Pendahuluan
Masa tamatan (sebutan familiar untuk mahasantri semester V-VI di Ma’had Aly Lirboyo) merupakan masa dimana mahasantri akan mengakhiri pendidikan belajar dan bersiap menjalankan pengabdian yang diwajibkan satu tahun, yakni pada jenjang semester VII-VIII. Pada masa ini, mereka akan ditugaskan untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, menjadi mustahiq-munawib, sebutan untuk pengajar di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, atau tenaga pengajar di luar.
Kendati masa wajib khidmah hanya satu tahun, terdapat mahasantri yang diarahkan mustahiq agar mengabdi lebih lama, menimbang potensi yang dimiliki dan rasa percaya mustahiq kepadanya. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang enggan karena ingin mencari pengalaman baru di luar pesantren. Ada juga yang merasa bila mengabdi lama, maka membuat stagnasi keilmuan, atau faktor-faktor lainnya.
Fomo (Fear of The Moment)
Melihat orang lain yang berhasil secara finansial lebih dahulu atau yang boyong dan sukses berkiprah di masyarakat, barangkali menjadi faktor keengganan mengabdi lama. Cara pandang ini tentu perlu diluruskan. Mengapa? Coba perhatikan dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
رَضِينَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِينَا # لَنَا عِلْمٌ وَلِلْأَعْدَاءِ مَالُ
فَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيبٍ # وَإِنَّ الْعِلْمَ بَاقٍ لَا يَزَالُ
“Kami rela atas pemberian Allah. Bagi kami ilmu dan bagi orang lain harta. Harta akan lenyap dalam waktu dekat, sementara ilmu akan abadi selamanya.”
Dari syair berbahar wafir ini, santri sepatutnya tidak membatasi kesuksesan hanya pada finansial semata. Ibn al-Jauzi mempunyai pandangan menarik, bahwa pemicu mewujudkan kesuksesan di dunia-akhirat hanyalah ilmu, yang hal ini secara spontanitas disepakati oleh yang memiliki akal sehat. Sehingga, jika kesuksesan masih dimaknai keliru tidak heran muncul cara pandang yang juga keliru.
Pengabdian Lama: Stagnasi Keilmuan
Sementara faktor pengabdian lama menyebabkan stagnasi keilmuan, dan melanjutkan ke lembaga lain dinilai membuat lebih sukses, hal ini merupakan cara pandang orang yang tidak memahami sejarah.
Perlu diketahui, banyak figur pesantren yang berhasil di masyarakat. Sebagai contohnya Gus Baha, atau lebih jauh lagi KH. MA. Sahal Mahfuz, atau sebelum itu, Mbah Manab sebagai muassis Lirboyo sendiri. Beliau semua tidak pernah ke mana-mana, tetapi ilmunya tersebar dimana-mana.
Satu hal terpenting ialah kembali pada himmah diri sendiri. Sering diungkapkan istilah “cengkir: kenceng’e pikir” yang berarti dimana pun tempatnya, bila seseorang memaksimalkan potensi diri, maka kesuksesan dapat diraih, sebagaimana dawuh KH. Marzuki Dahlan. Lagi pula, tidak ada jaminan melanjutkan studi ke luar menjadikan lebih sukses dari hanya sebatas belajar lebih lama di pesantren.
Jati Diri dan Prinsip Pengabdian
Kaitannya pengabdian, jati diri sebagai santri akan melahirkan keyakinan bahwa pesantren adalah pendidikan terbaik yang mengajarkan ilmu agama. Meneguhkan jati diri sebagai santri juga bertujuan mencegah pengaruh pihak luar yang berusaha memporakporandakan ajaran Islam di pesantren. Hal ini penting, sebab bila tidak, hal tersebut bisa menjadi boomerang bagi pesantren akibat dari santri yang tidak memegang prinsipnya sebagai alumni pesantren.
Dari uraian di atas, maka sebetulnya tidak ada pilihan terbaik selain belajar lebih lanjut dan mengabdi lebih lama. Seandainya tidak, pengabdian atas ajaran-ajaran pesantren ke masyarakat tetap harus dilakukan olehnya, bukan malah terpengaruh, bahkan menghakimi negatif pesantren itu sendiri. Sebab bagaimana pun, ilmu yang didapati menjadi niscaya untuk diamalkan, menghindari akan konsekuensi:
مَنِ ازْدَادَ عِلْماً وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْداً
“Siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk (untuk mengamalkan ilmunya), maka semakin jauhlah ia dari Allah.”
Belajar Hingga Purna Mustahiq: Ikhtiar Membangun Peradaban Pesantren
Ibn Khaldun menggambarkan maksud peradaban sebagai kondisi dimana masyarakat telah mencapai kemajuan tinggi, dan ilmu agama merupakan satu dari upaya membangun peradaban. Semakin banyak yang menguasainya, di situlah barometer peradaban maju.
Dengan demikian, maka belajar hingga purna mustahiq merupakan ikhtiar untuk membangun peradaban, melalui dedikasi ilmu yang diajarkan. Perhatikan saja salah satu mustahiq familiar yang tidak asing sebagai pembimbing aktivis bahtsul masail angkatan, satu figur yang darinya penulis bertanya-tanya: dapatkah segenap aktivis LBM (Lajnah Bahtsul Masail) angkatan bisa berkembang dahsyat tanpa bimbingan totalitas dari Beliau? Itu hanya satu contoh dari sekian kontribusi besar poro mustahiq di squaduaenam ini.
Di samping itu, bila menjadi santri hanya belajar melalui perantara satu indera, yakni mendengar, maka menjadi mustahiq akan belajar menggunakan beberapa indera sekaligus, berfikir, belajar memahami, serta belajar menyampaikan agar setiap pelajaran dapat dipahami. Belum lagi mutala’ah sebelum mengajar, hingga belajar ngopeni segenap santri secara telaten.
Sampai di sini, tidaklah mendasar klaim “stagnasi ilmu bila mondok terlalu lama,” justru, ilmu yang diamalkan akan terus bertambah dan berkembang. Hal ini berarti juga bahwa pengabdian sebagai mustahiq adalah bagian dari ikhtiar membangun peradaban, dalam arti membentuk generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga spritualitas yang melekat kuat.
Kesimpulan
Uraian di atas tidak bermaksud menyudutkan siapa pun yang mengabdi dalam waktu sebentar. Penulis hendak mengajak pembaca untuk merenungi sejenak pentingnya membentuk jati diri dan memiliki prinsip pengabdian sebagai santri.
Sebagaimana seorang petani menanam pohon, keberhasilan pohon itu untuk berbuah tidak hanya bergantung pada biji yang ditanam, tetapi juga pada kesabaran dan ketekunan dalam merawatnya di tanah yang sama hingga akarnya menancap kuat. Bagaimana mungkin pohon dapat berbuah jika terus-menerus dipindahkan dari satu tanah ke tanah lain? Begitu pula ilmu dan pengabdian seorang santri, ilmu yang telah dipelajari akan tumbuh dan berbuah manakala ia tekun mengamalkannya di satu tempat, merawatnya dengan kesungguhan, dan menanamkan dedikasi yang konsisten.
Demikian ini karena bagi yang sadar akan pentingnya hal tersebut, pengaruh dari luar tidak akan membuatnya merasa malu dan tertinggal sebagai santri. Sebaliknya, keyakinan akan muncul sehingga ia sadar bahwa dari pesantren, ia mampu membangun peradaban melalui pengabdian terbaik, di mana pun dan kapan pun.













Discussion about this post