Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Mozaik

Pengabdian dan Krisis Jati Diri Santri: Refleksi Masa Tamatan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo

M. Arfan Ahwadzy by M. Arfan Ahwadzy
15 Februari 2026
A A
Pengabdian dan Krisis Jati Diri Santri: Refleksi Masa Tamatan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo

Ilustrasi. (Sumber: Dok. Istimewa)

Pendahuluan

Masa tamatan (sebutan familiar untuk mahasantri semester V-VI di Ma’had Aly Lirboyo) merupakan masa dimana mahasantri akan mengakhiri pendidikan belajar dan bersiap menjalankan pengabdian yang diwajibkan satu tahun, yakni pada jenjang semester VII-VIII. Pada masa ini, mereka akan ditugaskan untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, menjadi mustahiq-munawib, sebutan untuk pengajar di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, atau tenaga pengajar di luar. 

Kendati masa wajib khidmah hanya satu tahun, terdapat mahasantri yang diarahkan mustahiq agar mengabdi lebih lama, menimbang potensi yang dimiliki dan rasa percaya mustahiq kepadanya. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang enggan karena ingin mencari pengalaman baru di luar pesantren. Ada juga yang merasa bila mengabdi lama, maka membuat stagnasi keilmuan, atau faktor-faktor lainnya. 

Fomo (Fear of The Moment)

Melihat orang lain yang berhasil secara finansial lebih dahulu atau yang boyong dan sukses berkiprah di masyarakat, barangkali menjadi faktor keengganan mengabdi lama. Cara pandang ini tentu perlu diluruskan. Mengapa? Coba perhatikan dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

رَضِينَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِينَا  # ‌لَنَا ‌عِلْمٌ ‌وَلِلْأَعْدَاءِ ‌مَالُ

فَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيبٍ  # وَإِنَّ الْعِلْمَ بَاقٍ لَا يَزَالُ

“Kami rela atas pemberian Allah. Bagi kami ilmu dan bagi orang lain harta. Harta akan lenyap dalam waktu dekat, sementara ilmu akan abadi selamanya.”

Dari syair berbahar wafir ini, santri sepatutnya tidak membatasi kesuksesan hanya pada finansial semata. Ibn al-Jauzi mempunyai pandangan menarik, bahwa pemicu mewujudkan kesuksesan di dunia-akhirat hanyalah ilmu, yang hal ini secara spontanitas disepakati oleh yang memiliki akal sehat. Sehingga, jika kesuksesan masih dimaknai keliru  tidak heran muncul cara pandang yang juga keliru. 

Pengabdian Lama: Stagnasi Keilmuan

Sementara faktor pengabdian lama menyebabkan stagnasi keilmuan, dan melanjutkan ke lembaga lain dinilai membuat lebih sukses, hal ini merupakan cara pandang orang yang tidak memahami sejarah.

Perlu diketahui, banyak figur pesantren yang berhasil di masyarakat. Sebagai contohnya Gus Baha, atau lebih jauh lagi KH. MA. Sahal Mahfuz, atau sebelum itu, Mbah Manab sebagai muassis Lirboyo sendiri. Beliau semua tidak pernah ke mana-mana, tetapi ilmunya tersebar dimana-mana. 

Satu hal terpenting ialah kembali pada himmah diri sendiri. Sering diungkapkan istilah “cengkir: kenceng’e pikir” yang berarti dimana pun tempatnya, bila seseorang memaksimalkan potensi diri, maka kesuksesan dapat diraih, sebagaimana dawuh KH. Marzuki Dahlan. Lagi pula, tidak ada jaminan melanjutkan studi ke luar menjadikan lebih sukses dari hanya sebatas belajar lebih lama di pesantren.

Jati Diri dan Prinsip Pengabdian

Kaitannya pengabdian, jati diri sebagai santri akan melahirkan keyakinan bahwa pesantren adalah pendidikan terbaik yang mengajarkan ilmu agama. Meneguhkan jati diri sebagai santri juga bertujuan mencegah pengaruh pihak luar yang berusaha memporakporandakan ajaran Islam di pesantren. Hal ini penting, sebab bila tidak, hal tersebut bisa menjadi boomerang bagi pesantren akibat dari santri yang tidak memegang prinsipnya sebagai alumni pesantren. 

Dari uraian di atas, maka sebetulnya tidak ada pilihan terbaik selain belajar lebih lanjut dan mengabdi lebih lama. Seandainya tidak, pengabdian atas ajaran-ajaran pesantren ke masyarakat tetap harus dilakukan olehnya, bukan malah terpengaruh, bahkan menghakimi negatif pesantren itu sendiri. Sebab bagaimana pun, ilmu yang didapati menjadi niscaya untuk diamalkan, menghindari akan konsekuensi:

‌مَنِ ‌ازْدَادَ ‌عِلْماً وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْداً

“Siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk (untuk mengamalkan ilmunya), maka semakin jauhlah ia dari Allah.”

