Tidak semua orang yang membuat jenang benar-benar tahu mengapa ia dibuat. Di banyak kampung Jawa, jenang lima warna masih muncul dalam selamatan kelahiran, pembukaan lahan, atau momen-momen tertentu yang dianggap penting. Ia dimasak, ditata, lalu dibagikan begitu saja. Orang melakukannya karena sudah dari dulu begitu. Karena wong tuwa dulu juga begitu. Karena rasanya ora kepenak kalau tidak ada. Anehnya, meski penjelasannya kian kabur, jenang itu tetap hadir, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin benar-benar dilupakan.
Jenang itu sederhana. Bubur dari beras, diberi warna seadanya. Putih, merah, hitam, kuning, hijau. Tidak ada mantra yang diucapkan. Tidak ada kitab yang dibuka. Namun kehadirannya selalu mengundang rasa khidmat. Seakan-akan ada pesan yang disampaikan tanpa kata. Ada ingatan yang bekerja diam-diam, meski orang yang melakukannya tidak lagi bisa menjelaskannya dengan pasti.
Di sinilah tradisi Jawa bekerja dengan caranya sendiri. Ia tidak selalu meminta untuk dipahami secara terang-benderang. Kadang ia hanya ingin dihadirkan. Jenang lima bukan sekadar sajian, melainkan tanda bahwa hidup manusia tidak berdiri sendiri. Bahwa sejak lahir, seseorang telah ditemani, disertai, dan diikat oleh relasi yang tidak selalu terlihat, tetapi terus dirasakan. Tradisi ini mungkin tampak sepele, namun justru di sanalah letak kekuatannya. Ia hidup bukan karena diperdebatkan, melainkan karena dirawat.
Di banyak wilayah Jawa, jenang lima sering dikaitkan dengan selamatan kelahiran. Namun seiring waktu, ia juga hadir dalam agenda-agenda lain yang dianggap sakral secara sosial. Membuka lahan, mulai menanam padi, atau setelah panen. Tidak semua orang lagi-lagi paham maknanya. Tetapi jenang tetap dibuat. Tetap dibagi. Tetap dimakan bersama. Seolah-olah ada kesepakatan sunyi bahwa momen-momen penting dalam hidup tidak layak dilewati sendirian.
Tradisi ini kerap dibaca secara dangkal sebagai peninggalan lama yang tak lagi relevan. Padahal jika dilihat lebih pelan, jenang lima justru menyimpan pesan mendasar tentang relasi. Tentang kesadaran bahwa manusia tidak pernah hadir sendirian di dunia. Sejak dalam kandungan hingga lahir, manusia selalu berada dalam jalinan keterhubungan dengan sesuatu yang lain, dengan sesama, dengan alam, dan dengan asal-usulnya sendiri.
Dalam kosmologi Jawa, jenang lima sering dihubungkan dengan gagasan sedulur papat lima pancer. Empat unsur yang menemani manusia sejak awal kehidupan, dan satu pusat yang menjadi diri manusia itu sendiri. Tafsir ini memang tidak tunggal. Ada yang memaknainya sebagai saudara metafisis. Ada yang membacanya sebagai simbol unsur kehidupan. Namun perbedaan tafsir itu tidak menghilangkan fungsi ritualnya. Justru di sanalah tradisi bekerja secara lentur.
Melalui kacamata Clifford Geertz, agama dan tradisi tidak selalu perlu dipahami sebagai seperangkat aturan kaku. Ia lebih tepat dibaca sebagai jaringan makna yang ditenun oleh masyarakatnya. Simbol-simbol dalam ritual Jawa tidak menuntut penjelasan rasional yang tuntas. Ia bekerja sebagai bahasa budaya yang menanamkan rasa. Jenang lima, dalam hal ini, bukan dogma, melainkan pengingat yang lembut.
