Perkembangan teknologi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia, termasuk cara seseorang menuntut ilmu agama. Jika dulu seorang santri harus berjalan menuju masjid, pesantren, atau rumah seorang Kiai untuk mengikuti pengajian, kini ilmu dapat dipelajari hanya dengan membuka ponsel. Pengajian dapat diikuti melalui siaran langsung, rekaman kajian, maupun berbagai platform digital. Kemudahan tersebut tentu merupakan nikmat yang patut disyukuri. Seseorang yang tinggal jauh dari guru tetap dapat mendengarkan penjelasan para ulama. Bahkan, satu kajian dapat diikuti oleh ribuan orang dari tempat yang berbeda.
Namun, muncul sebuah pertanyaan: apakah mengikuti ngaji secara online memiliki keutamaan yang sama dengan hadir secara langsung di majelis ilmu? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat bagaimana para ulama menjelaskan keutamaan hadir secara langsung di hadapan guru dan berada di tengah-tengah majelis ilmu.
Dalam Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib, al-Faqih Abu al-Laits menjelaskan bahwa seseorang yang duduk bersama seorang alim, meskipun tidak mampu menghafal ilmu yang disampaikan, tetap memperoleh berbagai kemuliaan. Beliau berkata:
قال الفقيه أبو الليث: إن من جلس عند العالم ولا يقدر أن يحفظ من ذلك العلم شيئا فله سبع كرامات، أولها ينال فضل المتعلمين، والثاني: ما دام جالسا عنده كان محبوسا عن الذنوب، والثالث: إذا خرج من منزله طلبا للعلم نزلت الرحمة عليه، والرابع: إذا جلس في حلقة العلم فإذا نزلت الرحمة عليهم حصل له منها نصيب، والخامس: ما دام في الاستماع يكتب له طاعة.
Artinya: “Al-Faqih Abu al-Laits berkata: Sesungguhnya orang yang duduk di sisi seorang alim, meskipun ia tidak mampu menghafal sedikit pun dari ilmu tersebut, maka ia mendapatkan beberapa kemuliaan. Pertama, ia memperoleh keutamaan orang-orang yang belajar, kedua, selama dia duduk bersamanya ia akan terjaga dari dosa, ketiga, jika ia keluar dari rumah untuk mencari ilmu maka rahmat akan turun kepadanya, keempat, ketika ia duduk dalam lingkaran ilmu dan rahmat turun maka ia akan ia mendapatkan bagian darinya dan yang kelima selama ia mendengarkan maka akan dicatat baginya sebagai sebuah ketaatan.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa kehadiran seseorang di majelis ilmu memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar memahami materi kajian. Bahkan seseorang yang merasa tidak mampu menghafal atau memahami seluruh pelajaranpun tetap memperoleh bagian dari keberkahan majelis.
Mengapa demikian? Karena majelis ilmu bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses transfer pengetahuan. Di dalamnya terdapat pertemuan antarmanusia, keteladanan, nasihat, suasana spiritual, serta kesempatan untuk melihat dan mendengar secara langsung orang-orang yang sholih. Gambaran tersebut dijelaskan dengan sangat menarik dalam al-Maqathi’ wa al-Nutaf min Kalam al-Salaf. Al-Habib bin Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf berkata:
قال الحبيب بن عبد القدير بن أحمد السقاف: هذه المجالس هي الدعوة الصحيحة المثمرة التي تتحرك بها القلوب، ذلك لأن الإنسان ينظر فيها إلى وجه مفلح فيتأثر بالنظر إليه، ثم يسمع شيئا من كلام الحبيب فيتأثر به، أو بشيء من آيات الذكر الحكيم، أو يسمع شيئا من كلام الحكماء الدالين على الله والذين على كلامهم شيء من النور يمرق إلى القلوب، وهذا بالنسبة لنفس المجلس، ثم هناك أمر آخر وهو التعارف.
Artinya: “Al-Habib bin Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf berkata: Majelis-majelis ini merupakan dakwah yang benar dan membuahkan hasil, yang dengannya hati menjadi tergerak. Sebab, seseorang melihat wajah orang yang sholih sehingga ia terpengaruh dengan melihatnya. Kemudian ia mendengar sebagian perkataan al-Habib sehingga terpengaruh olehnya, atau mendengar sebagian ayat zikir bijaksana, atau mendengar perkataan para ahli hikmah yang menuntun untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan perkataan mereka terdapat sesuatu dari cahaya yang sampai ke dalam hati. Ini adalah manfaat dari majelis itu sendiri. Selain itu, terdapat manfaat lain, yaitu saling mengenal.”
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa keutamaan majelis ilmu terkadang hadir melalui sesuatu yang tidak dapat diukur dengan catatan materi. Seseorang mungkin tidak dapat mengingat seluruh isi pengajian, tetapi ia dapat melihat akhlak seorang guru, mendengar nasihatnya, merasakan suasana majelis, atau bertemu dengan orang-orang saleh. Semua itu dapat menjadi sebab bergeraknya hati menuju kebaikan.