Belajar Hingga Purna Mustahiq: Ikhtiar Membangun Peradaban Pesantren

Ibn Khaldun menggambarkan maksud peradaban sebagai kondisi dimana masyarakat telah mencapai kemajuan tinggi, dan ilmu agama merupakan satu dari upaya membangun peradaban. Semakin banyak yang menguasainya, di situlah barometer peradaban maju.

Dengan demikian, maka belajar hingga purna mustahiq merupakan ikhtiar untuk membangun peradaban, melalui dedikasi ilmu yang diajarkan. Perhatikan saja salah satu mustahiq familiar yang tidak asing sebagai pembimbing aktivis bahtsul masail angkatan, satu figur yang darinya penulis bertanya-tanya: dapatkah segenap aktivis LBM (Lajnah Bahtsul Masail) angkatan bisa berkembang dahsyat tanpa bimbingan totalitas dari Beliau? Itu hanya satu contoh dari sekian kontribusi besar poro mustahiq di squaduaenam ini.

Di samping itu, bila menjadi santri hanya belajar melalui perantara satu indera, yakni mendengar, maka menjadi mustahiq akan belajar menggunakan beberapa indera sekaligus, berfikir, belajar memahami, serta belajar menyampaikan agar setiap pelajaran dapat dipahami. Belum lagi mutala’ah sebelum mengajar, hingga belajar ngopeni segenap santri secara telaten. 

Sampai di sini, tidaklah mendasar klaim “stagnasi ilmu bila mondok terlalu lama,” justru, ilmu yang diamalkan akan terus bertambah dan berkembang. Hal ini berarti juga bahwa pengabdian sebagai mustahiq adalah bagian dari ikhtiar membangun peradaban, dalam arti membentuk generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga spritualitas yang melekat kuat. 

Kesimpulan

Uraian di atas tidak bermaksud menyudutkan siapa pun yang mengabdi dalam waktu sebentar. Penulis hendak mengajak pembaca untuk merenungi sejenak pentingnya membentuk jati diri dan memiliki prinsip pengabdian sebagai santri.

Sebagaimana seorang petani menanam pohon, keberhasilan pohon itu untuk berbuah tidak hanya bergantung pada biji yang ditanam, tetapi juga pada kesabaran dan ketekunan dalam merawatnya di tanah yang sama hingga akarnya menancap kuat. Bagaimana mungkin pohon dapat berbuah jika terus-menerus dipindahkan dari satu tanah ke tanah lain? Begitu pula ilmu dan pengabdian seorang santri, ilmu yang telah dipelajari akan tumbuh dan berbuah manakala ia tekun mengamalkannya di satu tempat, merawatnya dengan kesungguhan, dan menanamkan dedikasi yang konsisten.

Demikian ini karena bagi yang sadar akan pentingnya hal tersebut, pengaruh dari luar tidak akan membuatnya merasa malu dan tertinggal sebagai santri. Sebaliknya, keyakinan akan muncul sehingga ia sadar bahwa dari pesantren, ia mampu membangun peradaban melalui pengabdian terbaik, di mana pun dan kapan pun.

M. Arfan Ahwadzy

M. Arfan Ahwadzy

Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo, Kediri. Pegiat bidang kajian fikih-usul fikih, kajian siyasah, dan studi keislaman.

ARTIKEL TERKAIT

Membaca Ulang Peristiwa Perpindahan Kiblat dan Cara Orang Indonesia Menghadapnya
Mozaik

Membaca Ulang Peristiwa Perpindahan Kiblat dan Cara Orang Indonesia Menghadapnya

26 Januari 2026
Jenang, Warna, dan Relasi: Membaca Tradisi Jawa di Tengah Lupa Makna
Mozaik

Jenang, Warna, dan Relasi: Membaca Tradisi Jawa di Tengah Lupa Makna

4 Januari 2026
Mengenal Corak Filsafat Jawa dari Kentut Semar dan Bima Suci
Mozaik

Mengenal Corak Filsafat Jawa dari Kentut Semar dan Bima Suci

2 November 2025
Dari Keindahan Menuju Sublimitas
Mozaik

Dari Keindahan Menuju Sublimitas

17 Juni 2025
Islam Dirusak oleh Orang “Sok Tahu”
Mozaik

Islam Dirusak oleh Orang “Sok Tahu”

15 Juni 2025
Serba Kesulitan, Tapi Ulama Dahulu Rajin Menulis
Mozaik

Serba Kesulitan, Tapi Ulama Dahulu Rajin Menulis

11 Juni 2025

Discussion about this post

BACA JUGA

KH Abdul Karim

Belajar yang Tak Pernah Usai: KH Abdul Karim dan Keinginan Diakui sebagai Santri Syaikhona Kholil Bangkalan

15 Februari 2026
Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

Yang Harus Diingat, Al-Ghazali Juga Penulis

3 Februari 2026
Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

Kebebasan Berfatwa atau Kekacauan Beragama? Debat Panjang Taqlid dalam Fath al- Majid

30 Januari 2026
Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

Santri Harus Tahu Esensi Ras Terkuat di Bumi

30 Januari 2026
Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

Mitos dan Kimia Kebahagiaan Imam al-Ghazali

26 Januari 2026
Rajab dan Seni Merawat Makna

Rajab dan Seni Merawat Makna

15 Januari 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.