Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

Muhammad Arfan Ahwadzy by Muhammad Arfan Ahwadzy
22 Oktober 2026
A A
Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

Ilustrasi. (Sumber: Dok. Istimewa)

Kritik sering dianggap alasan untuk berhenti. Takut disebut mencari perhatian, seseorang mengurungkan gagasannya. Takut dinilai riya, ia malah meninggalkan amal yang semula diniatkan baik. Dalam kehidupan sosial, kekhawatiran semacam ini tidak selalu lahir dari kesalahan. Kadang sumbernya cuma satu: orang lain mungkin tidak menyukai apa yang kita lakukan.

Literatur keislaman sejak lama menaruh perhatian pada anjuran menjauhi mawāḍi’ at-tuham, yakni keadaan yang dapat mengundang prasangka buruk orang lain. Anjuran ini meniscayakan pentingnya menjaga sikap agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat mencoreng kehormatan seseorang.

Sementara itu, Nassim Nicholas Taleb, seorang pemikir Lebanon-Amerika yang dikenal melalui kajiannya tentang risk and uncertainty (risiko dan ketidakpastian), memperkenalkan konsep antifragile dengan membedakan tiga keadaan, yakni fragile, robust, dan antifragile. Fragile berarti rapuh: sesuatu yang mudah rusak ketika menghadapi tekanan. Adapun robust berarti tangguh: mampu bertahan menghadapi tekanan tanpa mengalami perubahan berarti.

Berbeda dengan keduanya, antifragile justru memperoleh manfaat dari tekanan yang dihadapinya. Singkat kata, jika sesuatu yang rapuh menjadi rusak karena tekanan dan sesuatu yang tangguh hanya mampu bertahan, maka sesuatu yang antifragile justru dapat berkembang menjadi lebih baik karena adanya tekanan tersebut. (Lihat: Nassim Nicholas Taleb, Antifragile: Things That Gain from Disorder [New York: Random House, 2012], hlm. 3–4)

Sehingga, jika tekanan dapat menjadi sarana berkembang, apakah manusia masih perlu sibuk menghindari dugaan orang lain? Ternyata persoalannya bukan memilih satu lalu membuang yang lain.

Kita perlu terlebih dahulu kembali memastikan apa yang sebenarnya dihindari dalam keterangan para ulama: tindakan tercela, kesalahpahaman yang masuk akal, atau setiap kemungkinan orang berkomentar negatif.

Menjaga Prasangka, Bukan Menuruti Penilaian Manusia

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. memberi klarifikasi identitas perempuan yang sedang bersama beliau kepada dua sahabat yang berpapasan. Peristiwa ini menjadi dasar anjuran menjaga diri dari keadaan yang dapat menimbulkan sangkaan buruk. Terkait hal ini, an-Nawawi memaparkan:

وَفِيهِ اسْتِحْبَابُ التَّحَرُّزِ مِنَ التَّعَرُّضِ لِسُوءِ ظَنِّ النَّاسِ فِي الْإِنْسَانِ، وَطَلَبِ السَّلَامَةِ وَالِاعْتِذَارِ بِالْأَعْذَارِ الصَّحِيحَةِ، وَأَنَّهُ مَتَى فَعَلَ مَا قَدْ يُنْكَرُ ظَاهِرُهُ مِمَّا هُوَ حَقٌّ وَقَدْ يَخْفَى، أَنْ يُبَيِّنَ حَالَهُ لِيَدْفَعَ ظَنَّ السُّوءِ

Artinya, “Dalam hadis ini terdapat anjuran menghindari keadaan yang menimbulkan prasangka buruk, menjaga diri dari tuduhan, serta memberikan alasan yang benar. Apabila seseorang melakukan sesuatu yang secara lahiriah tampak buruk, padahal sebenarnya benar, hendaknya ia menjelaskan keadaannya untuk menghilangkan prasangka tersebut.” (Lihat: Abū Zakariyyā Muḥyī al-Dīn Yaḥyā ibn Sharaf an-Nawawī, al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim ibn al-Ḥajjāj [Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāst al-’Arabī, 1972 M], juz XIV, hlm. 330–331)

Keterangan tersebut jelas. Namun, kesimpulan bahwa setiap tindakan yang dicurigai orang lain harus ditinggalkan terlalu tergesa-gesa. Rasulullah Saw. tidak menghentikan tindakan yang benar, melainkan menjelaskan duduk perkaranya. Klarifikasi diperlukan agar tindakan tersebut tidak dibaca secara keliru.