Masih dalam kitab yang sama, al-Habib Abdullah bin Umar al-Syathiri memberikan penjelasan:
قال الحبيب عبد الله بن عمر الشاطري: الاجتماعات فيها سر عظيم، كم من واحد في الجمع له وجاهة عند مولاه يشط فينا
Artinya: “Al-Habib Abdullah bin Umar al-Syathiri berkata: Perkumpulan itu memiliki rahasia yang agung. Betapa banyak seseorang di antara orang-orang yang hadir dalam perkumpulan tersebut yang memiliki kedudukan di sisi Tuhannya, sehingga keberadaannya menjadi sebab tercurahnya kebaikan kepada kita.”
Ungkapan ini semakin memperlihatkan bahwa kehadiran dalam sebuah majelis memiliki dimensi keberkahan yang tidak hanya berkaitan dengan materi yang disampaikan. Terkadang, seseorang hadir tanpa keistimewaan khusus, namun keberkahan majelis orang-orang saleh yang ia ikuti berhasil mengangkat derajatnya dan melimpahkan kebaikan kepadanya Hal ini kemudian semakin jelas dalam Mausu’ah Yusufiyyah, yang menjelaskan perbedaan antara mengambil ilmu melalui kitab dan mengambilnya melalui guru:
وربما كان الآخذ السليم عن الكتاب السليم فيه الأجر فقط، أما الأخذ عن الشيخ ففيه الأجر وفيه الوصول معا؛ لأن فيه سر الإمداد بالبركة وربط المريد بالحبل المحمدي، وذلك أشبه بالتيار الكهربائي لا ينتقل إلا بالموصل
Artinya: “Terkadang orang yang mengambil ilmu dari kitab hanya mendapatkan pahala saja. Adapun jika mengambil ilmu dari seorang guru, maka di dalamnya terdapat pahala sekaligus jalan untuk sampai kepada allah, karena terdapat rahasia limpahan keberkahan dan keterhubungan murid dengan rantai sanand keilmuan Nabi. Hal itu seperti arus listrik yang tidak dapat berpindah kecuali melalui penghantar.”
Ungkapan tersebut bukan berarti belajar melalui kitab atau media digital tidak memiliki nilai. Sebaliknya, keduanya tetap dapat menjadi sarana ta’lim wa ta’allum. Seseorang yang mengikuti kajian secara online dapat memperoleh ilmu, memahami hukum agama, mengambil nasihat, dan mendapatkan pahala belajar.
Namun, hadir langsung di hadapan guru mempunyai dimensi tambahan. Ada interaksi secara langsung, keteladanan yang dapat dilihat, adab yang dapat dipelajari, serta keberkahan majelis yang dirasakan bersama. Al-Sufiri dalam Syarh Shahih al-Bukhari juga menekankan pentingnya bermajelis dengan para ulama:
فعليك بمجالسة العلماء تنتفع بالحضور عندهم، فإنه من جالس الأخيار سلم، ومن جالس الأشرار ندم، ومن جالس العلماء غنم
Artinya: “Hendaklah engkau duduk dengan para ulama, karena engkau akan memperoleh manfaat dengan hadir di hadapan mereka. Siapa yang bergaul dengan orang-orang baik akan selamat, siapa yang bergaul dengan orang-orang buruk akan menyesal, dan siapa yang bergaul dengan para ulama akan memperoleh keuntungan.”
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga menjelaskan bahwa manusia memperoleh pengetahuan dan akhlak bukan hanya melalui pengajaran, tetapi juga melalui teladan dan bimbingan secara langsung. Pembentukan kemampuan melalui perjumpaan langsung dengan guru memiliki pengaruh yang lebih kuat dan lebih kokoh. Lantas, apakah ngaji online harus ditinggalkan?
Tentu tidak. Kehadiran teknologi justru dapat menjadi jalan luas bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu, terutama bagi mereka yang terkendala jarak dan keadaan. Ngaji online dapat menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan kajian dan para ulama. Akan tetapi, ketika seseorang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke majelis, maka kesempatan tersebut memiliki keutamaan tersendiri. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk duduk di hadapan guru dan merasakan keberkahan majelis secara langsung.
Dengan demikian, persoalannya bukan mempertentangkan ngaji online dengan ngaji langsung. Keduanya sama-sama dapat menjadi sarana memperoleh ilmu dan pahala. Yang membedakan adalah adanya fadilah tambahan dalam kehadiran langsung, berupa sirr majelis, keberkahan, keteladanan, dan hubungan guru dengan murid.
Kesimpulannya, orang yang mengikuti ngaji online tetap mendapatkan pahala ta’lim wa ta’allum selama ia benar-benar menyimak dan mengambil manfaat dari ilmu yang disampaikan. Namun, ia tidak mendapatkan fadilah sirr dan barakah ilmu melalui hubungan langsung dengan guru sebagaimana orang yang hadir langsung di majelis. Karena itu, ngaji online dapat menjadi sarana memperoleh ilmu, tetapi ketika kesempatan untuk hadir secara langsung terbuka, majelis ilmu tetap memiliki keutamaan yang tidak semestinya ditinggalkan.













Discussion about this post