Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
No Result
View All Result
Sungkem Kiai
No Result
View All Result
  • Kolom
  • Telaah
  • Khazanah
  • Mozaik
  • Syariah
  • Tasawuf
  • Uswah
  • Tokoh
  • Doa
  • Khutbah
Home Tasawuf

Membedah Kritik Syekh Abi Fadhol Senori Terhadap Tradisi Weton

M. Abu Rizal Azizy by M. Abu Rizal Azizy
19 April 2026
A A
Membedah Kritik Syekh Abi Fadhol Senori Terhadap Tradisi Weton

Ilustrasi. (Sumber: kratonjogja.id)

Di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman, masyarakat Jawa tetap memegang teguh warisan leluhur yang tertuang dalam sistem penanggalan dan perhitungan weton. Praktik ini bukan sekadar urusan angka, melainkan telah menjadi “kompas spiritual” yang mengatur berbagai sendi kehidupan. Penentuan hari baik dan hari buruk sering kali menjadi syarat mutlak sebelum melangsungkan hajatan besar seperti pernikahan, renovasi rumah, hingga memulai perjalanan jauh.

Secara psikologis, tradisi ini dipandang sebagai bentuk kehati-hatian untuk mengundang keberuntungan (ngalap berkah) sekaligus membentengi diri dari malapetaka. Namun, dari sudut pandang teologis, praktik yang menyandarkan nasib pada hitungan waktu ini memicu diskursus serius mengenai batas-batas toleransi budaya dalam Islam.

Salah satu kritik paling fundamental dan tajam terhadap fenomena ini datang dari Syekh Abi Fadhol Senori, seorang ulama kharismatik asal Tuban yang dikenal lewat kedalaman ilmunya. Dalam mahakaryanya yang berjudul Ad-Durrul Farid fi Syarhi Jauharah at-Tauhid, beliau memberikan tinjauan tajam mengenai sinkretisme antara adat dan agama. Beliau mengategorikan praktik pemilihan hari berdasarkan weton sebagai tindakan yang menyimpang dari tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

وهؤلاء الذين يفعلون هذه الأفعال الخارجة عن الكتاب والسنة أنواع -إلى أن قال- ويدخل في ذلك ما فعله كثير من الجهلاء من أهل جاوه بل ومن ينتسب إلى العلم من اختيار الأيام وحساب اسم الرجل والمرأة أيام ولادتها بكifيات مخصوصة عند إرادة التناكح وغيره اهـ

Artinya: ” dan termasuk ke dalam perbuatan-perbuatan yang keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah adalah apa yang dilakukan oleh banyak orang awam (bodoh) dari penduduk Jawa, bahkan orang yang menisbatkan diri pada ilmu agama sekalipun, yakni memilih hari dan menghitung nama laki-laki dan perempuan serta hari kelahiran mereka dengan tata cara khusus ketika hendak melangsungkan pernikahan dan selainnya.”

Melalui kutipan tersebut, Syekh Abi Fadhol menyoroti sebuah realitas sosial di mana praktik ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan awam, tetapi ironisnya juga merambah ke individu-individu yang mengaku sebagai penuntut ilmu agama.

Inti dari kekhawatiran Syekh Abi Fadhol adalah potensi rusaknya fondasi akidah. Beliau mengamati adanya bahaya laten ketika seseorang mulai memercayai bahwa suatu hari tertentu atau kombinasi nama memiliki kekuatan tersendiri (quwwah dzaatiyyah) untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup manusia.

Terdapat beberapa poin krusial terkait dampak ini:

  • Pergeseran Otoritas Takdir: Jika seseorang meyakini bahwa hasil perhitungan weton adalah penentu mutlak nasib tanpa menyandarkannya pada kehendak Allah SWT, maka ia telah meragukan kemutlakan takdir Ilahi.
  • Lubang Kesyirikan: Keyakinan bahwa hari tertentu “sanggup” mendatangkan mudarat atau manfaat secara mandiri dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa syirik, yang merupakan pelanggaran paling berat dalam tauhid.
  • Melukai Tawakal: Alih-alih bersandar pada doa dan usaha maksimal yang disandarkan kepada Allah, pelaku weton cenderung lebih “takut” pada angka hasil hitungan daripada ketetapan Sang Pencipta.

