Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Uswah

Semerbak dari Pesarean Sang Guru Mursyid Tarekat an-Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi

Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA by Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA
29 September 2026
A A
Semerbak dari Pesarean Sang Guru Mursyid Tarekat an-Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi

Kisah ini berdasarkan pengalaman kami, Lora Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA. (Ketua Majelis ASHONAR Community Pantura Madura) dan K.H. Farid Ihyak Mukhtar ZA. (Pengasuh Ribath Darus Sholihin Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur), secara langsung saat merenovasi pesarean sang guru mursyid tarekat an-Naqsyabandiyah di pulau Madura sekaligus guru Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi.

Ketika kami hendak merenovasi maqbarah (pesarean) Syekh Abdul Adzim, maka kami mendatangi dan menziarahi pesarean beliau terlebih dahulu. Sebab, kami mendapati kabar dari juru kunci setempat bahwa jangankan direnovasi, lampu yang ada di pesarean Syekh Abdul Adzim saja setiap kali diganti yang baru akan cepat mati. Bahkan, sekalipun dibelikan lampu yang mahal tetap cepat mati dengan estimasi waktu satu minggu.

Oleh karena itu, kami sempat bingung terhadap rencana yang akan kami lakukan karena khawatir beliau tidak suka (tidak rida) jika maqbarahnya direnovasi. Namun, kami mengukuhkan niat untuk tetap melakukan renovasi terhadap maqbarah tersebut. Akhirnya kami mendatangi maqbarah beliau pada waktu tengah malam. Kami tiba di kompleks pesarean beliau pada jam 01.00 WIB. Waktu itu hanya ada kami berdua di pesarean beliau. Sesampainya di sana, seperti biasa kami membaca Yasin dan tahlil bersama.

Setelah kami selesai membaca Yasin dan tahlil, maka Lora Farid berbisik di maqbarah beliau dalam rangka meminta izin untuk merenovasi maqbarah tersebut. Sebab, kami berdua masih mempunyai hubungan kekeluargaan dari jalur nasab ayah kepada Syekh Abdul Adzim an-Naqsyabandi. Lalu, kami pulang menuju Burneh untuk istirahat sekaligus menemui dua tukang yang sedang merenovasi pesarean K.H. Mudarik. Pada saat itu, kami mempunyai misi merenovasi tiga pesarean sesepuh kami, yaitu (1) pesarean guru mursyid tarekat an-Naqsyabandiyah, Syekh Zainal Abidin an-Naqsyabandi, di Kwanyar, Bangkalan, (2) pesarean K.H. Mudarik (ayah Syekh Zainal Abidin an-Naqsyabandi) di Jembuh, Burneh, Bangkalan, dan (3) pesarean Syekh Abdul Adzim an-Naqsyabandi di Mlajeh, Bangkalan. Misi renovasi tiga pesarean leluhur kami ini terlaksana dengan estimasi waktu 20 hari, dan kami ditemani oleh dua orang tukang dalam proses renovasi ini.

Ketika kami istirahat (tidur) di Jembuh, Burneh, maka Lora Farid dan dua tukang didatangi oleh Syekh Abdul Adzim dalam mimpi. Mimpi tersebut kurang lebih seperti ini. Lora Farid bermimpi menggali pesarean Syekh Abdul Adzim sampai kain kafan dan wajah beliau kelihatan. Maka, Lora Farid meminta izin kepada beliau untuk merenovasi maqbarah tersebut. Lalu, beliau menjawab dengan bahasa Madura, “Iyeh (iya).” Begitu pula dengan dua tukang yang akan merenovasi maqbarah Syekh Abdul Adzim bermimpi membongkar maqbarah beliau dan memecahkan dinding keramik yang menempel di maqbarah beliau menggunakan palu, linggis, dan betel. Ajaibnya pada malam itu kami terbangun semua secara bersamaan, dan kemudian menceritakan mimpi tersebut. Akhirnya waktu salat Subuh tiba, lalu kami melaksanakan salat Subuh berjemaah.

Singkat cerita banyak sekali kejadian mistis yang kami alami saat melakukan renovasi maqbarah Syekh Abdul Adzim. Yah, memang pesarean beliau terletak di kompleks pemakaman umum. Ketika kami selesai merenovasi maqbarah beliau selama kurang lebih tujuh hari, maka kami berkemas dan bergegas untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Tiba-tiba kami mengalami kejadian yang aneh, yaitu tiga motor yang kami kendarai mati semua alias mesinnya tidak bisa dihidupkan. Kejadian aneh tersebut terjadi pada malam Jumaat jam 22.30 WIB. Oleh karena itu, kami kebingungan harus ke mana.

Ceritanya pada waktu pagi ketika proses renovasi maqbarah tersebut hampir selesai, Lora Farid mengajak kami untuk membaca maulid aḍ-Ḍiyā’ al-Lāmi‘ karya Sayyidil Habib Umar bin Hafiz di samping pesarean Syekh Abdul Adzim sebelum pulang ke rumah masing-masing seraya berkata, “Mari nanti kita baca maulid aḍ-Ḍiyā’ al-Lāmi‘. Pahalanya kita hadiahkan kepada Syekh Abdul Adzim agar kita mendapatkan berkah dari beliau.” Namun, ternyata proses renovasi tersebut belum selasai, padahal waktu sudah malam, yaitu sekitar jam 20.00 WIB. Oleh karena itu, kami menggenjot pengerjaan renovasi maqbarah tersebut sehingga selesai sekitar jam 22.30 WIB. Akhirnya kami tidak jadi membaca maulid dan memilih langsung pamit untuk pulang karena sudah kecapaian.

