Pendidikan anak merupakan bagian penting dalam keluarga, sebab anak adalah anugerah Allah yang harus dijaga dan dituntun dengan penuh tanggung jawab. Orang tua tidak hanya wajib memenuhi kebutuhan material, tetapi juga harus memberikan pendidikan, pembinaan akhlak, dan menanamkan nilai-nilai agama. Meski ketegasan diperlukan untuk melatih kedisiplinan serta pemahaman baik dan buruk, mendidik anak harus tetap berlandaskan kasih sayang agar tidak menimbulkan tekanan dan dampak negatif bagi perkembangan mereka.
Salah satu pola pengasuhan yang menjadi perhatian adalah parenting VOC. Istilah ini menggambarkan pola asuh yang bersifat otoriter, konservatif, menekan anak secara berlebihan, bahkan bercorak militer. Dalam pola tersebut, orang tua cenderung menempatkan perintah sebagai sesuatu yang harus ditaati tanpa bantahan. Anak tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat, keluhan, maupun perasaannya. Pola seperti ini juga dapat berlangsung secara turun-temurun karena orang tua menganggap metode yang dahulu diterimanya merupakan salah satu cara yang efektif dalam mendidik anak.
Dalam perspektif fikih, kewajiban orang tua dalam mendidik anak tidak dapat dilepaskan dari prinsip maslahat. Hashiyah al-Jamal ‘ala fath ala manhaj menjelaskan bahwa orang tua berkewajiban mencegah anak dari perkara yang diharamkan, mengajarkan kewajiban agama, serta membimbing mereka dalam berbagai syariat. Namun, pendidikan tersebut harus tetap mempertimbangkan kemaslahatan anak. Bahkan, dijelaskan bahwa ukuran dalam memberikan pendidikan pada anak bukan semata-mata hanya sesuai dengan keinginan orang tua, melainkan apa yang benar-benar bisa memberikan manfaat bagi anak tersebut nanti kedepanya.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa orang tua memiliki kewenangan dalam memberikan latihan dan pembiasaan kepada anak. Dalam Tahrir al-Maqal fi Adab wa Ahkam wa Fawa’id Yahtaj Ilayha Mu’addibu al-Atfal menukil pendapat Imam al-Nawawi yang membolehkan seorang ayah memperlakukan anaknya dalam hal-hal yang mengandung unsur latihan, pendidikan, dan pembinaan yang beorientasi pada kebaikan. Bahkan, dalam konteks tertentu, terdapat kebolehan memberikan hukuman sebagai bagian dari proses pendidikan. Akan tetapi, tujuan utama tindakan tersebut tetap berkaitan dengan pembinaan dan perbaikan anak.
Kebolehan tersebut tidak berarti bahwa setiap hukuman yang melahirkan tekanan pada anak dapat dibenarkan. Tahrir al-Maqal juga memberikan batasan bahwa tindakan memukul anak hanya berkaitan dengan adanya tujuan untuk memperbaiki perilaku. Dalam perkara tertentu, seorang pendidik bahkan harus memiliki kepastian mengenai kesalahan yang dilakukan anak sebelum memberikan hukuman. Hal tersebut menunjukkan bahwa tindakan disiplin dalam pola asuh bukanlah wadah pelampiasan emosi orang tua, melainkan sebuah metode edukatif yang berlandaskan dasar dan tujuan yang rasional.
Batasan tersebut semakin jelas melalui ungkapan syekh muhammad ibn ismail al amir al shan’ani dalam al-Tanwir Syarh al-Jami‘ al-Shaghir. Disebutkan bahwa orang tua hendaknya mendidik dengan akhlak yang baik, tutur kata yang lembut, dan memaklumi sebagian perilaku anak yang memang tidak dapat dihindari. Bahkan, perlakuan buruk terhadap anak dapat menjadi sebab munculnya sikap durhaka. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan anak sangat dipengaruhi oleh cara orang tua mendidik dan memperlakukan mereka sehari-hari.
Pandangan tersebut juga dikuatkan dengan pemikiran Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya, Ia menjelaskan bahwa kekerasan dan tekanan yang berlebihan dalam proses pendidikan dapat memberikan dampak buruk terhadap perkembangan anak. Pendidikan yang dibangun dengan kekerasan dan paksaan dapat mempersempit kebebasan jiwa, menghilangkan semangat, mendorong kemalasan, serta menyebabkan anak terbiasa melakukan kebohongan dan tipu daya karena takut terhadap hukuman. Karena itu, pendidik atau orang tua dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam menerapkan kekerasan kepada anak.