Kesimpulan: 

Menyikapi eksistensi weton memerlukan kearifan yang didasari oleh kecerdasan spiritual. Budaya memang merupakan kekayaan bangsa, namun ia tidak boleh menggerus prinsip-prinsip ketuhanan yang bersifat absolut. Berdasarkan tinjauan Syekh Abi Fadhol Senori, menjaga kemurnian iman adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar.

Bagi seorang muslim yang bijak, mengakui bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Dzat yang memberikan manfaat dan menolak mudarat adalah kunci utama keselamatan. Melestarikan budaya Jawa boleh saja dilakukan dalam koridor estetika atau sejarah, namun untuk urusan keyakinan dan nasib, seorang hamba harus kembali pada prinsip tawakal yang lurus, menempatkan syariat sebagai filter utama di atas segala aturan adat yang ada.

M. Abu Rizal Azizy

M. Abu Rizal Azizy

Mahasantri Ma'had Aly Darussalam Blokagung

ARTIKEL TERKAIT

Makrifat Zikir Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī
Tasawuf

Makrifat Zikir Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī

12 Maret 2026
Jejak Sunyi Tasawuf Lokal “Membaca Dakwah Syekh Abdurrahman Bauzier”
Tasawuf

Jejak Sunyi Tasawuf Lokal: Membaca Dakwah Syekh Abdurrahman Bauzier

1 Januari 2026
Di Balik Wirid yang Tenang: Kisah Laku Tijaniyah
Tasawuf

Di Balik Wirid yang Tenang: Kisah Laku Tijaniyah

30 Desember 2025
Adab dan Tasawuf di Era Modern: Belajar dari Tweet-an Habib Husein Ja’far
Tasawuf

Adab dan Tasawuf di Era Modern: Belajar dari Tweet-an Habib Husein Ja’far

30 Desember 2025
Dari Antroposentris ke Teosentris: Nilai Tauhid dalam Komunikasi Transendental Modern
Tasawuf

Dari Antroposentris ke Teosentris: Nilai Tauhid dalam Komunikasi Transendental Modern

2 Desember 2025
KH. M. Afifuddin Dimyathi, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang
Tasawuf

Hidup dengan Ihsan: Telaah Konsep Ihsan pada QS. Al-Baqarah Ayat 195 dalam Tafsir Hidayatul Qur’an Karya KH. M. Afifuddin Dimyathi

12 Oktober 2025

Discussion about this post

BACA JUGA

Kita Itu Sukses Di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

Kita Itu Sukses di Versi Masing-Masing, Stop Menilai Hidup Orang di Momen Lebaran

29 Maret 2026
Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

Belajar Luhur dari Pitutur Leluhur

17 Maret 2026
Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?

Sudahkah Kita Menghargai Tangan-Tangan yang Menumbuhkan Pangan?

4 Maret 2026
Catatan Ngaji KH. An’im (2): Fokus Melangkah dan Berbenah Diri, Abaikan Penilaian Orang Lain

Catatan Ngaji KH. An’im (2): Fokus Melangkah dan Berbenah Diri, Abaikan Penilaian Orang Lain

3 Maret 2026
Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

Catatan Ngaji KH. An’im (1): Keilmuan Mbah Dim dan Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

24 Februari 2026
As-Siroj Al-Munir, Karya Ulama Alexandria yang Serasi Dengan Suasana Keislaman di Madura

As-Siroj Al-Munir, Karya Ulama Alexandria yang Serasi Dengan Suasana Keislaman di Madura

24 Februari 2026
  • Tentang
  • Kirim Tulisan
  • Kontributor
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.

No Result
View All Result

Copyright © 2025 sungkemkiai.com - All rights reserved.