Lima warna yang hadir dalam jenang menyimpan lapisan makna simbolik. Putih kerap dimaknai sebagai asal-usul dan kesucian. Ia mengingatkan manusia pada awal kehidupan, pada sesuatu yang bening sebelum berjumpa dengan dunia. Merah melambangkan darah dan daya hidup. Ia adalah simbol energi dan keberanian, tanda bahwa hidup selalu bergerak dan berdenyut. Hitam sering dikaitkan dengan bumi dan kedalaman. Ia bukan lambang keburukan, melainkan keteguhan dan rahasia hidup yang tidak selalu terang. Kuning melambangkan cahaya dan kebijaksanaan, fase ketika manusia mulai matang dalam memaknai hidup. Hijau melambangkan kesuburan dan keberlanjutan, hubungan manusia dengan alam yang memberinya penghidupan.
Warna-warna ini tidak hadir untuk dipuja. Ia hadir untuk diingat. Bahwa hidup manusia berlapis-lapis. Bahwa sejak lahir, manusia sudah berada dalam relasi dengan banyak unsur yang membentuk dirinya. Maka ketika jenang itu dibagikan dan dimakan bersama, yang dirayakan bukanlah buburnya, melainkan keterhubungan itu sendiri.
Dari sudut pandang sosiologi, Émile Durkheim membantu kita memahami mengapa ritual seperti ini tetap bertahan meski penjelasannya memudar. Bagi Durkheim, ritual adalah fakta sosial. Ia bekerja menjaga solidaritas dan rasa kebersamaan. Orang boleh lupa makna detailnya, tetapi selama ritual itu dijalankan bersama, ia tetap menjalankan fungsinya sebagai perekat.
Itulah sebabnya jenang lima tidak hanya hadir dalam kelahiran. Ia juga muncul dalam momen membuka lahan, menanam, dan panen. Dalam peristiwa-peristiwa itu, manusia sedang berhadapan dengan kehidupan dan ketidakpastian. Jenang menjadi penanda bahwa hidup tidak dijalani sendirian. Ada relasi yang perlu diingat dan dijaga, baik dengan sesama maupun dengan alam.
Masalahnya, ketika makna simbolik ini benar-benar dilupakan, tradisi mudah disalahpahami. Ia dianggap takhayul atau sekadar kebiasaan lama. Padahal yang hilang bukan tradisinya, melainkan cara kita membaca tradisi itu sendiri. Kita terlalu cepat bertanya soal benar dan salah, tanpa sempat bertanya mengapa tradisi ini dulu dianggap penting.
Membaca jenang lima sebagai simbol relasi membuat kita melihat tradisi Jawa dengan cara yang lebih manusiawi. Ia tidak bertentangan dengan agama. Ia justru mengajarkan nilai yang dekat dengan etika keagamaan, yakni kesadaran akan keterhubungan, rasa syukur, dan tanggung jawab sosial. Bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang hubungan yang harus dirawat.
Di tengah kehidupan modern yang serba individual, tradisi semacam ini justru menawarkan jeda. Ia mengajak manusia berhenti sejenak, mengingat asal-usul, dan menyadari bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Dalam jenang yang sederhana itu, tersimpan pengingat bahwa manusia lahir dari hubungan, hidup dalam hubungan, dan akan kembali dalam hubungan.
Tradisi tidak selalu membutuhkan pembelaan panjang. Kadang ia hanya perlu dibaca ulang dengan kepekaan. Jenang lima tidak menuntut kepercayaan metafisis yang rumit. Ia hanya mengajak kita untuk mengingat. Dan di zaman ketika orang mudah lupa, ingatan semacam ini menjadi sangat berharga.
Maka yang perlu dijaga hari ini bukan hanya ritualnya, tetapi cara kita memaknainya. Agar tradisi tidak berhenti sebagai kebiasaan kosong, melainkan tetap menjadi jembatan antara manusia, sesama, dan kehidupan itu sendiri.
Referensi
Clifford Geertz. 1976. The Religion of Java. University of Chicago Press
Émile Durkheim. 1912. The Elementary Forms of Religious Life. Free Press
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka
Kuntowijoyo. 2006. Islam sebagai Ilmu. Tiara Wacana













Discussion about this post