Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

Ahmad Dhiyaul Lamik by Ahmad Dhiyaul Lamik
17 Oktober 2026
A A
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

Ilustrasi hujan. (Foto: Dok. Istimewa)

Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), kita telah mempelajari proses terjadinya hujan melalui beberapa tahapan, yaitu evaporasi dan transpirasi, kondensasi, adveksi, serta presipitasi. Secara sederhana, air menguap akibat panas matahari, kemudian mengalami kondensasi hingga membentuk awan. Selanjutnya, pergerakan angin memindahkan massa udara yang mengandung uap air, sebelum akhirnya air turun ke bumi sebagai hujan.

Menariknya, pembahasan mengenai proses terjadinya hujan juga ditemukan dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Salah satunya terdapat dalam kitab Hasyiyah Al-Baijuri, karya Syekh Ibrahim Al-Baijuri. Dalam kitab tersebut, terdapat uraian mengenai makna mā’ al-samā’ (ماء السماء) atau air hujan, sekaligus penjelasan mengenai pandangan yang dinisbatkan kepada golongan Mu’tazilah. Temuan ini memunculkan pertanyaan: apakah penjelasan mengenai proses terjadinya hujan yang kita pelajari di sekolah memiliki hubungan dengan pendapat Mu’tazilah?

Proses Terjadinya Hujan Dalam Perspektif IPA

Dalam ilmu pengetahuan modern, hujan merupakan bagian dari siklus hidrologi, yaitu perputaran air yang berlangsung secara terus-menerus di bumi. Proses ini melibatkan penguapan air dari laut dan sumber air lainnya, pembentukan awan melalui kondensasi, perpindahan massa udara oleh angin, serta jatuhnya air ke permukaan bumi melalui presipitasi.

Air hujan yang berasal dari penguapan air laut umumnya tidak memiliki kadar garam seperti air laut. Hal ini karena garam terlarut tidak ikut menguap bersama air. Setelah uap air mengalami pendinginan dan berkondensasi, butiran air di dalam awan dapat membesar hingga akhirnya jatuh sebagai hujan.

Penjelasan tersebut merupakan hasil pengamatan dan kajian ilmiah mengenai mekanisme fisik terjadinya hujan. Akan tetapi, penjelasan dalam literatur klasik tidak selalu menggunakan kerangka konseptual yang sama dengan meteorologi modern.

Penjelasan dalam Hasyiyah Al-Baijuri

Dalam pembahasannya, Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyinggung pandangan mengenai awan yang mengambil air laut, kemudian naik dan mengeluarkan air yang menjadi tawar. Beliau menuliskan:

«وما قيل من أن السحاب ينزل فى البحر الملح فيغترف منه كالسفنج ثم يرتفع وينعصر فينزل منه الماء وتقصره الرياح فيحلو فمن زعم العرب … وهو كلام المعتزلة»

Secara umum, kutipan tersebut menjelaskan pandangan bahwa awan turun ke laut yang asin, mengambil air darinya sebagaimana spons menyerap air, kemudian naik kembali dan diperas hingga air keluar. Air tersebut selanjutnya dikaitkan dengan pergerakan angin sehingga menjadi tawar. Dalam teks yang dikutip, pandangan tersebut dinisbatkan kepada Mu’tazilah.

Selain itu, Syekh Al-Baijuri membahas makna kata as-samā’ dalam konteks air hujan melalui pernyataan berikut:

وهل  المراد بالسماء الجرم المعهود أو السحاب  ؟؛ لأن السماء لغةً : اسم لما علا وارتفع

Artinya, apakah yang dimaksud dengan langit adalah benda langit yang telah diketahui ataukah awan? Sebab, secara bahasa, as-samā’ merupakan sebutan bagi sesuatu yang berada di atas dan menjulang tinggi.

