Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), kita telah mempelajari proses terjadinya hujan melalui beberapa tahapan, yaitu evaporasi dan transpirasi, kondensasi, adveksi, serta presipitasi. Secara sederhana, air menguap akibat panas matahari, kemudian mengalami kondensasi hingga membentuk awan. Selanjutnya, pergerakan angin memindahkan massa udara yang mengandung uap air, sebelum akhirnya air turun ke bumi sebagai hujan.
Menariknya, pembahasan mengenai proses terjadinya hujan juga ditemukan dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Salah satunya terdapat dalam kitab Hasyiyah Al-Baijuri, karya Syekh Ibrahim Al-Baijuri. Dalam kitab tersebut, terdapat uraian mengenai makna mā’ al-samā’ (ماء السماء) atau air hujan, sekaligus penjelasan mengenai pandangan yang dinisbatkan kepada golongan Mu’tazilah. Temuan ini memunculkan pertanyaan: apakah penjelasan mengenai proses terjadinya hujan yang kita pelajari di sekolah memiliki hubungan dengan pendapat Mu’tazilah?
Proses Terjadinya Hujan Dalam Perspektif IPA
Dalam ilmu pengetahuan modern, hujan merupakan bagian dari siklus hidrologi, yaitu perputaran air yang berlangsung secara terus-menerus di bumi. Proses ini melibatkan penguapan air dari laut dan sumber air lainnya, pembentukan awan melalui kondensasi, perpindahan massa udara oleh angin, serta jatuhnya air ke permukaan bumi melalui presipitasi.
Air hujan yang berasal dari penguapan air laut umumnya tidak memiliki kadar garam seperti air laut. Hal ini karena garam terlarut tidak ikut menguap bersama air. Setelah uap air mengalami pendinginan dan berkondensasi, butiran air di dalam awan dapat membesar hingga akhirnya jatuh sebagai hujan.
Penjelasan tersebut merupakan hasil pengamatan dan kajian ilmiah mengenai mekanisme fisik terjadinya hujan. Akan tetapi, penjelasan dalam literatur klasik tidak selalu menggunakan kerangka konseptual yang sama dengan meteorologi modern.
Penjelasan dalam Hasyiyah Al-Baijuri
Dalam pembahasannya, Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyinggung pandangan mengenai awan yang mengambil air laut, kemudian naik dan mengeluarkan air yang menjadi tawar. Beliau menuliskan:
«وما قيل من أن السحاب ينزل فى البحر الملح فيغترف منه كالسفنج ثم يرتفع وينعصر فينزل منه الماء وتقصره الرياح فيحلو فمن زعم العرب … وهو كلام المعتزلة»
Secara umum, kutipan tersebut menjelaskan pandangan bahwa awan turun ke laut yang asin, mengambil air darinya sebagaimana spons menyerap air, kemudian naik kembali dan diperas hingga air keluar. Air tersebut selanjutnya dikaitkan dengan pergerakan angin sehingga menjadi tawar. Dalam teks yang dikutip, pandangan tersebut dinisbatkan kepada Mu’tazilah.
Selain itu, Syekh Al-Baijuri membahas makna kata as-samā’ dalam konteks air hujan melalui pernyataan berikut:
وهل المراد بالسماء الجرم المعهود أو السحاب ؟؛ لأن السماء لغةً : اسم لما علا وارتفع
Artinya, apakah yang dimaksud dengan langit adalah benda langit yang telah diketahui ataukah awan? Sebab, secara bahasa, as-samā’ merupakan sebutan bagi sesuatu yang berada di atas dan menjulang tinggi.
Beliau kemudian menyatakan:
«قولان ، ولا مانع من أن ينزل من كل منهما ، فينزل من الجرم المعهود أولاً قطعاً كباراً فيتلقاه السحاب فينماع وينزل من عيون فيه كعيون الغربال»
Artinya, terdapat dua pendapat mengenai hal tersebut. Tidak ada halangan untuk mengatakan bahwa air turun dari keduanya. Air mula-mula turun dari benda langit yang dimaksud dalam bentuk bongkahan-bongkahan besar, kemudian diterima oleh awan, mencair, dan turun melalui lubang-lubang yang terdapat padanya, seperti air yang mengalir melalui lubang-lubang ayakan.
Kedua kutipan ini memperlihatkan adanya pembahasan klasik mengenai asal-usul air hujan, makna langit, dan peran awan dalam proses turunnya air. Meskipun demikian, penafsiran teknis terhadap ungkapan tersebut perlu mempertimbangkan keseluruhan konteks kitab.
Apakah Proses Hujan Dalam Pelajaran IPA Mengadopsi dari Pendapat Mu’tazilah?
Kemiripan antara pembahasan dalam kitab klasik dan pelajaran IPA memang menarik untuk diteliti. Namun, apakah hal tersebut membuktikan bahwa teori hujan modern diadopsi dari pendapat Mu’tazilah?
Secara historis, kesimpulan demikian belum dapat dipastikan kebenarannya hanya berdasarkan kemiripan objek pembahasan. Untuk membuktikan bahwa suatu teori ilmiah berasal dari pemikiran kelompok tertentu, diperlukan bukti mengenai hubungan transmisi gagasan dan perkembangan historisnya.
Selain itu, penjelasan yang dinisbatkan kepada Mu’tazilah dalam kutipan tersebut tidak sepenuhnya sama dengan teori meteorologi modern. Teori modern menjelaskan pembentukan hujan melalui penguapan, kondensasi, pertumbuhan butiran air atau kristal es, dan presipitasi. Sementara itu, kutipan klasik tersebut menggambarkan awan mengambil air laut, kemudian naik dan mengeluarkan air yang menjadi tawar.
Dengan demikian, kesamaan pembahasan mengenai air, awan, dan hujan tidak otomatis menunjukkan kesamaan teori maupun hubungan historis antara keduanya.
Penutup
Kajian terhadap Hasyiyah Al-Baijuri menunjukkan bahwa fenomena hujan telah menjadi bagian dari pembahasan intelektual ulama klasik. Syekh Al-Baijuri tidak hanya menyinggung pandangan yang dinisbatkan kepada Mu’tazilah, tetapi juga membahas perbedaan pemaknaan terhadap kata as-samā’ dan kemungkinan turunnya air dari langit maupun awan.
Oleh karena itu, pertanyaan mengenai hubungan antara penjelasan hujan dalam pelajaran IPA dan pemikiran Mu’tazilah layak dijadikan bahan penelitian lebih lanjut. Namun, diperlukan kajian historis yang lebih mendalam sebelum menyimpulkan adanya hubungan langsung di antara keduanya.
Pada akhirnya, memahami fenomena alam melalui ilmu pengetahuan dan menelaah warisan keilmuan Islam bukanlah dua kegiatan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat dikaji secara kritis dengan tetap membedakan penjelasan ilmiah mengenai mekanisme alam dari pembahasan teologis mengenai kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya.
والله أعلم بالصواب













Discussion about this post