Sebaliknya, bila seseorang sengaja menempatkan diri pada keadaan yang memang patut dicurigai, lalu berlindung di balik alasan “tidak peduli perkataan orang”, pembenarannya pun rapuh. Ada perbedaan antara tindakan yang benar tetapi disalahpahami dan tindakan ceroboh yang kemudian menuntut semua orang berbaik sangka.

Menghindari Prasangka Bukan Berarti Takut Penilaian

Menariknya, dalam al-Azkār, al-Nawawi justru memperingatkan bahaya terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Beliau membahas orang yang enggan berzikir dengan lisan karena takut dianggap riya, lalu menegaskan:

وَلَوْ فَتَحَ الْإِنْسَانُ عَلَيْهِ بَابَ مُلَاحَظَةِ النَّاسِ وَالِاحْتِرَازِ مِنْ تَطَرُّقِ ظُنُونِهِمُ الْبَاطِلَةِ لَانْسَدَّ عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَبْوَابِ الْخَيْرِ

Artinya, “Seandainya seseorang membuka pintu untuk terus memperhatikan manusia dan menghindari masuknya prasangka mereka yang keliru, niscaya sebagian besar pintu kebaikan akan tertutup baginya.” (Lihat: Muḥyī al-Dīn Yaḥyā ibn Syaraf al-Nawawī, al-Azkār li an-Nawawi, [Beirut: Dār al-Fikr, 1994 M], hlm. 9)

Satu ulama memberikan dua keterangan yang kelihatannya berseberangan. Dalam syarah hadis, beliau menganjurkan menghindari prasangka. Dalam al-Azkār, beliau mengecam ketakutan berlebihan terhadap prasangka.

Apakah kontradiksi? Tidak juga. Yang pertama berkaitan dengan pencegahan kesalahpahaman yang wajar. Yang kedua mengenai dugaan batil yang tidak patut menentukan keputusan seseorang.

Ibn ‘Allān dalam al-Futūḥāt ar-Rabbāniyyah, ketika mensyarahi penjelasan an-Nawawi tentang meninggalkan amal karena manusia, bahkan menyingkap akar persoalannya:

وَذَلِكَ لِأَنَّ مُلَاحَظَتَهُ لَهُمْ تُشْعِرُ بِأَنَّهُ يَرْجُو مَدْحَهُمْ وَيَخْشَى قَدْحَهُمْ

Artinya, “Sebab, sikapnya yang terus memperhatikan mereka menunjukkan bahwa ia mengharapkan pujian dan takut terhadap celaan mereka.” (Lihat: Ibn ‘Allān ibn Ibrāhīm al-Ṣiddīqī, al-Futūḥāt ar-Rabbāniyyah ‘alā al-Azkār al-Nawawiyyah [Kairo: Jam’iyyat al-Nashr wa al-Taʾlīf al-Azhariyyah, 1347 H], juz I, hlm. 109)

Artinya, orang yang sibuk menjaga citra belum tentu terbebas dari riya. Bisa jadi ia hanya berganti bentuk: tidak ingin terlihat buruk, tidak ingin disebut pamer, lalu menggantungkan keputusan pada selera publik. Di sinilah menjaga kehormatan dapat bergeser menjadi ketergantungan terhadap penilaian manusia.

