Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Kolom

Ilmu untuk Dipamerkan atau Diamalkan? Sebuah Refleksi di Era Digital

Shidqil Adiliyah by Shidqil Adiliyah
24 Oktober 2026
A A
Ilmu untuk Dipamerkan atau Diamalkan? Sebuah Refleksi di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, tidak sedikit orang yang memiliki kapasitas intelektual yang baik. Mereka berlomba-lomba melakukan eksplorasi pengetahuan, khususnya dalam bidang keagamaan. Setelah memperoleh berbagai referensi dan wawasan, mereka kemudian mendiseminasikan teori-teori keagamaan tersebut melalui beragam platform media sosial. Fenomena ini pada akhirnya memunculkan persepsi tertentu di kalangan audiens maupun pada diri mereka sendiri, bahwa mereka telah menjadi sosok yang istimewa karena mampu menghadirkan dan menyebarkan khazanah nilai-nilai kebaikan di tengah marknya arus globalisasi.

Dengan jangkauan digital yang luas dan interaksi yang tinggi, aktivitas berbagi ilmu ini sering kali dipandang sebagai bentuk kontribusi positif dalam menjaga eksistensi nilai-nilai agama di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.

Situasi ini dipandang sebagai suatu kebaikan karena orang yang menyebarkan ilmu tidak hanya berperan dalam menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing orang lain untuk menjauhi akhlak tercela dan membiasakan diri dengan akhlak terpuji. Sebagaimana diuraikan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin:

فأشرف هذه الصناعات الأربع بعد النبوة إفادة العلم وتهذيب نفوس الناس عن الأخلاق المذمومة المهلكة وإرشادهم إلى الأخلاق المحمودة المسعدة وهو المراد بالتعليم

Artinya: “ Maka, pekerjaan yang paling mulia di antara empat pekerjaan ini setelah kenabian adalah menyampaikan ilmu, menyucikan jiwa manusia dari akhlak-akhlak tercela yang membinasakan, serta membimbing mereka menuju akhlak-akhlak terpuji yang membawa kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan ta‘lim (pengajaran).”

Namun dibalik keistimewaan itu semua, ternyata ada Sebagian oknum yang memandang fenomena tersebut sebagai salah satu bentuk pencarian validasi sosial atau yang dalam istilah populer sering disebut pansos (panjat sosial). Bentuknya pun beragam, mulai dari mengunggah story WhatsApp yang berisi cuplikan makalah dan materi kajian, hingga membuat postingan Instagram dengan tagar seperti #PemudaHijrah yang sedang ramai diperbincangkan di ruang digital.

Namun, realitas yang muncul tidak selalu sejalan dengan narasi yang mereka tampilkan. Ada yang mengisi kajian atau pengajian kampus dengan tema pentingnya memaafkan sesama, tetapi pada saat yang sama masih menyimpan residu kebencian dan dendam terhadap temannya sendiri. Ada pula yang aktif membuat konten TikTok tentang konsep zuhud dan kesederhanaan hidup, tetapi dalam praktik kesehariannya masih mengikuti gaya hidup yang dibentuk oleh tren media sosial yang sarat dengan budaya konsumtif, flexing, dan orientasi pada pengakuan publik.

Hal ini merupakan Gambaran dari pernyataan terkenal dari ulama dan sastrawan besar Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dipanggil dengan sebutan Buya Hamka, yang berbunyi “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.” Mengapa bisa demikian? Karena para pencari validasi diibaratkan seperti pencuri yang menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.

Fenomena seperti ini menunjukkan adanya kesenjangan antara wacana normatif yang disampaikan kepada khalayak dan pelaksanaannya dalam kehidupan nyata. Pertanyaannya, apakah pesan kebaikan akan memiliki daya pengaruh yang kuat jika tidak terlebih dahulu tercermin dalam perilaku orang yang menyampaikannya? Inilah refleksi yang patut direnungkan di tengah era digital, ketika citra diri dapat dibangun dengan sangat mudah, tetapi konsistensi antara ucapan dan tindakan justru menjadi tantangan yang semakin besar.

Ada sebuah hadits dari Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)

Hal serupa juga pernah disinggung oleh Imam Al-Ghazali dalam Ayyuha al-Walad:

العلم بلا عمل جنون، والعمل بغير علم لا يكون 

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Dalam dunia kedokteran, kondisi ini dapat diibaratkan seperti seorang dokter yang menganjurkan pasiennya untuk menghindari makanan cepat saji demi menjaga kesehatan, tetapi ia sendiri justru gemar mengonsumsinya. Ketidaksesuaian antara nasihat dan perilaku tersebut tentu dapat mengikis kepercayaan pasien terhadap sang dokter. Begitu pula dengan seseorang yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan, tetapi tidak berusaha menerapkannya dalam kehidupan pribadi. Lambat laun, nasihat yang disampaikan dapat kehilangan daya pengaruhnya karena tidak didukung oleh keteladanan. Pada akhirnya, kepercayaan tidak hanya dibangun melalui apa yang diucapkan, tetapi juga melalui apa yang dilakukan.

