Ada satu hal yang jarang disadari dalam cara kita memaknai cinta: setiap orang memiliki ekspresinya sendiri, dan tidak semuanya tampak di permukaan. Sebagian orang menunjukkan cinta dengan mendekat, menyapa, berbincang, dan memperpanjang perjumpaan. Sebagian yang lain memilih jalan lebih sunyi: menjaga jarak, menahan diri, atau menyimpan rasa dalam doa yang tidak terdengar.
Dalam hubungan dengan orang-orang yang dimuliakan seperti guru, ulama, atau masyayikh, perbedaan ini terasa nyata. Ada yang menganggap sowan dan bersalaman sebagai wujud penghormatan. Ada pula yang merasa tidak selalu mendekat justru menjadi bagian dari adab. Keduanya bisa lahir dari kesamaan, yakni keinginan untuk memuliakan.
Persoalannya muncul ketika kedekatan fisik dijadikan satu-satunya ukuran. Mereka yang kerap terlihat di sekitar kiai dianggap paling mencintai; sebaliknya, mereka yang jarang hadir mudah dinilai kurang dekat, bahkan kurang memiliki rasa hormat. Padahal, kita hanya melihat perjumpaannya, bukan seluruh keadaan hatinya.
Apalagi di lingkungan yang terbiasa menilai hubungan melalui hal-hal yang kasatmata. Siapa yang hadir saat acara, siapa yang mendapat kesempatan bersalaman, atau siapa yang terlihat mendampingi seorang guru sering menjadi bahan percakapan. Padahal, kesempatan setiap orang berbeda. Ada yang leluasa meluangkan waktu, ada pula yang terikat kewajiban belajar, bekerja, atau mengurus keluarga. Perbedaan kesempatan semestinya tidak buru-buru diterjemahkan sebagai perbedaan kadar cinta.
Al-Qur’an memang mengajarkan pentingnya bersama orang-orang yang benar. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119).
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Katsir menjelaskan perintah itu dengan ungkapan:
أَيِ اصْدُقُوا وَالْزَمُوا الصِّدْقَ تَكُونُوا مَعَ أَهْلِهِ
“Yakni, berlaku jujurlah dan berpeganglah pada kejujuran, niscaya kalian termasuk bersama orang-orang yang jujur.”
Dengan ini, kebersamaan tidak patut dilepaskan dari nilai yang diteladani. Dekat dengan ulama tentu baik, tetapi apa artinya bila nasihatnya tidak pernah diikuti? Sebaliknya, orang yang terpisah jarak tetap bisa menjaga hubungan dengan membaca karya, mengamalkan pelajaran, dan memelihara penghormatan kepada gurunya.
Kehadiran langsung pun memiliki keistimewaannya sendiri. Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī mengingatkan dalam al-Ḥikam:
لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ مَقَالُهُ
“Jangan bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkanmu dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”
Kalam ini menunjukkan besarnya pengaruh keadaan dan ucapan orang saleh. Melihat akhlak guru secara langsung, mengikuti majelis, atau mendengarkan nasihatnya dapat menjadi jalan yang berharga untuk memperbaiki diri.
Namun demikian, anjuran mengambil manfaat dari perjumpaan tidak otomatis memberi kita hak menghakimi orang yang tidak sering terlihat di dalamnya.
Pengaruh keteladanan semacam ini juga tercermin dalam sebuah ungkapan yang dinukil dari sebagian ulama terdahulu:
مَنْ لَمْ يَنْفَعْكَ لَحْظُهُ لَمْ يَنْفَعْكَ لَفْظُهُ
“Jika memandang sosoknya saja tidak memberimu manfaat, ucapannya pun tidak akan memberimu manfaat.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa perilaku dan keteladanan seorang alim terkadang memberi pelajaran sebelum ia menyampaikan nasihat. Kehalusan makna perjumpaan itu juga tergambar dalam sebuah bait syair Ṣafī al-Dīn Aḥmad bin ‘Alwān:
نَظَرُ الْمُحِبِّ إِلَى الْمُحِبِّ سَلَامٌ # وَالصَّمْتُ بَيْنَ الْعَارِفِينَ كَلَامٌ
“Pandangan seorang pencinta kepada pencinta lainnya adalah salam, dan diam di antara orang-orang arif pun merupakan percakapan.”
Bait ini mengingatkan bahwa cinta dan penghormatan tidak selalu membutuhkan banyak kata. Meski begitu, kedua ungkapan tersebut lebih tepat dipahami sebagai penghargaan terhadap manfaat perjumpaan, bukan ukuran untuk menilai cinta orang yang jarang hadir. Sebab, hubungan dengan seorang guru juga dapat terpelihara melalui ilmu yang diamalkan, keteladanan yang diikuti, dan doa yang tak terdengar.
Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, pada pembahasan hakikat mahabbah, menulis:
لَا يُتَصَوَّرُ مَحَبَّةٌ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةٍ وَإِدْرَاكٍ؛ إِذْ لَا يُحِبُّ الْإِنْسَانُ إِلَّا مَا يَعْرِفُهُ
“Tidak terbayangkan adanya cinta kecuali setelah mengenal dan memahami, sebab manusia tidak mencintai sesuatu yang tidak dikenalnya.”
Saya memahami penjelasan ini sebagai pengingat bahwa mahabbah tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang berada di hadapan gurunya. Rasa itu perlu tumbuh dari pengenalan terhadap ilmu, keteladanan, dan nilai yang diajarkan. Kedekatan lahiriah dapat membantu proses tersebut, tetapi tidak menggantikan kedekatan dalam penghayatan.