Meninggalkan Amal karena Takut Riya’

Penjelasan lebih terang terdapat dalam al-Ādāb as-Syar’iyyah karya Ibn Mufliḥ. Beliau bahkan memberi judul khusus pada pembahasannya:

لَا يَنْبَغِي تَرْكُ الْعَمَلِ الْمَشْرُوعِ خَوْفَ الرِّيَاءِ

Artinya, “Tidak sepatutnya amal yang disyariatkan ditinggalkan karena takut riya.” (Lihat: Ibn Mufliḥ ibn Muḥammad al-Maqdisī al-Ḥanbalī, al-Ādāb al-Shar’iyyah wa al-Minaḥ al-Mar’iyyah [Beirut: ‘Ālam al-Kutub, t.t.], juz I, hlm. 266–267)

Ibn Mufliḥ menjelaskan orang yang hendak berbuat taat terkadang dihantui kekhawatiran bahwa amalnya terjatuh pada riya. Menurutnya, kekhawatiran itu tidak semestinya menjadi alasan meninggalkan ketaatan. Tugasnya adalah meluruskan niat, bukan menghentikan amal. Bukankah aneh jika sesuatu yang semula benar justru batal dilakukan karena dugaan yang belum tentu benar?

Murtaḍā al-Zabīdī dalam Itḥāf as-Sādah al-Muttaqīn juga membahas orang yang takut dianggap riya, lalu meninggalkan amal demi mempertahankan citra ikhlas di mata manusia. Ia menulis:

فَيَكُونُ مُرَائِيًا بِتَرْكِهِ

Artinya, “Dengan demikian, ia justru menjadi orang yang riya melalui tindakannya meninggalkan amal.” (Lihat: Muḥammad Murtaḍā al-Zabīdī, Itḥāf as-Sādah al-Muttaqīn bi Syarḥ Iḥyāʾ ‘Ulūm al-Dīn [Beirut: Muʾassasat al-Tārīkh al-’Arabī, 1994 M], juz X, hlm. 56)

Keterangan di atas tidak sedang membolehkan segala tindakan yang mengundang kontroversi. Konteksnya ialah amal yang benar serta persoalan ketulusan niat. Kendati demikian, tetap ada pelajaran yang diambil, yakni tidak semua tindakan mengalah terhadap penilaian orang lain merupakan bentuk kehati-hatian. Kadang tindakan itu sendiri memperlihatkan besarnya kuasa penilaian publik atas diri kita.

Kritik yang Menghasilkan Perbaikan: Di Sini Antifragile Relevan

Sampai di sini, hubungan dengan antifragile mulai tampak. Hanya saja, sikap untuk tetap bertahan ketika dihujat belum cukup untuk disebut antifragile. Itu baru ketahanan. Dalam pengertian Taleb, harus ada manfaat yang lahir dari tekanan, bukan sekadar kemampuan menanggungnya.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn bahkan menyebut celaan musuh sebagai salah satu jalan mengenali kekurangan diri. Beliau menulis:

الطَّرِيقُ الثَّالِثُ أَنْ يَسْتَفِيدَ مَعْرِفَةَ عُيُوبِ نَفْسِهِ مِنْ أَلْسِنَةِ أَعْدَائِهِ

Artinya, “Jalan ketiga adalah mengambil manfaat untuk mengetahui kekurangan diri melalui lisan musuh-musuhnya.” (Lihat: Abū Ḥāmid Muḥammad al-Ghazālī, Iḥyāʾ ‘Ulūm ad-Dīn [Beirut: Dār al-Ma’rifah, t.t.], juz III, hlm. 64–65)

Al-Ghazali tidak meminta seseorang sengaja mencari permusuhan. Namun, celaan dari orang yang tidak menyukai kita bukan berarti tidak memiliki manfaat. Misalnya, seseorang mengemukakan gagasan atau sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, lalu mendapat kritik bahkan penolakan karena dianggap menyalahi pandangan umum.