Berdasarkan berbagai keterangan tersebut, dapat dipahami bahwa fikih memberikan ruang bagi orang tua untuk menerapkan ketegasan dalam pendidikan anak selama tindakan tersebut memiliki tujuan yang benar dan memberikan kemaslahatan. Ketegasan dapat berupa pemberian aturan, pembiasaan, teguran, maupun hukuman dalam batas tertentu. Akan tetapi, ketika cara tersebut menimbulkan kerusakan fisik, perubahan perilaku yang negatif, ketakutan berlebihan, atau menghilangkan tujuan pendidikan itu sendiri, maka penerapannya perlu dihentikan.
Parenting VOC tidak dapat dinilai hanya berdasarkan adanya ketegasan atau hukuman dalam pengasuhan. Dalam perspektif fikih, orang tua memang memiliki kewenangan untuk mendidik, melatih, mendisiplinkan, dan memberikan hukuman tertentu kepada anak demi meperbaiki perilaku. Namun, kewenangan tersebut harus dibatasi oleh tujuan kemaslahatan dan perbaikan yang jelas. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua tidak boleh berubah menjadi tekanan yang merusak perkembangan anak. Karena itu, ketegasan dalam pengasuhan seharusnya berjalan bersama dengan kelembutan, pertimbangan terhadap kondisi anak, serta orientasi pada pembentukan spiritual, akhlak, kemandirian, dan kepribadian yang baik.
Referensi:
تحرير المقال في آداب وأحكام وفوائد يحتاج إليها مؤدبوا الأطفال (ص: (65
هل من حق المعلم إرسال الطلاب في البحث عن زملائهم؟ وأما الجواب عن المسألة الثانية وهي قوله: وهل له أن يرسل بعضهم خلف بعض إلى آخره…. فهو أن النووي أفتى تبعا لابن الصلاح رحمهم الله تعالى وإيانا – بأنه يجوز للاب استخدام ولده فيما فيه تدريبه وتأديبه ؛ وحسن تربيته ونحو ذلك
حاشية الجمل على المنهج
أما لو كانت المصلحة في تعليمه صنعة ينفق على نفسه منها مع احتياجه إلى ذلك وعدم تيسر النفقة له إذا اشتغل بالقرآن فلا يجوز لوليه شغله بالقرآن ولا بتعلم العلم بل يشغله بما يعود عليه منه مصلحة وإن كان ذكيا وظهرت عليه علامة النجابة لو اشتغل بالقرآن أو العلم نعم ما لا بد منه لصحة عبادته يجب عليه تعليمه له ولو كان بليدا ويصرف أجرة التعليم من ماله على ما مر ولا فرق فيما ذكر من التفصيل بين كون أبيه فقيها أو لا بل المدار على ما فيه مصلحة للصبي فقد يكون الأب فقيها وتدعو الضرورة إلى تعليم الابن
صنعة ينفق على نفسه منها ا ه ع ش
التنوير شرح الجامع الصغير جـ 2 ص 518 المؤلف: محمد بن إسماعيل بن صلاح بن محمد الحسني
أعينوا أولادكم على البر، من شاء استخرج العقوق من ولده (طس) عن أبي هريرة (ض) .
أعينوا أولادكم على البر) أي بحسن الخلق ولين الخطاب واغتفار ما لا يخلو عنه الولد من الأمور التي تأباها النفس من الأب فهو إرشاد للآباء على تحصيل البر من الأبناء ويأتي حديث: “رحم الله من أعان ولده على بره” من شاء
استخرج العقوق من ولده بأن يسيء إلى ولده فإن الطبع البشري يقتضي مقابلة الإساءة بالإساءة فالاستخراج للعقوق يكون بالإساءة إلى الولد وحينئذ يكون الوالد أثمًا بالإساءة إلى ولده لأنه حمله على المعصية (طس (2) عن أبي».
مقدمة ابن خلدون جـ 1 ص 743
الفصل الأربعون في أن الشدة على المتعلمين مضرة بهم وذلك أن إرهاف الحد بالتعليم مضر بالمتعلم سيما في أصاغر الولد لأنه من سوء الملكة
فينبغي للمعلم في متعلمه والوالد في ولده أن لا يستبدا [1] عليهما في التأديب













Discussion about this post