Persoalan mendasar dari fenomena tersebut bukanlah aktivitas menyebarkan ilmu agama melalui media sosial, melainkan ketika ilmu lebih banyak digunakan untuk membangun citra diri daripada memperbaiki perilaku pribadi. Seseorang dapat dengan mudah menyampaikan pentingnya memaafkan, menjaga lisan, dan hidup sederhana, tetapi belum tentu mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ilmu seharusnya tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mendorong seseorang untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki akhlaknya. Tanpa adanya upaya untuk mengamalkan ilmu, pengetahuan berisiko berhenti sebagai wacana yang terdengar baik, tetapi tidak memberikan perubahan berarti dalam kehidupan nyata.

Meskipun demikian, ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat untuk mencari validasi. Setiap manusia memiliki kekurangan dan masih berada dalam proses memperbaiki diri. Seseorang tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk menyampaikan kebaikan, tetapi ia perlu menyadari bahwa nasihat yang disampaikan kepada orang lain juga merupakan pengingat bagi dirinya sendiri.

Dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mencantumkan sebuah hadis yang berkaitan dengan persoalan ini. Tepatnya pada pentafsiran surat Al-Baqarah ayat 44.

قَالَ مَالِكٌ عَنْ رَبِيعَةَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ يَقُولُ لَهُ: لَوْ كَانَ الْمَرْءُ لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ مَا أَمَرَ أَحَدٌ بِمَعْرُوفٍ وَلَا نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ. وَقَالَ مَالِكٌ: وَصَدَقَ مَنْ ذَا الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ؟

Artinya: “Imam Malik meriwayatkan dari Rabi’ah, ia berkata: Aku mendengar Said bin Jubair berkata: ‘Seandainya seseorang tidak mau memerintahkan kebaikan dan tidak mau mencegah kemungkaran sampai dirinya bersih dari dosa (tidak ada cela sedikit pun), niscaya tidak akan ada seorang pun yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.’ Imam Malik berkata: ‘Benar sekali, siapakah orangnya yang tidak memiliki cela dosa sama sekali?’”

Hadis ini menjelaskan bahwa bukan berarti kita harus berhenti mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau menyebarkan ilmu yang dimiliki. Sebaliknya, kita tetap harus menyampaikan ilmu sembari berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ilmu tidak sekadar menjadi sarana mencari pengakuan, tetapi juga menjadi pedoman dalam bertindak. Sebab, tidak ada manusia yang sepenuhnya luput dari dosa, tetapi hal itu bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Kesimpulannya, ilmu tidak seharusnya hanya menjadikan seseorang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga mendorongnya untuk berusaha melakukan kebaikan tersebut. Di era digital, ketika citra diri dapat dibangun melalui unggahan dan kata-kata, konsistensi antara ucapan dan tindakan menjadi hal yang semakin penting. Jangan sampai kita terlalu sibuk menunjukkan kepada orang lain jalan menuju kebaikan, tetapi lupa melangkah ke arah yang sama. Sebab, ilmu bukan sekadar untuk diketahui dan disebarkan, melainkan juga untuk diamalkan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا. آمين

Shidqil Adiliyah

Shidqil Adiliyah

Ma'had Aly Darussalam Blokagung Banyuwangi

ARTIKEL TERKAIT

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?
Kolom

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

22 Oktober 2026
Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta
Kolom

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern
Kolom

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?
Kolom

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital
Kolom

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah
Kolom

Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah

6 Juni 2026

Discussion about this post

BACA JUGA

Ilmu untuk Dipamerkan atau Diamalkan? Sebuah Refleksi di Era Digital

Ilmu untuk Dipamerkan atau Diamalkan? Sebuah Refleksi di Era Digital

24 Oktober 2026
Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

Antifragile: Berhenti karena Khawatir Penilaian Orang, Mau Sampai Kapan?

22 Oktober 2026
Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

Yang Mereka Pahami tentang Ekspresi Cinta

17 Oktober 2026
Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu'tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

Proses Terjadinya Hujan, Antara Perspektif Mu’tazilah dan Ilmu Pengetahuan Modern

17 Oktober 2026
Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

Ngaji Online atau Duduk di Hadapan Guru, Di Mana Letak Barokahnya?

16 Oktober 2026
Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

Ketika Agama Kehilangan Sanad: Kritik atas Fenomena Berbicara Tanpa Ilmu di Era Digital

15 Oktober 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.