Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk menjadi baik secara moral. Akan tetapi keinginan menjadi baik itu dalam masyarakat modern sering bermasalah karena mereka sering menjadikan hati nurani (dhamir) sebagai satu-satunya dasar moral. Permasalahan utamanya adalah, hati nurani dididik dan dibentuk oleh dan dalam ragam masyarakat yang berbeda-beda. Yang terjadi kemudian adalah, baik bagi kita belum tentu baik menurut orang lain, disusul dengan ragam persoalan antar individu dan sosial.
Dalam sebuah potongan video pengajian keagamaan yang tersebar di beberapa platform media sosial, Gus Abdul Qoyyum Mansur menyampaikan pengakuan bahwa ia sedang mempelajari apa yang ia sebut dengan “psikologi akhirat”. Menurut Kiai pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem itu, dalam ilmu kedokteran ada ilmu patologi, atau ilmu yang mempelajari suatu penyakit.
Patologi memang merupakan cabang dari ilmu kedokteran yang khusus memperlajari tentang asal usul, struktur sel dan perkembangan, jaringan yang rusak hingga mempelajari pengaruh suatu penyakit terhadap tubuh manusia. Patologi menjadi penghubung antara sains dan kedokteran dasar dan praktik klinis untuk menghasilkan sebuah diagnosis yang jelas dan pasti.
Dalam persepektif Al-Qur’an, patologi pada umumnya menyangkut patologi sosial dan penyakit batin dan moral. Patologi Al-Qur’an menyangkut soal penyakit atau penyimpangan yang mengganggu dan merusak tatanan jiwa manusia, kehidupan sosial yang bertentangan dengan firman Allah SWT.
Menurut Gus Qayyum, penyakit jiwa pertama yang disebut dalam Alquran adalah ragu atau skeptis, sebagaimana dalam awal Surat Al-Baqarah, Allah SWT berfirman:
.الۤمّۤ.ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
Gus Qayyum kemudian menambahkan tentang penyakit jiwa terakhir dalam Al-Qur’an yang juga berupa ragu atau skeptis, sebagaimana dalam Surat An-Nas, Allah SWT berfirman:
.مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Artinya: “Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia.”
Kata “raiba” pada awal Surat Al-Baqarah dan kata “waswas” pada Surat An-Nas menurut Gus Qayyum sama-sama bermakna skeptis atau ragu. Keduanya merupakan penyakit jiwa di dunia, atau penyakit jiwa yang tidak dibawa mati sampai kepada alam akhirat.
Terdapat satu penyakit jiwa menurut Gus Qayyum yang akan dibawa mati oleh manusia sampai ke akhirat, penyakit tersebut adalah penyakit dendam (gill). Orang mati yang kemudian dikubur, di alam kubur orang itu masih memiliki dendam. Sebab itu kemudian manusia di alam akhirat akan saling tuntut menuntut. Dendam dalam diri manusia masih akan terus ada ketika manusia keluar dari dalam kubur, dalam hari-hari akhirat seperti ketika manusia dalam proses timbangan amal, di atas shirath. Setelah manusia benar-benar masuk surga, dendam itu kemudian dicabut oleh Allah SWT. Menurut Gus Qayyum sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr:
.وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
Artinya: “Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka. Mereka bersaudara (dan) duduk berhadap-hadapan di atas dipan.”
Dalam akhir potongan video pengajian itu, Gus Qayyum menyampaikan dan menganjurkan kepada kita untuk berdoa agar supaya kita tidak punya dendam kepada orang yang beriman, doa tersebut sebagaimana dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Ketika sedang menyampaikan sebuah hadits Nabi dalam kesempatan ceramah agama, penulis teringat pada apa yang disampaikan Gus Qayyum Mansur yang berkaitan dengan hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
بَيْنَ اْلعَبْدِ واَلْجَنَّةِ سَبْعُ عَقَباَتٍ، أَهْوَنُهاَ اَلْمَوْتُ، وَأَصْعَبُهاَ اَلْوُقُوْفُ بَيْنَ يَدي اللهِ، اِذاَ تَعَلَّقَ اَلْمَظْلُوْمُوْنَ باِلظاَّلِميْنَ
Artinya: “ Di antara seorang hamba dan surga terdapat tujuh pemisah, yang paling mudah dari pemisah itu adalah kematian, sedangkan yang paling sulit adalah berdiri di hadapan Allah SWT, ketika orang-orang yang teraniaya menuntut pertanggungjawaban para penganiaya .”
Menurut penulis, agar kita menjadi baik, tidak menciptakan dendam dalam diri orang lain, yang dendam itu akan dibawa mati, menjadi bahan perkara di hadapan Allah SWT, perkara yang bisa saja mengantarkan kita ke dalam neraka, Islam harus menjadi dasar utama bagi moralitas, karena kebaikan yang diajarkan Islam menyangkut kehidupan di dunia dan di akhirat, tidak hanya di dunia saja.













Discussion about this post