Beliau kemudian menyatakan:

«قولان ، ولا مانع من أن ينزل من كل منهما ، فينزل من الجرم المعهود أولاً قطعاً كباراً فيتلقاه السحاب فينماع وينزل من عيون فيه كعيون الغربال»

Artinya, terdapat dua pendapat mengenai hal tersebut. Tidak ada halangan untuk mengatakan bahwa air turun dari keduanya. Air mula-mula turun dari benda langit yang dimaksud dalam bentuk bongkahan-bongkahan besar, kemudian diterima oleh awan, mencair, dan turun melalui lubang-lubang yang terdapat padanya, seperti air yang mengalir melalui lubang-lubang ayakan.

Kedua kutipan ini memperlihatkan adanya pembahasan klasik mengenai asal-usul air hujan, makna langit, dan peran awan dalam proses turunnya air. Meskipun demikian, penafsiran teknis terhadap ungkapan tersebut perlu mempertimbangkan keseluruhan konteks kitab.

Apakah Proses Hujan Dalam Pelajaran IPA Mengadopsi dari Pendapat Mu’tazilah?

Kemiripan antara pembahasan dalam kitab klasik dan pelajaran IPA memang menarik untuk diteliti. Namun, apakah hal tersebut membuktikan bahwa teori hujan modern diadopsi dari pendapat Mu’tazilah?

Secara historis, kesimpulan demikian belum dapat dipastikan kebenarannya hanya berdasarkan kemiripan objek pembahasan. Untuk membuktikan bahwa suatu teori ilmiah berasal dari pemikiran kelompok tertentu, diperlukan bukti mengenai hubungan transmisi gagasan dan perkembangan historisnya.

Selain itu, penjelasan yang dinisbatkan kepada Mu’tazilah dalam kutipan tersebut tidak sepenuhnya sama dengan teori meteorologi modern. Teori modern menjelaskan pembentukan hujan melalui penguapan, kondensasi, pertumbuhan butiran air atau kristal es, dan presipitasi. Sementara itu, kutipan klasik tersebut menggambarkan awan mengambil air laut, kemudian naik dan mengeluarkan air yang menjadi tawar.

Dengan demikian, kesamaan pembahasan mengenai air, awan, dan hujan tidak otomatis menunjukkan kesamaan teori maupun hubungan historis antara keduanya.

Penutup

Kajian terhadap Hasyiyah Al-Baijuri menunjukkan bahwa fenomena hujan telah menjadi bagian dari pembahasan intelektual ulama klasik. Syekh Al-Baijuri tidak hanya menyinggung pandangan yang dinisbatkan kepada Mu’tazilah, tetapi juga membahas perbedaan pemaknaan terhadap kata as-samā’ dan kemungkinan turunnya air dari langit maupun awan.

Oleh karena itu, pertanyaan mengenai hubungan antara penjelasan hujan dalam pelajaran IPA dan pemikiran Mu’tazilah layak dijadikan bahan penelitian lebih lanjut. Namun, diperlukan kajian historis yang lebih mendalam sebelum menyimpulkan adanya hubungan langsung di antara keduanya.

Pada akhirnya, memahami fenomena alam melalui ilmu pengetahuan dan menelaah warisan keilmuan Islam bukanlah dua kegiatan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat dikaji secara kritis dengan tetap membedakan penjelasan ilmiah mengenai mekanisme alam dari pembahasan teologis mengenai kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya.

والله أعلم بالصواب

Ahmad Dhiyaul Lamik

Ahmad Dhiyaul Lamik

Mahasantri Ma'had Aly Darussalam

ARTIKEL TERKAIT

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta
Kolom

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?
Kolom

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital
Kolom

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah
Kolom

Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah

6 Juni 2026
Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah
Kolom

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

24 Mei 2026
Ah.. Saya Ingin Melihat Santri Menulis
Kolom

Ah… Saya Ingin Melihat Santri Menulis

22 Mei 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
Parenting VOC Anak dalam Perspektif Fikih: Antara Ketegasan, Kemaslahatan, dan Perlindungan Anak

Parenting VOC Anak dalam Perspektif Fikih: Antara Ketegasan, Kemaslahatan, dan Perlindungan Anak

6 Oktober 2026
Ketika Ketaatan Kepada Suami Berhadapan dengan Ketaatan kepada Orang Tua

Ketika Ketaatan Kepada Suami Berhadapan dengan Ketaatan kepada Orang Tua

30 September 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.