Dalam keadaan demikian, ia tidak harus buru-buru meninggalkan gagasannya. Kritik tersebut justru dapat digunakan untuk menguji kembali dasar pemikirannya, memperbaiki kekurangannya, atau bahkan memperkuat argumentasi yang telah dibangun. Di sinilah konsep antifragile menjadi relevan. Penentangan yang semula dianggap sebagai hambatan justru dapat menjadi sebab berkembangnya suatu pemikiran.

Tetapi, apakah semua tekanan harus disambut? Tentu tidak. Bahkan dalam Itḥāf as-Sādah al-Muttaqīn, az-Zabīdī menegaskan ketika seseorang telah menemukan dorongan untuk melakukan kebaikan, ia tidak perlu meninggalkannya lantaran takut tersusupi riya.

Menurutnya, yang dituntut justru memerangi riya sambil meneruskan amal. Jika sejak awal semata-mata mencari pujian, hukumnya lain lagi. (Lihat: Muḥammad ibn Muḥammad ibn ‘Abd al-Razzāq Murtaḍā al-Zabīdī, Itḥāf al-Sādah al-Muttaqīn bi Syarḥ Iḥyāʾ ‘Ulūm al-Dīn [Beirut: Muʾassasat al-Tārīkh al-’Arabī, 1994 M], juz X, hlm.311-312)

Perbedaan itu penting. Memperbaiki niat bukan berarti membenarkan kesalahan. Memanfaatkan kritik pun tidak sama dengan sengaja memancing konflik. Kritik yang beralasan perlu diterima; tuduhan yang salah dapat diklarifikasi; sedangkan tekanan yang merusak tidak harus terus dipelihara atas nama pertumbuhan.

Kesimpulan

Prinsip menjauhi mawāḍi’ at-tuham dan konsep antifragile jelas berbeda. Yang pertama meniscayakan kehati-hatian agar tidak mengundang prasangka buruk, sedangkan yang kedua melihat kemungkinan memperoleh manfaat dari tekanan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab, menjaga kehormatan bukan berarti harus tunduk pada setiap penilaian manusia.

Persoalannya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain sebagai alasan untuk berhenti. Padahal, belum tentu yang dikritik itu salah. Bahkan, sesuatu yang dianggap buruk oleh sebagian orang bisa jadi hanya karena mereka tidak memahami duduk perkaranya. Jika setiap prasangka harus dituruti, berapa banyak hal baik yang akhirnya tidak pernah dilakukan?

Maka, sampai kapan kita terus berhenti hanya karena khawatir terhadap penilaian orang lain? Kritik yang benar perlu dijadikan bahan perbaikan, sedangkan prasangka yang keliru cukup diluruskan. Lebih dari itu, kritik dapat menjadi sebab seseorang berkembang sebagaimana ditekankan dalam konsep antifragile. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya benar justru ditinggalkan hanya demi memperoleh penilaian baik dari manusia. Sebab, tidak semua penilaian harus dituruti, apalagi jika harus mengorbankan sesuatu yang kita yakini benar.

Muhammad Arfan Ahwadzy

Muhammad Arfan Ahwadzy

Pemuda studi double degree Fiqh-Ushul Fiqh Ma’had Aly Lirboyo dan PAI Universitas Islam Tribakti Lirboyo. Menulis isu sosial, hukum, dan pesantren untuk menyalurkan keresahan yang tak selalu punya tempat pulang.

ARTIKEL TERKAIT

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta
Kolom

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern
Kolom

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?
Kolom

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital
Kolom

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah
Kolom

Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah

6 Juni 2026
Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah
Kolom

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

24 Mei 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

22 Oktober 2026
Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
Parenting VOC Anak dalam Perspektif Fikih: Antara Ketegasan, Kemaslahatan, dan Perlindungan Anak

Parenting VOC Anak dalam Perspektif Fikih: Antara Ketegasan, Kemaslahatan, dan Perlindungan Anak

6 Oktober 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.