Namun, ternyata motor kami tidak bisa menyala semua sehingga membuat kami bingung. Nah, di tengah kebingungan tersebut Lora Farid memiliki firasat untuk melakukan pembacaan maulid bersama dan maḥallul qiyām di pesarean Syekh Abdul Adzim sebagaimana yang diniatkan pada pagi harinya. Menurut Lora Farid, mungkin salah satu faktor kenapa motor kami tidak menyala adalah karena kami belum membaca maulid dan maḥallul qiyām sehingga Syekh Abdul Adzim belum mengizinkan kami pulang. Oleh karena itu, Lora Farid mengajak kami untuk membaca maulid terlebih dahulu dan bersabar barang sejenak meskipun sudah letih.

Ajaibnya ketika kami membaca maulid dan maḥallul qiyām, rasa capai dan penat hilang seakan-akan kami tidak pernah bekerja sebelumnya. Suasana sangat hening penuh khusyuk. Bahkan, batin kami merasa puas dan khusyuk sehingga semuanya berjalan secara semupurna dan khidmat. Maka, kami tidak terasa menangis di pesarean tersebut seakan-akan Syekh Abdul Adzim ada di hadapan kami. Begitulah suasana yang kami rasakan. Kami terus terlena dalam kekhusyukan, hening dalam pikiran, serta tenang dalam jiwa seakan-akan beliau mendoakan kami dan bercengkerama dengan kami.

Pada saat maḥallul qiyām, kami mencium aroma yang sangat harum sehingga aroma tersebut semakin menambah kekhusyukan kami semua seakan-akan itu adalah tanda bahwa beliau, ṣāḥib al-maqbarah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi, ada di hadapan kami. Kami berdoa dan merintih bersama di pesarean beliau dengan harapan mendapatkan berkah dunia akhirat serta syafaat Rasulullah saw. dan syafaat wali Allah Swt. Ketika kami izin dan pamit untuk pulang, ajaibnya tiga motor itu langsung bisa distarter dan menyala seperti sediakala. Akhirnya kami pulang dalam kelapangan, kepuasan, serta kegembiraan seakan-akan kami mendapatkan naẓrah (pandangan dan perhatian) khusus dari ṣāḥib al-maqbarah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi. Semoga kita semua mendapatkan berkah beliau. Amin. Al-Fatihah. (Tulisan ini diedit oleh Nasrullah Ainul Yaqin dan ditashih oleh K.H. Farid Ihyak Mukhtar ZA. dan Lora Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA.)

Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA

Abd. Adzim Ihyak Mukhtar ZA

Ketua Majelis ASHONAR Community Pantura Madura

ARTIKEL TERKAIT

KH Abdul Karim
Uswah

Belajar yang Tak Pernah Usai: KH Abdul Karim dan Keinginan Diakui sebagai Santri Syaikhona Kholil Bangkalan

15 Februari 2026
Ketika Nabi Muhammad SAW Tidak Punya Uang
Uswah

Ketika Nabi Muhammad SAW Tidak Punya Uang

14 Januari 2026
Ketika Surga Terasa Lebih Dekat: Kisah Perpisahan Fathimah Az-Zahra
Uswah

Ketika Surga Terasa Lebih Dekat: Kisah Perpisahan Fathimah Az-Zahra

1 Januari 2026
Ketekunan Mengalahkan Kebodohan
Uswah

Ketekunan Mengalahkan Kebodohan: Studi Kasus Al-Muzani dalam Tradisi Ilmiah Islam

26 Juli 2025
R.K.H. Muhammad Syamsul Arifin
Tokoh

R.K.H. Muhammad Syamsul Arifin, Bapak Pembaruan Banyuanyar yang Arif dan Berkemajuan

26 Juni 2025
Ketika Syaikh Baqir Al-Jugjawi Diminta Pulang oleh Pamannya, KH. Ahmad Dahlan
Uswah

Ketika Syaikh Baqir Al-Jugjawi Diminta Pulang oleh Pamannya, KH. Ahmad Dahlan

23 Agustus 2025

Discussion about this post

BACA JUGA

Semerbak dari Pesarean Sang Guru Mursyid Tarekat an-Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi

Semerbak dari Pesarean Sang Guru Mursyid Tarekat an-Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Adzim al-Maduri an-Naqsyabandi

29 September 2026
Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah

Melemahnya Rupiah dari Sudut Pandang Ekonomi Syariah

6 Juni 2026
Apakah Anak Kecil Mendapatkan Pahala Tatkala Melakukan sebuah Kebaikan?

Apakah Anak Kecil Mendapatkan Pahala Tatkala Melakukan sebuah Kebaikan?

25 Mei 2026
Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

Harusnya Lebih Mengedepankan Uswatun Hasanah daripada Mau‘izhah Hasanah

24 Mei 2026
Ah.. Saya Ingin Melihat Santri Menulis

Ah… Saya Ingin Melihat Santri Menulis

22 Mei 2026
Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

Menjadikan Agama sebagai Kedok Maksiat: Kritik Imam al-Ghazali terhadap Riya’ yang Paling Buruk

14 Mei 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.