batu Bara dan Energi dari Neraka

24 Desember 2025
Santri Harus Punya Komitmen Sekali Menulis, Tetap Menulis

Santri Harus Punya Komitmen Sekali Menulis, Tetap Menulis

23 Desember 2025
Doa, Jhembharate dan Cerita Orang-Orang dari Suku Kindah

Doa, Jhembharate dan Cerita Orang-Orang dari Suku Kindah  

23 Desember 2025
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.