Rasulullah saw. juga pernah ditanya mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi belum menyamai kedudukan mereka. Beliau menjawab, sebagaimana diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. al-Bukhari, no. 6169).
Hadis ini berbicara tentang nilai cinta dan kebersamaan yang melampaui apa yang tampak, bukan berarti setiap orang boleh meninggalkan kewajibannya kepada guru. Setidaknya, ia mengingatkan bahwa hubungan yang bermakna tidak selalu dapat diringkas menjadi hitungan pertemuan.
Lebih jauh lagi, jika cinta harus selalu dibuktikan dengan pertemuan, bagaimana dengan mereka yang mencintai ulama terdahulu yang telah wafat? Kita tentu tidak mungkin duduk bersama mereka. Namun, melalui kitab, pemikiran, dan warisan keteladanan yang dipelihara, hubungan itu tetap dapat hidup. Justru dari sini tampak bahwa mahabbah memiliki ruang yang lebih luas daripada kedekatan tempat.
Kisah Uwais al-Qarni memberi sudut pandang lain. Ia dikenal sebagai seorang tabiin yang hidup pada masa Nabi saw., tetapi tidak tercatat sebagai sahabat yang berjumpa langsung dengan beliau. Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Rasulullah saw. menyebut keutamaannya dan berpesan:
إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ، وَلَهُ وَالِدَةٌ، وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ، فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
“Sesungguhnya sebaik-baik tabiin adalah seorang laki-laki bernama Uwais. Ia mempunyai seorang ibu dan dahulu memiliki bercak putih. Mintalah kepadanya agar memohonkan ampun bagi kalian.” (HR. Muslim, no. 2542).
Riwayat ini tidak sedang mengajarkan bahwa menjauh lebih utama daripada mendekat. Namun, ia memperlihatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu berjalan seiring dengan keterlihatan dan kesempatan bertemu. Betapa terbatasnya penilaian kita jika hanya bertumpu pada siapa yang paling sering hadir di sekitar sosok yang dihormati.
Bahkan, menjaga jarak kadang justru berkaitan dengan adab. Ibn Jamā‘ah dalam Tażkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim, ketika menguraikan etika murid kepada guru, menegaskan:
أَلَّا يَدْخُلَ عَلَى الشَّيْخِ فِي غَيْرِ الْمَجْلِسِ الْعَامِّ إِلَّا بِاسْتِئْذَانٍ
“Hendaknya murid tidak masuk menemui guru di luar majelis umum kecuali setelah meminta izin.”
Pesan ini sederhana, tetapi penting. Tidak semua kesempatan perlu diambil; tidak semua jarak perlu dipangkas. Menghormati waktu istirahat, kesibukan, dan ruang pribadi seorang guru juga termasuk cara memuliakannya. Keengganan untuk mengganggu tidak selalu berarti tidak ingin dekat.
Dalam tradisi pesantren, tabarruk pun memiliki beragam bentuk. Bersalaman mempertemukan tangan, memandang guru mempertemukan mata, sedangkan mendengarkan nasihat mempertemukan pikiran dengan ilmu.
Bagi saya, ada pula tabarruk yang tidak selalu terlihat: mahabbah yang menjaga keterhubungan hati, sekalipun seseorang tidak terus-menerus berada di hadapan gurunya.
Ibn ‘Aṭā’illāh kembali mengingatkan dalam al-Ḥikam:
الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلَاصِ فِيهَا
“Amal-amal ibarat bentuk tanpa nyawa; ruh yang menghidupkannya adalah keikhlasan di dalamnya.”
Tentu, hikmah tentang ikhlas ini tidak memberi kita wewenang menilai isi hati orang lain. Justru sebaliknya: ia mengajak kita berhati-hati saat menganggap satu ekspresi lebih tulus daripada ekspresi lainnya. Orang yang sering sowan belum tentu sekadar mencari perhatian; orang yang jarang sowan pun belum tentu kehilangan cinta.
Ada cinta yang bahkan tidak membutuhkan kehadiran. Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ
“Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang dikabulkan.” (HR. Muslim, no. 2733).
Mendoakan guru tanpa diketahui orang lain mungkin tidak menghadirkan momen yang dapat dilihat atau diceritakan. Namun, di sanalah hubungan tetap dijaga tanpa menuntut balasan perhatian. Begitu pula dengan mempelajari kitab-kitabnya, menjaga nama baiknya secara wajar, dan meneruskan ilmu yang pernah diajarkannya.
Di tengah kebiasaan membagikan dokumentasi pertemuan, kita pun perlu membedakan antara mengabadikan kenangan dan menjadikan dokumentasi sebagai standar penghormatan. Tidak ada yang salah dengan foto bersama guru. Akan tetapi, tidak adanya foto bukan bukti ketiadaan cinta. Ada hubungan yang memang tidak disimpan dalam galeri, melainkan dalam ingatan, kebiasaan baik, dan pengamalan ilmu yang terus berlangsung.
Meski demikian, jarak tidak semestinya dijadikan alasan untuk mengabaikan kesempatan belajar, memutus silaturahmi, atau menolak khidmah yang memang mampu dilakukan. Yang perlu kita hindari bukanlah kedekatan, melainkan kebiasaan menyempitkan cinta pada satu bentuk kedekatan saja.
Singkat kata, memang ada cinta yang memilih hadir, ada pula cinta yang memilih diam. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kita boleh memiliki cara sendiri dalam memuliakan para ulama, tetapi tidak perlu menjadikan cara itu sebagai ukuran untuk menilai hati orang lain. Boleh jadi seseorang tampak jauh dalam pandangan kita, padahal ia sedang menjaga kedekatannya melalui jalan yang tidak kita lihat.













Discussion about this post